
Setelah hampir dua jam lamanya Aga pergi bersama Anjani, akhirnya Aga pun kembali dengan membawa sebuah dokumen di tangannya. Amara yang melihat kedatangan Aga pun tersenyum saja tanpa bersuara pada Aga.
Aga yang melihat senyuman di wajah Amara pun ikut tersenyum dengan tipis. Tanpa di duga oleh Amara, ternyata Aga tidak langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya justru menghampiri meja kerjanya.
"Satu minggu lagi saya akan pergi ke kota B melihat proyek pembangunan komplek perumahan di sana." Ucap Aga.
"Apa saya juga ikut, Tuan?" Amara memastikan karena satu bulan belakang ini Aga tak lagi mengajaknya jika ada pekerjaan di luar kota.
"Tentu saja. Maka dari itu saya memberitahukannya kepadamu dari sekarang."
Amara menganggukan kepalanya. Tiba-tiba saja Amara teringat akan sesuatu jika proyek pembangunan perumahan yang Aga maksud adalah salah satu proyek kerja sama perusahaan mereka dengan perusahaan keluarga Anjani.
"Apa Nona Anjani akan ikut, Tuan?" Tanya Amara memastikan.
Aga menjawab dengan anggukan kepala. Melihat anggukan kepala Aga membuat Amara dapat membayangkan bagaimana tidak enaknya kepergian mereka nanti karena ada sosok Anjani di dekat mereka.
"Apa aku akan melihat kebersamaan mereka selama berada di kota B nanti?" Tanya Amara dalam hati.
Aga pun akhirnya melangkah meninggalkan meja kerja Amara setelah tidak ada lagi hal yang harus ia bicarakan dengan Amara.
__ADS_1
"Sudahlah, Mara, kuatkan hatimu dari sekarang. Belajarlah menerima Rendra agar kau bisa merasakan bahagia karena bisa merasakan dicintai bukan hanya mencintai."
*
Siang sudah berganti malam. Amara yang malam itu sudah membuat janji pergi dengan Rendra pun nampak sudah selesai bersiap di dalam kamarnya menunggu kedatangan Rendra.
Zeline yang baru saja sampai di rumah Amara bersama Daniel, Naina dan Ziko pun lantas saja masuk ke dalam kamar Amara untuk menemui Amara.
"Zeline?" Amara tersenyum melihat kedatangan keponakan centilnya.
"Anty Mara mau kemana?" Tanya Zeline melihat penampilan Amara yang seperti ingin bepergian.
"Om Rendra?" Ulang Zeline sambil mengingat wajah Rendra yang sudah ia temui beberapa kali. "Anty pergi berdua saja dengan Om Rendra?" Tanyanya.
"Iya."
"Kenapa berdua saja Anty tuh? Anty Gatha tidak ikut?"
"Tidak. Anty Gatha tidak diajak."
__ADS_1
Zeline menatap wajah Amara dengan kedua kelopak mata berkedip-kedip.
"Zel mau ikut boleh? Mau Zel tuh naik biang lala, beli jasuke dan telur gulung di pasar malam." Pinta Zeline.
Amara menggoyangkan jari telunjuknya. "Tidak boleh. Hari sudah malam dan lagi pula Mamahmu tidak akan memperbolehkanmu untuk pergi malam-malam begini."
"Yah, Anty..." Zeline mulai merengek karena ia sangat ingin ikut menikmati wahana yang ada di pasar malam.
Amara yang tidak ingin Zel ikut bersamanya karena hari sudah malam pun mencoba memberikan pengertian pada Zeline.
"Main di rumah saja ya sama adik Ziko dan Nenek. Masa baru sampai di rumah Nenek sudah mau pergi lagi." Ucap Amara.
Zeline menatap wajah Amara dengan bibir mengerucut tajam. Amara yang melihatnya pun lantas saja menarik bibir panjang keponakannya itu.
Suara klakson mobil dari depan rumah mengurungkan niat Amara yang ini melanjutkan bicara dengan Zeline.
"Anty pergi dulu ya. Doakan misi Anty malam ini berjalan lancar."
"Tidak mahu Zel doakan. Zel kan maunya Anty sama Om Aga saja bukan sama Om Rendra." Sahut Zeline sambil melipat kedua tangan di dada.
__ADS_1
***