
Amara hanya bisa pasrah mengikuti semua arahan yang Agatha perintahkan. Setelah cukup banyak berpose di kamare, akhirnya Amara dapat menghembuskan napas lega karena bisa sedikit menjarak dari Aga.
"Lihatlah hasilnya. Sungguh menggemaskan!" Agatha menyerahkan ponsel milik Aga pada pemiliknya.
Aga segera menerima ponselnya tersebut. Kemudian melihat hasil foto yang diambil oleh Agatha. Sebelah sudut bibirnya tertarik ke atas melihat hasil foto sesuai dengan keinginannya. Amara yang berdiri di sebelahnya pun nampak penasaran melihat hasil foto Agatha tersebut.
"Bagaimana Mara, apa hasil fotoku bagus?" Tanya Agatha dengan bibir yang terus melengkung.
"Bagus. Kau memang hebat." Puji Amara sambil menahan rasa malu karena ia dan Aga terlihat sangag serasi di foto tersebut.
Agatha tersenyum puas mendengarnya. "Kali ini foto di nikahan orang dulu. Mana tahu selanjutnya bisa foto di nikahan sendiri." Celetuk Agatha.
"Agatha..." Amara melototkan kedua matanya. Merasa malu dengan perkataan Agatha.
Papa Andrew hanya bisa menggeleng mendengar perkataan Agatha itu.
"Kenapa sih, aku kan berdoa yang baik." Ucapnya membela diri.
__ADS_1
"Memang baik, tapi..." Amara meragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Tapi apa?" Tanya Agatha sambil menahan senyum.
"Agh, sudahlah..." Amara memilih tak melanjutkan perkataannya. Melihat itu membuat Aga diam-diam menahan senyum karenanya.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama berada di nikahan Rendra, Amara, Aga, Agatha dan Papa Andrew pun memutuskan untuk pulang.
"Hati-hati membawa calon istrinya, Kak." Goda Agatha sebelum Aga masuk ke dalam mobilnya.
Aga mengangguk seraya menarik sebelah sudut bibir ke atas. "Kau juga hati-hati di jalan." Ucap Aga.
"Apa mau singgah dulu?" Tawar Aga pada Amara yang nampak diam saja.
"Tidak, Kak. Kita langsung pulang saja."
Aga menganggukkan kepalanya. Melajukan mobil menuju arah rumah Amara berada.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Amara berdehem berniat membuka percakapan di antara mereka. "Kak Aga, apa maksud Kakak tadi mengatakan pada Tante jika aku adalah calon istri Kakak?" Tanya Amara. Sedikitnya pernyataan Aga tadi berhasil mengusik pemikiran Amara.
"Karena aku memang mengharapkanku menjadi calon istriku, Amara." Aga menyahut apa adanya. Dan jawabannya itu berhasil membuat tubuh Amara menjadi bergetar.
"Kak Aga jangan bercanda..." lirih Amara. Ia tak ingin salah paham dengan pernyataan Aga.
"Aku tidak sedang bercanda. Aku berkata serius, Mara. Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan perasaanku kepadamu? Aku harap kau tidak menganggap perkataanku hanya candaan saja."
Deg
Jantung Amara berdebar-debar tak karuan setelah mendengarnya.
"Kenapa diam saja?" Tanya Aga setelah cukup lama keheningan menyelimuti mereka.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, Kak. Untuk saat ini aku tidak ingin mengharapkan cinta dari siapa saja. Aku merasa takut untuk dicintai. Aku merasa rendah diri. Setiap kalu aku mencintai seseorang, hatiku hanya berakhir dengan luka. Pria yang aku cintai tidak bisa membalas perasaanku. Mereka selalu berujung pergi dengan wanita lain." Lirih Amara.
Dada Aga terasa teriris setelah mendengar ungkapan hati Amara. "Maafkan aku karena sudah sempat menyakitimu, Mara. Tapi sungguh, saat ini aku tidak main-main dengan perasaanku kepadamu. Aku benar sudah menaruh hati kepadamu dan aku menyesal kenapa baru menyadarinya."
__ADS_1
***
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴