
Mobil yang dikendarai oleh Cakra terus melaju menuju rumah sakit. Sisil dan Cakra yang berada di dalam mobil tersebut nampak diam satu sama lain seakan enggan untuk membuka percakapan di antara mereka.
Dalam diamnya, Sisil tengah berpikir bagaimana bisa seorang pria seperti Cakra mau membantu dirinya. Selain derajat mereka yang jauh berbeda, ia juga sadar diri jika di antara dirinya dan Cakra tidak terjalin hubungan apa-apa.
"Kenapa semuanya terasa aneh sekali." Gumam Sisil setelah cukup lama berpikir.
Terlalu larut dalam lamunannya, Sisil sampai tidak menyadari jika kini mobil yang dikendarai oleh Cakra telah memasuki area rumah sakit. Kesadarannya pun akhirnya timbul saat mendengar suara petugas parkir yang tengah mengarahkan Cakra untuk memarkirkan mobilnya.
"Loh, Tuan. Kenapa anda memarkirkan mobilnya di sini? Kenapa tidak menurunkan saya di depan saja?" Tanya Sisil dengan wajah bingung.
"Memangnya kenapa? Ada masalah?" Cakra balik bertanya.
"Bukanny begitu. Hanya saja—" perkataan Sisil terpotong sebab Cakra sudah memotongnya.
"Saya akan mengantarkan kan dan ibumu pulang ke rumah." Ucap Cakra.
__ADS_1
"Hah?" Sisil sampai terperangah mendengarnya. Bagaimana Cakra bisa tahu jika dirinya saat ini ingin menjemput ibunya pulang ke rumah?
"Jangan terlalu banyak berpikir. Lebih baik sekarang kau keluar dan jemput ibumu!" Titah Cakra.
Sisil tergugu. Semakin bingung saja ia dengan sikap Cakra saat ini. Walau pun begitu, ia tetap keluar dari dalam mobil berniat untuk menjemput ibunya ke dalam ruangan perawatannya.
Tanpa diduga oleh Sisil, ternyata Cakra juga keluar dari dalam mobil dan mengikutinya menuju ruangan perawatan ibunya berada.
"Tuan Cakra sungguh aneh sekali." Gumamnya dalam hati. Pada akhirnya Sisil membiarkan saja Cakra mengikutinya dari belakang hingga akhirnya masuk ke dalam ruangan perawatan ibunya.
Ibu Linda ikut tersenyum menatap putrinya. Kemudian pandangannya pun tertuju pada sosok pria yang sedang berjalan mengikuti Sisil dari belakang.
"Sisil, siapa pria ini Sisil?" Tanya Ibu Linda seraya tersenyum pada Cakra.
"Dia Tuan Cakra, Bu. Asisten Bos Sisil di kantor." Jawab Sisil.
__ADS_1
Cakra yang disebutkan namanya segera mendekat pada Bu Linda kemudian menyaliminya. "Saya Cakra. Teman Sisil." Ucapnya seakan mengoreksi jawaban yang Sisil berikan.
Sisil yang mendengarkannya pun memilih diam tak memberikan sanggahan apa-apa. Hingga akhirnya, ia memberitahu Ibunya jika Cakra lah orang baik yang sudah membantu biaya pengobatan ibunya.
"Apa, jadi Nak Cakra ini yang sudah membantu biaya pengobatan Ibu?" Kedua bola mata Bu Linda berkaca-kaca. Merasa haru mendengarnya.
Sisil menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan ibunya.
Ibu Linda pun mengatupkan kedua tangannya di dada pada Cakra. "Terima kasih Nak Cakra atas bantuannya untuk Ibu dan Sisil. Ibu sungguh berhutang budi pada Nak Cakra." Ucapnya tanpa sadar meneteskan air mata.
"Sama-sama, Bu. Tidak perlu merasa berhutang budi karena saya ikhlas membantu Ibu dan Sisil."
Bu Linda semakin tak kuasa untuk menahan air matanya hingga akhirnya terus mengalir membasahi kedua pipinya. Sisil yang melihat ibunya menangis pun akhirnya ikut menangis dan mengucapkan kata terima kasih kembali pada Cakra.
"Sudahlah, kau ini kenapa jadi ikut berterima kasih. Tadi kan sudah." Omel Cakra pada Sisil hingga membuat Bu Linda yang mendengarnya jadi tersenyum.
__ADS_1
***