
Kehadiran seorang pria yang kini tengah duduk di salah satu meja yang berada di sudut ruangan menjadi pusat perhatian Amara dan Agatha. Keduanya saling melempar pandangan sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandang pada sosok pria itu.
"Rendra, dia di sini juga." Ucap Amara membuka suara.
Agatha mengangguk mengiyakannya. "Kenapa dia hanya sendiri, ya. Dimana istrinya?"
Amara mengangkat kedua bahu. "Entahlah. Mungkin istrinya di rumah."
"Mungkin saja. Bagaimana kalau kita hampiri saja dia." Ajak Agatha.
Amara meragu. Namun beberapa saat kemudian ia pun mengiyakan ajakan Agatha.
Rendra yang sedang asik menyantap makanan di atas meja menghentikan kegiatannya saat mendengar suara seorang wanita yang tidak asing di telinganya.
"Rendra, kau di sini juga?" Tanya Agatha pada Rendra.
__ADS_1
"Agatha, Amara..." Rendra menatap Agatha dan Amara secara bergantian. Senyuman di wajah Rendra pun terbit melihat wanita yang masih dicintainya dan dirindukannya berada di hadapannya saat ini.
"Hay..." Amara ikut tersenyum pada Rendra yang tersenyum kepadanya.
Agatha memperhatikan raut wajah Rendra saat melihat wajah Amara. Dapat ia tebak lewat tatapan mata Rendra jika Rendra masih saja menyimpan rasa pada Amara.
"Kalian mau makan di sini juga? Kalau benar begitu gabung saja bersamaku." Tawar Rendra.
Amara tak langsung menyahut. Ia menatap pada Agatha meminta jawaban.
Agatha yang ditatap pun mengangguk mengiyakan ajakan Rendra. Walau bagaimana pun juga, Rendra adalah teman baik mereka. Menurutnya tak masalah jika mereka makan bersama dengan Rendra.
"Kau hanya sendiri di sini? Kemana istrimu. Kenapa Okta tidak makan bersama denganmu di sini?" Tanyanya penasaran.
Rendra tak langsung memberikan jawaban. Pria itu nampak menghela napas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Agatha. "Dia di rumah. Aku baru pulang bekerja dan memutusakan makan di sini." Jawabnya seadannya.
__ADS_1
Agatha memperhatikan raut wajah Rendra saat menjawab pertanyaannya. Entah mengapa dari pandangan mata Agatha saat ini Rendra menyimpan sebuah beban.
"Oh, begitu." Agatha memilih tak bertanya lebih lanjut sebab bukan ranahnya mencampuri urusan rumah tangga seseorang.
Amara segera memanggil seorang pelayan untuk mencatat menu pesanan mereka setelah melihat Agatha dan Rendra tak lagi berbicara.
Sejak Amara berbicara dengan pelayan menyebutkan pesanan makanannya dan Agatha, Rendra terus menatapnya tanpa berkedip. Dan sikap Rendra tersebut tak lepas dari pandangan mata Agatha yang terus memperhatikannya.
"Apa Kak Aga akan marah jika nanti mengetahui kami makan bersama dengan Rendra? Terlebih saat ini Rendra sepertinya masih saja menaruh hati pada Amara walau dia sudah menikah." Agatha bertanya-tanya dalam hati.
"Bagaimana keadaanmu saat ini Mara, apa kau baik-baik saja?" Tanya Rendra lembut pada Amara yang baru saja selesai membalas pesan entah dari siapa.
"Aku baik. Bahkan sangat baik." Amara tersenyum memperlihatkan dirinya benar baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu." Rendra ikut tersenyum. "Aku selalu memikirkan keadaanmu. Aku takut kau tidak baik-baik saja." Ungkap Rendra. Sampai saat ini ia masih saja menyimpan rasa bersalah yang sangat besar pada Amara karena menikah dengan wanita lain saat dirinya sudah memberikan harapan yang besar pada Amara.
__ADS_1
"Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Amara seperti itu, keadaan Amara saat ini sudah lebih baik. Apa lagi sebentar lagi dia akan menikah dengan kakakku. Benar begitu kan Mara?" Agatha tersenyum meminta persetujuan Amara tanpa memperdulikan keterkejutan Rendra setelah mendengar pernyataannya.
***