
Amara dibuat galau setelah mengetahui Aga akan pergi meninggalkannya kembali ke luar negeri beberapa minggu sebelum hari pernikahannya dan Aga dilaksanakan. Walau sangat ingin mencegah Aga agar jangan pergi, namun Amara urung untuk melakukannya sebab ia mengetahui tugas dan kewajiban Aga sebagai pemimpin di perusahaan.
"Huh, harus menahan rindu lagi deh karena Kak Aga pergi lagi ke luar negeri." Gumam Amara sambil mengetuk-ngetukkan bolpoin di tangannya ke atas meja.
Cakra yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerjanya berniat menuju ke ruangan Aga menghentikan langkah kakinya melihat Amara yang sedang termenung duduk di atas kursi kerjanya.
Ehem
Cakra berdehem cukup keras hingga membuat Amara yang sedang termenung jadi tersadar. "Tuan Cakra, ada apa?" Tanya Amara mengira jika Cakra memiliki urusan dengannya.
Cakra menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Nona. Saya hanya ingin menyadarkan anda agar tidak termenung di waktu siang bolong begini." Jawab Cakra.
Amara mencebikkan bibir. Menatap sebal pada Cakra yang tengah mencibirnya. "Sebentar aja kok menungnya. Gak lama." Protesnya.
Tak ingin berdebat, Cakra memilih mengangguk saja. Kemudian melangkahkan kaki meninggalkan meja kerja Amara menuju ruangan kerja Aga.
Masuk ke dalam ruangan Aga, Cakra disambut dengan tatapan datar Aga.
__ADS_1
"Ada apa Tuan memanggil saya?" Tanya Cakra setelah berada tepat di depan meja kerja Aga.
"Cakra, tolong kirimkan uang ke nomer rekening Amara sekarang juga." Titah Aga kemudian menyebutkan nominal uang yang harus Cakra transfer ke nomer rekening Amara.
Mendengar perintah Aga, Cakra mengerutkan keningnya. Merasa bingung kenapa Aga memintanya mengirimkan uang ke nomer rekening Amara sementara Aga bisa mengirimkannya sendiri.
"Uang itu untuk membantu biaya operasi Ibu Sisil. Amara meminta saya untuk membantu menyumbangkan uang untuk biaya operasi ibu Sisil." Ucap Aga menjawab pertanyaan yang bersarang di kepala Cakra saat ini.
Cakra tertegun mendengarnya. Amara meminta Aga untuk menyumbangkan uang untuk biaya operasi ibu Sisil? Apa itu artinya Sisil sedang membutuhkan banyak uang untuk biaya operasi ibunya?
Cakra menganggukkan kepalanya. Kemudian mengirimkan sejumlah uang ke nomer rekening Amara menggunakan mobile banking rekening Aga yang dipercayakan Aga untuk disimpan di ponselnya.
Setelah melakukan tugas dari Aga, Cakra pun berpamitan untuk kembali ke ruangan kerjanya.
Dan entah mengapa, perkataan Aga tentang biaya operasi Ibu Sisil membuat Cakra jadi kepikiran dan terngiang-ngiang.
"Sial, kenapa aku jadi memikirkan tentang dia dan ibunya terus sih. Mau ibunya dioperasi atau tidak, itu bukanlah urusanku!" Gerutu Cakra pada dirinya sendiri.
__ADS_1
**
Setelah berhasil mengumpulkan beberapa sumbangan dari keluarganya dan teman-teman dekatnya, akhirnya hari itu Amara mengajak Agatha untuk pergi ke rumah sakit tempat Ibu Sisil dirawat berniat memberikan uang sumbangan kepada Sisil.
Setibanya di ruangan perawatan Ibu Sisil, Amara dan Agatha mengerutkan kening sebab tidak melihat keberadaan siapa pun di dalam ruangan tersebut. Hanya ada tas ransel milik Sisil dan beberapa milik Sisil yang tertinggal di atas sofa.
"Kemana perginya Sisil?" Tanya Amara pada Agatha.
Agatha menaikkan kedua bahunya ke atas. "Mana aku tahu. Memangnya aku petugas di rumah sakit ini." Jawab Agatha.
Amara diam. Menebak-nebak kemanakah perginya Sisil dan ibunya.
Hingga akhirnya beberapa saat berlalu, cleaning service yang bertugas membersihkan ruangan Ibu Sisil pun masuk dan memberitahukan pada Amara dan Agatha jika Ibu Sisil sedang melakukan tindakan operasi saat ini.
"Apa? Operasi?" Ulang Amara dengan wajah terkejut.
***
__ADS_1