
Waktu istirahat siang telah tiba. Sisil dan Ane yang membawa bekal dari rumah memilih menikmati makan siang sekaligus istirahat mereka di dalam ruangan khusus OB.
Saat sudah berada di dalam ruangan dan Sisil membuka kotak bekal makanannya, Ane terkesiap melihat bekal yang dibawa Sisil hanya nasi putih dan mie goreng instan.
"Kau tidak membawa lauk yang lain, Sisil?" Tanya Ane. Dibandingkan Sisil, lauk yang dibawa Ane jauh lebih sehat. Ane membawa lauk ikan bakar beserta sayur selada.
Sisil tersenyum. Kemudian ia pun menggeleng.
"Kenapa hanya membawa bekal seperti ini, Sisil? Memangnya kau tidak memasak tadi di rumah?" Tanya Ane.
Dan lagi, Sisil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, tumben sekali?" Tanyanya bingung.
"Karena udah gak ada lagi bahan masakan di kulkas yang bisa aku masak, Ane." Jawab Sisil seadanya. Sudahlah bahan masakan tak ada, uang pun tak ada. Jadi bagaimana bisa Sisil memasak atau sekedar membeli lauk untuk bekal makan siangnya.
Ane menatap wajah Sisil dengan raut prihatin. Semenjak Ibu Sisil dirawat di rumah sakit, tabungan Sisil semakin menipis. Terlebih beberapa waktu lalu keduanya sempat dipecat dan hanya mengandalkan uang gaji terakhir dan pesangon untuk melanjutkan hidup.
Tanpa banyak bertanya lagi, Ane memilih membagi dua ikan bakar yang ia bawa. Bagian ekor ikan ia berikan pada Sisil dan bagian kepala untuk dirinya.
__ADS_1
"Ane, apa ini. Kenapa kau memberikannya kepadaku?" Sisil nampak tak enak hati.
"Karena aku mau mie goreng yang kau bawa. Kau mau kan membagikannya untukku. Kan aku sudah bagi ikanku untukmu." Jawab Ane tak ingin membuat Sisil menjadi tidak enak.
Sisil tersenyum mendengarnya. Walau pun tahu Ane hanya bersilat lidah agar dirinya merasa tak enak hati, namun Sisil tetap memberikan sebagian mie instan yang ia bawa untuk Ane.
Keduanya pun akhirnya menikmati makan siang bersama dengan sesekali diiringi cerita tentang kegiatan mereka pagi ini. Karena hari ini lantai tempat bekerja keduanya berbeda, Ane dan Sisil jadi jarang bertatap muka dan bercerita seperti biasanya.
**
Amara nampak sedang membereskan meja kerjanya saat melihat waktu pulang bekerja sudah hampir tiba. Aga yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerjanya pun menghampiri meja kerja calon istrinya itu.
"Kak Aga. Kakak sudah mau pulang?" Tanya Amara.
Aga menggelengkan kepala. "Sebentar lagi. Ada beberapa pekerjaan yang ingin aku bahas dengan Cakra sebentar."
"Oh begitu. Kalau begitu Mara akan menunggu Kakak sampai pulang."
"Jangan. Aku tidak tahu sampai jam berapa mau pulang. Lebih baik sekarang kau langsung pulang saja." Ucap Aga.
__ADS_1
Amara terdiam. Merasa tidak enak pulang lebih dulu dari Aga yang masih berstatus sebagai bosnya.
"Pulanglah lebih dulu. Bukannya sore ini Naina dan kedua anaknya akan datang ke rumah mau mengajakmu dan ibu makan di luar?"
Amara menganggukkan kepalanya. "Iya juga. Jadi gak masalah ini Kak kalau Mara pulang lebih dulu?" Tanyanya.
"Gak masalah. Lagi pula memang sudah jadwalnya kau pulang."
Amara mengangguk seraya mengulas senyum.
Sejenak Aga menatap intens wajah cantik calon istrinya itu. Entah mengapa, hanya melihat senyuman di wajah Amara saja sudah membuat Aga menjadi gemas melihatnya. Merasa tidak tahan, Aga pun berniat mengusap pipi sang calon istri.
"Amara..." Aga yang hendak mengusap pipi Amara dengan ibu jarinya seketika mengurungkan niatnya saat mendengar suara batuk dari belakang tubuhnya.
Uhuk
***
**
__ADS_1