Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Dia Sangat Tampan!


__ADS_3

Agatha dan Amara mengangguk mengiyakannya dan tak lupa berterima kasih pada pelayan tersebut. Keduanya pun melangkah ke arah lantai dua berada dengan menaiki tangga yang menjadi akses menuju lantai tersebut.


Baru saja menapakkan kaki di lantai dua, kedua bola mata Agatha sudah dibuat membola melihat sosok seorang pria yang sangat tidak ia harapkan dilihat olehnya saat ini.


"Dia!" Gumam Agatha pelan namun dapat didengar oleh Amara.


"Ada apa, Gatha?" Tanya Amara.


Agatha tak memberi jawaban. Ia justru mengajak Amara untuk pergi meninggalkan lantai dua tersebut.


"Kita di sini saja, Gatha. Kau kan sudah melihat di lantai bawah semua meja penuh dan hanya di lantai atas yang masih kosong." Tolak Amara. 


"Tapi—" Agatha hendak membantah namun Amara sudah menarik tangannya menuju sebuah meja yang masih kosong dan berada di atas balkon.


"Astaga Mara!" Agatha menggerutu dalam hati karena Amara mengajaknya duduk di meja yang berada dekat dengan pria yang sangat dihindarinya.


"Kau ini aneh sekali sih Agatha!" Amara menggelengkan kepalanya menatap Agatha yang tampak bersikap aneh.

__ADS_1


Agatha hendak menjelaskan maksud hatinya saat ini berniat mengurungkan niat Amara untuk melanjutkan niat duduk di meja tersebut. Namun niat itu terpaksa diurungkan oleh Agatha saat seorang pelayan datang menyerahkan buku menu pada mereka.


Amara langsung saja menyebutkan menu yang ia inginkan setelah melihat menu apa saja yang tersedia di buku menu. Sementara Agatha yang merasa malas untuk memilih pesanan mengikuti pesanan minuman dan makanan Amara saja.


"Sebenarny ada apa, Gatha? Kenapa kau tidak mau duduk di sini?" Tanya Amara.


Agatha tak langsung menjawab karena kini matanya tengah melotot ke arah pria yang sedang menatapnya dengan seringaian tipis di wajah tampannya.


"Gatha?" Amara kembali bersuara.


Amara mengangguk dan hendak menoleh namun pergerakan kepalanya sudah tertahan dengan gerakan tangan Agatha. "Jangan


melihat ke arah belakang! Pria yang berada di belakangmu saat ini adalah pria yang tadi aku maksud di dalam mobil."


"Apa!" Pekik Amara dan tanpa sadar kembali memutarkan kepala ke arah belakang dengan sedikit melawan gerakan tangan Agatha.


"Amara!" Kali ini kedua mata Agatha melotot pada Amara yang tidak bisa diajak berkompromi.

__ADS_1


"Di-dia, pria bule tampan di belakang kita adalah Tuan Richard yang kau maksud?" Cicit Amara.


Anggukan di kepala Agatha menjawab pertanyaan Amara. "Dia adalah pria menyebalkan itu! Maka dari itu aku tidak mau kita duduk di sini!" Agatha kembali mendudukkan tubuhnya dengan posisi tegak seperti semula.


"Tapi..." Amara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mereka sudah memesan pesanan minuman dan makanan dan tidak mungkin dibatalkan. Mau membungkusnya pun rasanya Amara tidak ingin.


"Sudahlah, Gatha. Kita duduk di sini saja. Anggap saja dia tidak ada di sini." Ucap Amara tak ingin banyak pikir.


"Kau ini benar-benar, Mara!" Agatha menggerutu karena Amara sangat tidak bisa diajak berkompromi saat ini.


"Begini saja, biar aku yang duduk di kursimu dan kau pindah ke kursiku." Saran Amara agar Agatha tak lagi melihat wajah Richard.


Agatha lantas saja mengiyakannya lalu berpindah duduk dengan Amara. Dan kali ini, Amara dapat melihat dengan jelas wajah tampan nan bule Richard.


"Astaga... pangeran bule jatuh dari mana ini. Kenapa dia tampan sekali!" Gumam Amara sambil memegang kedua pipinya setelah menatap wajah tampan Richard yang sedang tersenyum kepadanya.


***

__ADS_1


__ADS_2