
Di dalam ruangan kerja Rendra, kini hanya menyisakan Rendra dan Agatha. Tanpa permisi, Agatha melangkahkan kaki mendekati meja kerja Rendra lalu menjatuhkan bokong di atas kursi yang berhadapan dengan Rendra.
"Kenapa? Kau tidak suka melihat kedatanganku ke sini? Dasar pecundang!" Ucap Agatha dan menekan kata di akhir perkataannya.
Rendra menatap wajah Agatha dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bukan begitu, Gatha. Kau salah paham."
Agatha berdecih. "Salah paham? Kau pikir aku tidak tahu bagaimana caramu menghalangiku untuk datang menemuimu sejak beberapa hari kemarin!" Sentak Agatha. Ia bukan wanita bodoh yang bisa diakali oleh Rendra.
Rendra menghela napas. Ternyata sahabat baiknya itu menyadari akal bulusnya sejak beberapa hari yang lalu agar tidak dapat menemuinya.
"Aku bisa saja menghajar resepsionis di bawah dan asistenmu itu sejak kemarin. Namun aku masih menghargaimu sebagai pemilik perusahaan ini." Ucap Agatha.
Rendra bungkam tak dapat berkata-kata.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja? Apa Rendra yang aku kenal sudah terkena penyakit tidak bisa berbicara? Atau sudah berubah menjadi banci karena ingin lari dari masalah!" Sindir Agatha.
Rendra kembali menghela napas. "Maafkan aku Agatha, aku tidak bermaksud demikian." Ucap Rendra pada akhirnya.
Agatha berdecih. "Tidak bermaksud demikian bagaimana maksudmu? Kau menghilang tanpa kabar bahkan tak mau membalas pesan dari Amara yang sudah jelas masuk ke dalam ponselmu. Sebenarnya ada apa denganmu, Rendra? Kemarin kau sangat menggebu-gebu untuk mendapatkan Amara, dan sekarang, di saat Amara sudah mulai menjatuhkan hati kepadamu, kau justru bersikap pecundang seperti saat ini. Hilang tanpa kabar dan tidak memberi kejelasan sedikit pun!" Sembur Agatha.
Rendra dapat mengerti kekesalan yang Agatha rasakan saat ini. Ia pun tak berniat untuk memberikan pembelaan atas kesalahannya sendiri.
"Kenapa diam saja, kau tidak bisu kan Rendra!" Sentak Agatha. Ia nampak sebal karena Rendra sejak tadi hanya diam tak menjawab perkataannya.
"Apa maksudmu?" Agatha meminta penjelasan dengan sedikit menuntut.
Rendra mengalihkan pandangan ke arah lain dengan tatapan menerawang. Mengingat kejadian satu minggu lalu yang berhasil membuatnya berubah sikap pada Amara.
__ADS_1
"Rendra?" Suara Agatha kini terdengar pelan. Agatha seakan tahu jika ada sebuah masalah besar yang kini sedang dihadapi oleh Rendra.
"Satu minggu yang lalu, setelah aku menjemput Amara dari kota B. Aku mendapatkan sebuah kabar yang tak terduga dari kedua orang tuaku, Agatha." Rendra membuka percakapan serius di antara mereka.
Agatha menjadi penasaran setelah mendengarkan awal cerita Rendra. Ia menajamkan pendengarannya agar dapat mendengar dengan jelas cerita Rendra.
"Cerita dengan jelas, Rendra!" Tekan Agatha.
"Satu hari setelah aku pulang menjemput Amara, Mama dan Papa mengajakku untuk berbicara. Di sana mereka mengatakan kepadaku jika sudah terjadi suatu hal buruk yang menimpa Mama beberapa minggu sebelumnya dan Mama tidak mau memberitahukannya kepadaku karena tidak mau mengganggu pekerjaanku yang sedang sibuk-sibuknya."
"Sesuatu apa itu, Rendra. Berbicara lah yang jelas!"
"Saat Mama sedang berada di dalam perjalanan pulang dari rumah sahabatnya, Mama tidak sengaja menabrak seorang Ibu yang hendak menyeberang jalan bersama anaknya." Jawab Rendra lalu menjelaskan kronologi yang terjadi secara lengkap. Tak lupa Rendra juga menceritakan permintaan sang Mama kepadanya dengan berat hati.
__ADS_1
***