
Jalanan yang masih cukup sepi pagi itu memudahkan mobil Amara melaju menuju bandara dengan lebih cepat. Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai Amara tiba di bandara. Amara segera memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil. Setelahnya kakinya melangkah dengan lebar memasuki bangunan bandara.
Setelah berada di dalam bandara, Amara mengedarkan pandangan mencari sosok Aga yang kemungkinan juga baru sampai di bandara.
"Dimana Kak Aga..." Amara berucap lirih sambil terus melangkah mencari keberadaan Aga dan keluarganya. Setelah hampir lima menit mencari, namun keberadaan Aga tak kunjung nampak juga oleh penglihatannya.
Amara mulai panik. Otaknya pun mulai menebak-nebak apakah saat ini Aga sudah berada di dalam ruangan tunggu keberangkatan sehingga ia tak bisa lagi melihat keberadaannya.
Di tengah kepanikan Amara mencari keberadaan Aga yang tak kunjung terlihat oleh matanya, akhirnya Amara menangkap sosok yang sedang duduk di kursi tunggu bersama Agatha, Papa Andrew dan Daniel.
"Kak Aga..." Amara berucap sedikit keras. Kaki jenjangnya pun melangkah dengan lebar mengejar Aga yang nampak berdiri dari kursi tunggu dan ingin melangkah entah kemana.
"Kak Aga tunggu!" Amara berteriak cukup keras berniat menghentikan langkah Aga yang semakin berjalan menjauh darinya.
__ADS_1
Mendengar suara seseorang yang sangat tidak asing di pendengarannya membuat langkah kaki Aga terhenti. Daniel, Agatha dan Papa Andrew yang mendengar nama Aga dipanggil pun ikut menghentikan langkah.
"Amara!" Aga terkesiap melihat sosok Amara yang kini tengah berlari ke arahnya dengan berderai air mata.
"Amara..." berbeda dengan Aga yang nampak terkejut melihat kedatangan Amara, Agatha dan Daniel justru nampak santai dan mengulum senyum.
"Kak Aga jangan pergi... huu..." tanpa rasa malu dan peduli dengan keadaan di sekitarnya, Amara langsung saja memeluk tubuh Aga erat-erat. Ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan rasa takut untuk kehilangan sosok yang dicintainya untuk yang kedua kalinya.
"Kak Aga, maafkan Mara. Mara mohon jangan pergi... jangan tinggalkan Mara di sini. Katanya Kakak ingin menjadikan Mara istri, tapi kenapa Kakak pergi. Huuu..." Amara semakin menangis dengan keras hingga membuat pusat perhatian orang-orang pun teralihkan pada Amara.
"Wah, jahat sekali pria itu meninggalkan calon istrinya sehingga menangis seperti itu?" Bisik-bisik orang-orang mulai terdengar namun Aga tak memperdulikannya.
Aga membalas pelukan Amara barang sejenak kemudian melepaskannya secara perlahan. "Amara, ada apa ini? Kenapa kau menangis seperti ini?" Tanya Aga dengan wajah yang nampak bingung.
__ADS_1
Cakra yang baru saja kembali dari dalam kamar mandi menyunggingkan sudut bibirnya melihat target ternyata sudah berada di depan matanya. Agatha yang melihat senyuman smirk di wajah Cakra pun ikut menyunggingkan senyum.
"Iya, Amara, ada apa ini?" Daniel memasang wajah tanpa dosa seakan tidak tahu apa yang terjadi pada Amara saat ini.
Amara tak menyahut perkataan Daniel karena kini pandangannya terfokus pada wajah Aga.
"Agatha bilang kalau Kakak ingin pergi ke luar negeri dan menetap di sana. Agatha bilang Kakak tidak tahu kapan akan kembali lagi ke sini..." adu Amara sambil menangis layaknya anak kecil yang sedang mengadu pada orang tuanya. "Ke-kenapa Kak Aga mau pergi... kenapa Kak Aga tinggalkan Mara di sini... Mara bahkan belum kasih jawaban kalau Mara mau menerima lamaran Kak Aga... huuu..."
Pandangan Aga seketika beralih pada Agatha yang nampak tersenyum tanpa dosa. Sedetik kemudian, Aga pun telah mengerti apa yang terjadi saat ini.
"Mara, kau sudah salah paham..." Aga mengusap kedua pipi Amara yang basah karena lelehan air mata. "Aku memang mau berangkat ke luar negeri. Namun hanya dalam waktu beberapa hari, bukan menetap lama di sana." Ucap Aga menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
***
__ADS_1