
Selama berada di dalam perjalanan menuju kediamannya, Sisil nampak canggung. Ia sampai mengatur napas beberapa kali untuk menyamarkan rasa canggungnya itu.
Cakra yang tengah fokus pada kemudi tak memperdulikan apa saja yang Sisil lalukan di sebelahnya. Mau Sisil membuang napas atau menghela napas, sama sekali tidak diperdulikan oleh Cakra. Menurutnya, Sisil bagaikan makhluk halus yang tak terlihat saat ini.
"Mobil Tuan Cakra pasti kotor setelah aku naiki. Apa setelah ini aku berikan ongkos saja pada Tuan Cakra sebagai ganti telah mengotorkan mobil mewahnya ini?" Sisil bermonolog dalam hati. Rasanya, ia tak pantas berada di dalam mobil mewah milik Cakra. Terlebih mengingat pekerjaannya saat ini yang hanyalah sebagai cleaning service.
Mobil milik Cakra terus melaju menembus derasnya hujan. Hingga akhirnya, Cakra memperlambat laju mobilnya saat sudah hampir dekat dengan alamat yang Sisil sebutkan tadi.
"Berhenti di sini saja, Tuan." Ucap Sisil saat Cakra hendak membelokkan mobil masuk ke dalam gang.
"Kenapa berhenti di sini?" Cakra yang sejak tadi hanya diam akhirnya angkat suara.
"Karena mobil Tuan bisa kotor setelah masuk ke dalam gang rumah saya." Jawab Sisil seadanya.
Cakra mendengus. Tanpa memperdulikan perkataan Sisil, ia melanjutkan niat membelokkan mobil masuk ke dalam gang rumah Sisil.
__ADS_1
"Tuan..." Sisil menghela napas saat ban mobil milik Cakra melewati jalanan gang yang berlubang hingga membuat mobilnya sedikit berguncang.
Cakra masih dengan mode hening. Ia fokus pada kemudi melewati jalanan berlubang di depannya.
"Rumah saya yang itu, Tuan!" Sisil menunjuk sebuah rumah kontrakan bewarna pink yang berada di sisi kiri jalan.
Cakra menatap rumah tersebut. Kemudian membelokkan mobil memasuki pekarangan rumah Sisil yang cukup untuk memarkirkan mobilnya.
Sejenak, Cakra memperhatikan rumah bulatan yang berada di depannya saat ini. Rumah tersebut nampak kecil dan kemungkinan di dalamnya juga sempit.
"Terima kasih telah mengantarkan saya, Tuan." Suara Sisil mengalihkan pandangan Cakra dari rumah tersebut ke arah Sisil.
Sisil menggelengkan kepala. "Berdua dengan Ibu saya, Tuan. Tapi saat ini Ibu saya masih dirawat di rumah sakit jadi saya tinggal sendiri di sini."
Cakra sejenak terdiam. Memikirkan Ibu Sisil yang tengah dirawat di rumah sakit saat ini.
__ADS_1
"Kau tidak memiliki alat transportasi lagi?" Tanyanya memastikan.
Sisil menggelengkan kepala tanpa menjelaskan alasannya tidak lagi memiliki alat transportasi saat ini.
Cakra pun memilih tak lagi banyak tanya hingga akhirnya Sisil kembali bersuara mengucapkan terima kasih dan berpamitan keluar dari dalam mobil.
Sebelum keluar dari dalam mobil, Sisil menatap wajah Cakra dengan ragu.
"Ada apa?" Tanya Cakra merasa bingung ditatap demikian oleh Sisil.
Sisil mengeluarkan selembar uang bewarna hijau yang tadi ia pinjam dari Ane untuk biaya transportasinya pulang naik bus ke rumah.
"Ini ada sedikit uang untuk anda, Tuan. Maaf hanya sedikit. Semoga uang ini bisa sedikit membantu biaya Tuan membersihkan jok mobil yang kotor karena sudah diduduki oleh saya."
Cakra membulatkan kedua bola matanya menatap selembar uang bewarna hijau yang nampak sudah lusuh tersebut. Belum hilang keterkejutannya dengan uang ongkos yang diberikan oleh Sisil, kini ia sudah kembali terkejut karena Sisil melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Dan untuk jas yang sudah saya pakai ini, izinkan saya cuci sendiri saja, Tuan. Maaf tidak bisa mencucinya di laundry karena saya tidak cukup uang. Tapi Tuan tenang saja, saya jamin jas ini akan kembali harum walau aromanya tak sama."
***