
Aga menyatukan kening keduanya dengan napas yang terdengar memburu setelah melepaskan pangutan bibirnya dengan Amara setelah menyadari Amara mulai kehabisan napas. "Kita harus mengakhirinya atau jadwal makan malam bersama akan terlewat." Kata Aga.
Amara tersenyum malu. Kedua pipinya yang merah akibat polesan blush on bertambah merah mendengar perkataan Aga yang penuh maksud. "Iya. Lebih baik kita istirahat dulu saja, Kak." Jawabnya.
Aga mengulas senyum. Sebelah tangannya pun terangkat mengusap bibir Amara yang basah karena ulahnya. "Kau tahu ternyata kau itu manis sekali." Kata Aga dengan senyuman yang belum surut dari wajahnya.
Amara jadi tersipu. Kepalanya pun tertunduk tak tahan menatap wajah Aga.
Senyuman di wajah Aga semakin terkembang saja melihat sikap malu-malu sang istri. Aga menjauhkan keningnya dari Amara. Kemudian mengajak Amara untuk mengganti pakaian masing-masing.
Lagi, bulu kuduk Amara terasa merinding saat sebelah tangan Aga bergerak membantunya membuka kancing gaun yang ia kenakan. Beberapa kali Amara memejamkan kedua kelopak mata menahan sentuhan hangat tangan Aga.
"Kak Aga..." kata Amara lirih saat tangan Aga mengusap pinggangnya yang polos.
Aga tersenyum. Ia segera menghentikan kegiatannya atau ia tidak bisa mengatur dirinya untuk tidak menjamah istrinya saat ini juga.
__ADS_1
"Bersihkanlah tubuhmu lebih dulu di kamar mandi." Kata Aga setelah gaun yang membalut tubuh Amara terlepas dari tubuh Amara.
Amara mengangguk. Kemudian dengan langkah tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi.
Aga menatap kepergian istrinya dengan senyum. Sungguh, ia merasa tidak sabar untuk melakukan ritual malam pengantinnya dengan Amara. Namun saat ini ia harus bersabar mengingat masih ada agenda yang harus ia hadiri bersama Amara malam ini.
**
Tidak ada kegiatan apa pun yang Aga dan Amara lakukan di dalam kamar pengantin setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaian masing-masing. Keduanya memilih mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah sambil menunggu waktu makan malam tiba. Walau awalnya merasa sedikit canggung tidur di ranjang yang sama dengan Aga, namun pada akhirnya Amara dapat tertidur dengan lelap di dalam pelukan hangat tubuh Aga.
"Sayang..." Aga mengusap wajah cantik yang pertama kali ia lihat ketika membuka mata.
Amara jadi tersipu. Kedua pipinya yang putih kini nampak memerah setelah mendengar kata sayang keluar dari mulut Aga. "I-iya, Kak." Katanya terbata. Huh, menyebalkan sekali. Nyatanya panggilan saya dari Aga untuknya masih membuatnya menjadi gugup.
"Kok panggilnya Kak sih." Protes Aga tanpa menghentikan usapan tangannya di pipi Amara.
__ADS_1
Kepala Amara tertunduk. Ia sungguh malu ditambah gugup saat ini.
"Panggilnya sayang, ya. Kan udah menikah." Pinta Aga.
Amara jadi semakin gugup. Terlebih wajah Aga kini sudah semakin dekat dengan wajahnya.
"Emh..." Amara yang hendak menjawab menghentikan niatnya saat sebuah benda kenyal menempel di bibir tipis.
Amara memejamkan kedua kelopak mata. Menikmati ciuman lembut yang Aga berikan untuknya.
Aga terus melajutkan kegiatannya mencium dan mengeksplor bibir yang sudah menjadi candu untuknya. "Kau benar-benar membuatku gila, Mara." Kata Aga parau setelah menghentikan kegiatannya.
Amara rasanya tidak rela saat pangutan bibir Aga terlepas. Dengan ragu-ragu ia memajukan bibir dan menempelkan bibirnya kembali ke bibir Aga.
***
__ADS_1