
Setelah mendengarkan penjelasan Naina, Amara akhirnya membatalkan niatnya untuk meminta tolong pada Daniel untuk memberikan sumbangan untuk Sisil dan sebagai gantinya ia mendapatkan sumbangan dana dari Naina dengan nominal yang cukup banyak.
Setelah malam itu ia mendapatkan sumbangan dana dari Naina, keesokan harinya ia juga mendapatkan sumbangan dari Aga sesuai janji Aga kemarin.
Melihatnya sumbangan dana dari Aga dan Naina yang nominalnya tidak sedikit, lantas saja membuat Amara mengembangkan senyum. Ia berharap dengan sumbangan dana yang ia dapatkan saat ini bisa membantu Sisil membiayai pengobatan dan operasi ibunya.
Tak hanya berhenti meminta pada Naina dan Aga saja, Amara juga meminta tolong pada Agatha untuk memberikan sumbangan untuk Sisil. Mendengar permintaan sahabat baiknya itu lantas saja membuat Agatha mengurut dada.
"Sebenarnya hatimu itu terbuat dari apa sih, Mara. Kenapa baik banget begitu? Sudah jelas dia jahat kepadamu kemarin tapi sampai saat ini kau masih saja bersikap baik kepadanya. Lagi pula bukan tugasmu juga loh membantu memberikan biaya untuk pengobatan ibunya." Ucap Agatha sedikit ketus. Bukannya tidak memiliki belas kasih pada Sisil, namun Agatha masih merasa sedikit kesal dengan sikap Sisil beberapa waktu lalu.
"Gatha, siapa bilang aku tidak memiliki kewajiban untuk membantunya? Sebagai sesama manusia bukannya sudah seharusnya kita saling membantu. Terlebih aku sudah mengetahui kesulitan Sisil saat ini. Masa aku hanya diam saja?"
"Iya sih, tapi dia itu ngeselin tahu. Seenaknya saja jelek-jelekin dirimu dan Kak Nai!" Rutuk Agatha.
Amara mengusap lengan sahabatnya itu. "Sudahlah, Gatha. Gak perlu membahas apa yang terjadi kemarin. Fokus saja pada saat ini. Dia sudah berubah dan membutuhkan bantuan kita."
__ADS_1
Agatha memilih mengangguk saja. Mengiyakan perkataan Amara dari pada berujung dengan perdebatan panjang.
"Jadi bagaimana, kau mau tidak membantu Sisil?" Tanya Amara penuh harap.
"Iya deh. Tapi gak banyak, ya." Jawab Agatha.
"Iya, gak papa. Sedikit saja yang penting ikhlas!"
"Bisa saja kau ini!" Agatha menatap gemas pada sahabatnya itu.
Amara jadi tertawa. Kedua sahabat itu pun melanjutkan pembicaraan mereka ke topik lain.
"Gratis kan?" Kelakar Amara.
Agatha memutar kedua bola matanya malas. "Tentu saja gratis. Jika tidak bisa hilang mobil mercy yang baru dibelikan Kak Aga untukku." Jawabnya ikut berkelakar.
__ADS_1
Amara jadi tertawa. "Seneng dong dapat mercy dari Kak Aga." Ucapnya menggoda.
"Seneng. Tapi jarang aku pakai nih karna masih nyaman pakai mobil yang lama."
"Sesekali saja pakainya kalau begitu dari pada jadi pajangan di rumah saja."
"Iya. Nanti aku pakai saat ada acara pesta dan pertemuan pengusaha muda saja."
Amara mengangguk saja mengiyakan perkataan Agatha. Hingga tiba-tiba pemikirannya tertuju pada sosok Richard yang sudah tidak terlihat lagi di matanya.
"Oh ya, bagaimana hubunganmu dan Tuan bule itu? Apa sudah ada kemajuan?" Tanya Amara.
"Kemajuan apa yang kau maksud? Apa maksudmu kemajuannya yang semakin hari membuatku kesal saja?" Agatha menatap Amara sebal.
Amara jadi tertawa-tawa melihat ekspresi sebal Agatha hanya karena dirinya membahas tentang Richard.
__ADS_1
"Jangan terlalu membencinya. Bisa jadi suatu saat nanti bencimu berubah jadi benar-benar cinta." Kelakar Amara.
***