Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Aku Harus Menolongnya


__ADS_3

Amara telah kembali ke meja kerjanya setelah menikmati makan siang bersama dengan Sisil dan Ane. Sejak pertemuannya dengan Sisil dan Ane tadi, wajah Amara nampak murung. Ia merasa sedih seakan ikut merasakan apa yang tengah Sisil rasakan saat ini.


Kesedihan yang Amara rasakan pun semakin bertambah saat mengetahui Aga belum kembali ke perusahaan.


"Huh, seandainya saja uangku banyak, pasti aku akan membantu Sisil untuk membiayai operasi ibunya." Keluh Amara. Dengan profesi dirinya yang hanya bekerja sebagai seorang sekretaris, Amara tidak memiliki banyak uang untuk membantu biaya operasi ibu Sisil. Paling Amara hanya bisa membantu sedikit saja.


"Apa aku meminta tolong pada Kak Daniel juga ya agar ibu Sisil bisa segera di operasi." Pikir Amara. Dengan latar belakang kakak iparnya sebagai pemilik perusahaan, sepertinya Daniel memiliki cukup uang untuk bisa membantu Sisil dan ibunya. "Ya, aku harus meminta tolong Kak Daniel nanti. Kak Daniel pasti mau menolong." Gumam Amara.


Di tengah keyakinan Amara jika Daniel pasti mau menolong dirinya membantu Sisil, Amara teringat dengan sikap Daniel beberapa waktu lalu yang sangat murka pada Sisil dan Ane karena sudah menghina dirinya dan Naina.


"Astaga, aku jadi tidak yakin jika Kak Daniel mau membantu." Amara jadi berpikir ulang untuk meminta bantuan Daniel. Namun saat mengingat jika saat ini Sisil sangat membutuhkan bantuannya, Amara pun menguatkan tekadnya lagi untuk meminta tolong pada Daniel.

__ADS_1


"Tidak, aku harus tetap meminta tolong pada Kak Daniel. Jika bisa, aku akan minta tolong pada Gatha juga!" Lanjut Amara tak ingin patah semangat.


Terlepas dari permasalahannya dan Sisil beberapa waktu lalu, Amara yakin jika Sisil adalah wanita yang baik. Terlebih kini ia sudah mengetahui jika Sisil bersikap buruk kepadanya saat itu karena terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya yang suka menggunjing dirinya.


"Sisil, semoga setelah ini banyak orang baik yang bisa membantu dirimu, ya." Gumam Amara penuh harap. Entah mengapa saat ini Amara sangat menggebu-gebu untuk membantu Sisil walau pada dasarnya hubungannya dan Sisil tidaklah sedekat itu.


**


Pukul setengah tiga siang, Aga dan Cakra baru saja kembali ke perusahaannya. Melihat kedatangan Aga dan Cakra, membuat Amara memaksakan senyum. Ia tidak ingin terlihat murung di mata asisten Cakra dan Aga.


"Amara..." Aga menatap wajah pujaan hatinya itu dengan tersenyum.

__ADS_1


Amara yang disebut namanya pun tersenyum pada Aga. Namun senyumannya kali ini terlihat terpaksa hingga membuat Aga yang melihatnya jadi mengerutkan dahi.


"Ada apa denganmu?" Tanya Aga yang dapat melihat kemurungan di wajah Amara walau Amara sudah susah payah untuk menutupinya.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Tapi ada satu hal yang ingin aku bicarakan dengan Kakak." Ucap Amara.


"Hal apa itu?" Tanya Aga dengan dahi mengkerut.


Amara menatap ke sekitarnya. Memastikan tidak ada orang lain yang bisa mendengarkan percakapannya dan Aga.


Menyadari Amara membutuhkan privasi untuk berbicara, Aga pun memilih mengajak Amara untuk berbicara di dalam ruangannya saja.

__ADS_1


"Jadi hal apa yang ingin kau bicarakan kepadaku wahai calon istri?" Tanya Aga diikuti usapan lembut di pipi Amara oleh ibu jarinya.


***


__ADS_2