
"Sudah ku bilang kalau aku hanya kasihan kepadamu. Kenapa masih nanya dan gak percaya juga sih?" Cakra menatap wajah Sisil sebal.
Sisil terdiam. Sungguh ia sangat tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh Cakra. Jika hanya berkedok kasihan, masih banyak orang lain yang lebih membutuhkan bantuan dari pada dirinya.
"Baiklah, saya tidak akan meminta Tuan untuk jujur lagi kepada saya." Ucap Sisil tak ingin berdebat.
"Baguslah kalau begitu karena seharusnya memang seperti itu."
Sisil menganggukkan kepalanya. "Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada Tuan karena sudah membantu biaya pengobatan ibu saya. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Tuan selain mendoakan agar kebaikan selalu datang menghampiri Tuan." Ucap Sisil tulus.
Cakra tertegun mendengar perkataan Sisil yang terdengar lembut dan menggetarkan hati.
"Sama-sama." Jawab Cakra kemudian.
Karena tidak ada lagi hal yang ingin ia bicarakan dengan Cakra, Sisil pun memilih berpamitan keluar dari dalam mobil milik Cakra. Ia harus segera pergi meninggalkan perusahaan menuju rumah sakit untuk menjemput ibunya pulang ke rumah mereka.
__ADS_1
Di luar dugaan, bukannya mengiyakan saat Sisil berpamitan keluar dari dalam mobilnya, Cakra justru menahan Sisil dan menawarkan diri untuk mengantarkan Sisil pergi ke rumah sakit.
"Tidak perlu repot-repot, Tuan. Saya bisa berangkat menggunakan bus." Tolak Sisil. Sudah cukup ia merepotkan Cakra akhir-akhir ini. Ia tidak ingin lagi merepotkan pria itu lagi.
Cakra tak memberikan jawaban. Ia hanya menunjukkan reaksi dengan menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya keluar dari area besement.
"Tuan, apa yang anda lakukan, Tuan!" Sisil terpekik sebab Cakra menjalankan mobilnya tanpa menjawab pertanyaannya lebih dulu.
"Membawa mobil." Jawab Cakra singkat dengan tatapan lurus ke depan.
Sisil dibuat sulit berkata-kata. Ia sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali merasa tak percaya dengan sikap Cakra saat ini.
"Berisik. Lebih baik kau diam dan nikmati saja perjalanan menuju rumah sakit!" Ketus Cakra.
"Tapi Tu—" omongan Sisil terhenti saat tatapan mata Cakra terhunus tajam kepadanya.
__ADS_1
Melihat tatapan mata Cakra itu, membuat Sisil bungkam dan menundukkan kepalanya.
Melihat diamnya Sisil lantas saja membuat Cakra merasa tenang sebab wanita yang sudah ingin ditolongnya itu kini sudah jinak menjadi wanita yang penurut.
Di sebuah besement yang kini melaju di belakang mobil Cakra, Amara dan Ane nampak saling pandang dan tersenyum secara bersamaan.
"Sepertinya hubungan mereka sudah mulai ada kemajuan. Kemarin Cakra membantu Sisil secara diam-diam dan sekarang dengan terang-terangan mengantar Sisil pulang." Ucap Amara.
Ane menganggukkan kepalanya. "Aku tidak menyangka jika Tuan Cakra yang terkenal datar dan dingin itu ternyata memiliki hati yang sangat baik."
"Wah, kau belum mengenalnya dengan detail. Dibalik sikapnya yang datar dan dingin itu, sebenarnya Tuan Cakra adalah pria yang menyebalkan." Kata Amara kemudian menceritakan bagaimana menyebalkannya seorang Cakra saat mengganggu keromantisannya dengan Aga.
Mendengar cerita Amara, bukannya membuat Ane menjadi prihatin, justru tertawa. Ia merasa lucu membayangkan bagaimana menyebalkannya sikap Cakra saat mengganggu Amara dan Aga.
"Wah, ternyata Tuan Cakra jahil juga, ya. Aku pikir dia sangat menyeramkan karena tidak pernah tersenyum kepada kami."
__ADS_1
"Itu hanya sikap di luarnya saja. Aslinya dia baik kok. Lihat saja sekarang, dia sangat baik pada Sisil dan sepertinya juga sedang tertarik pada Sisil." Kata Amara dan diangguki Ane sebagai jawaban.
***