Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Kenapa Tidak Terlihat?


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Kakak saat ini, apa sudah mendingan?" Tanya Amara setelah berada di samping ranjang Aga.


Aga tak langsung menjawab. Ia menatap intens wajah cantik Amara barang sejenak. "Lumayan." Jawabnya kemudian.


"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak menyangka jika Kakak masuk rumah sakit." Ungkap Amara.


Aga hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Amara.


"Dokter bilang apa tentang penyakit Kakak saat ini?" Tanya Amara.


"Hanya sakit biasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Aga seadanya.


"Syukurlah kalau begitu." Amara nampak lega. Dan raut wajahnya itu terlihat jelas oleh mata Aga.


Amara sedikit merasa canggung berada di dalam ruangan perawatan Aga karena hanya berduaan saja dengan Aga. Terlebih saat ini, Aga menatap wajahnya dengan tanpa berkedip. 


"Kau datang dengan siapa?" Tanya Aga setelah beberapa saat keheningan menyelimuti keduanya.


"Hanya sendiri, Kak. Setelah pulang bekerja aku langsung ke sini. Tadi pagi, aku sempat penasaran kenapa Kakak tidak datang.

__ADS_1


Dan saat mendengar dari Tuan Cakra jika Kakak masuk rumah sakit, aku sangat terkejut 


mendengarnya."


"Apa kau mencemaskanku?" Aga menyahut cepat.


Amara kembali hening untuk waktu beberapa saat. Aga yang merasa tidak sabar menunggu jawaban dari Amara pun berdehem agar Amara dapat menjawab pertanyaannya.


"Ya, aku mencemaskan Kakak karena Kakak adalah atasanku di kantor. Bagaimana pun juga kesehatan Kakak sangat berpengaruh untuk kesejahteraan kantor."


Aura dingin menghiasi wajah Aga setelah mendengar perkataan Amara. Ternyata Amara hanya mencemaskannya sebagai atasan bukan sebagai seseorang yang spesial di hatinya.


"Loh, kenapa kau sudah keluar, Mara?" Tanya Agatha bingung. Sebab, Amara baru sekitar lima belas menit berada di dalam ruangan Aga.


"Aku bingung harus berbicara apa dengan Kak Aga. Kau kan tahu kakakmu itu sangat pendiam."


Agatha mengangguk paham. Kemudian ia mengajak Amara untuk duduk di kursi tunggu.


"Oh ya, dimana Paman Andrew?" Tanya Amara melihat Paman Andrew tak lagi berada di luar ruangan perawatan Aga.

__ADS_1


"Papa pergi menemui dokter untuk memastikan keadaan Kak Aga saat ini."


"Memangnya keadaan Kak Aga kenapa? Tadi Kak Aga hanya bilang jika ia hanya mengidap penyakit biasa."


"Dokter belum bisa memastikannya, Amara. Dugaan sementara karena asam lambung Kak Aga naik dan kelelahan. Untuk memastikannya, dokter sedang melakukan uji laboratorium dengan menggunakan sampel darah Kak Aga."


Wajah Amara nampak sedikit murung. Entah mengapa ia sedikit mencemaskan keadaan Aga saat ini.


"Sebenarnya kemarin aku melihat wajah Kak Aga sedikit pucat. Namun saat aku bertanya apa Kak Aga baik-baik saja, Kak Aga hanya diam tidak mau menjawab pertanyaanku." 


Agatha menghela napas. "Kakakku itu memang sedikit keras kepala. Lihatlah sekarang karena sikap keras kepalanya membuatnya jadi jatuh sakit dan masuk ke dalam rumah sakit. Semua orang jadi mencemaskannya. Tadi aku dengar Kak Daniel juga memarahi Kak Cakra karena tidak becus menjaga Kak Aga sebagai pewaris utama perusahaan.


Amara terkesiap mendengarnya. Tidak menyangka jika secemas itu Daniel pada Aga hingga memarahi Cakra.


"Apa Kak Daniel juga akan memarahiku karena juga tidak becus menjaga Kak Aga ya, Gatha?" Amara sedikit cemas karena ia juga ikut andil tidak berhasil membujuk Aga agar tidak lembut.


"Tentu saja tidak. Kak Daniel pasti tidak akan tega untuk memarahimu." 


Amara sedikit merasa lega mendengarnya. Tiba-tiba saja Amara teringat akan sesuatu. Yaitu sosok yang tidak terlihat batang hidungnya saat ini. 

__ADS_1


***


__ADS_2