Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Tampan dan Menyebalkan


__ADS_3

"Oh my god," Amara segera menyodorkan gelas minuman Agatha ke wajah Agatha melihat Agatha yang terbatuk-batuk.


Richard mengulum senyum menyembunyikan seringaian tipis melihat ekspresi Agatha setelah mendengarkan candaannya. 


"Sembarangan bicara!" Sembur Agatha dengan wajah merah padam menahan kesal.


"Aku tidak sembarangan berbicara Nona Agatha, aku memang terkena virus cinta sejak mengenalmu!" Richard tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya pada Amara.


Bukannya Agatha yang tersipu mendengar perkataan Richard, justru Amara. Wanita itu kini memegang kedua pipinya yang bersemu merah mendengar gombalan Richard.


"Kau juga terkena virus cinta kan sejak mengenalku?" Richard tak henti mengeluarkan candaan.


"Cih, yang ada justru aku terkena virus sial sejak mengenalmu!" Sembur Agatha.


"Wow!" Richard terkesiap. Ia sampai tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Agatha. 


Melihat tawa Richard yang membuatnya menjadi semakin tampan membuat Amara tak dapat menyembunyikan wajah malu-malu maunya. "Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?" Gumam Amara.


Agatha menggelengkan kepalanya melihat Amara yang bisa tersipu malu dan mengagumi makhluk menyebalkan di depannya saat ini.

__ADS_1


"Bisakah Tuan Richard yang terhormat pergi dari hadapan kami? Sepertinya kekasih anda yang berada di belakang saya sudah menunggu anda kembali sejak tadi!" Agatha mengusir sembari menyindir.


"Tidak bisa. Aku masih tetap ingin di sini. Tidak masalah bukan?" Richard kembali tersenyum nan menyebalkan di mata Agatha.


Ingin sekali rasanya Agatha menendang bokong Richard dan membenamkannya ke palung mariana. Namun hal tersebut sangat tidak mungkin dilakukannya. 


"Tidak tahu diri sekali. Tega meninggalkan kekasihnya demi menghampiri wanita lain. Jika aku yang menjadi kekasihmu, sudah aku tinggalkan dirimu!" Sindir Agatha keras agar wanita yang berada di belakangnya dapat mendengar dan membawa Richard pergi dari hadapannya.


"Kekasih siapa yang anda maksud Nona Agatha? Bukan kah kekasih saya ada di depan mata saya saat ini?" Richard kembali mengeluarkan candaan. 


Agatha kembali terbatuk-batuk mendengarnya. Ia kembali menyeruput minumannya untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan.


"Mara, sepertinya aku ingin pindah kafe saja. Berada di sini membuat moodku menjadi


jelek."


Amara ingin menyahut. Namun kedatangan pelayan membawakan makanan pesanan mereka mengurungkan niatnya. 


Pelayan tersebut tersenyum lalu menghidangkan makanan di atas meja. "Selamat menikmati, Nona, Tuan." Ucapnya ramah.

__ADS_1


Amara mengangguk seraya tersenyum. "Terima kasih," jawabnya lalu memberikan tip pada pelayan tersebut sebagai ucapan terima kasih.


"Wah, ternyata anda baik sekali ya, Nona Amara.


Amara kembali malu-malu mendengar Richard memujinya. "Anda bisa saja," jawabnya.


Agatha rasanya ingin muntah saat ini mendengar pujian Richard. Ia bahkan sudah tak berselera menyantap makanan yang sudah terhidang di depan matanya saat ini.


"Sepertinya kalian berdua ingin menikmati makan sore bersama. Kalau begitu saya pamit kembali ke meja saya dulu." Ucap Richard tak ingin semakin lama mengganggu Amara dan Agatha.


"Kenapa tidak dari tadi saja!" Gerutu Agatha pelan namun dapat didengar dengan jelas oleh Richard.


Richard menyeringai tipis kemudian bangkit dari duduknya. "Jika anda rindu bisa panggil saya saja. Kebetulan meja saya ada di belakang meja anda." Goda Richard.


Agatha mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Merasa tak tahan melampiaskan kekesalannya, ia menginjak kaki yang berada di bawah meja yang ia pikir adalah kaki Richard.


"Aaa..." Amara berteriak menahan rasa sakit akibat injakan Agatha yang salah sasaran.


***

__ADS_1


__ADS_2