Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Menerimanya Dengan Ikhlas


__ADS_3

"Amara, apa kau belum mengetahui jika Sisil dan Ane sudah kembali bekerja di perusahaan ini tapi sebagai cleaning service?" Tanya wanita itu melihat keterkejutan di wajah Amara.


Amara terperangah. "Apa? Sisil dan Ane bekerja kembali di perusahaan ini tapi sebagai cleaning service?" Ulangnya dengan mata membola.


Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Benar, Amara. Sejak dua hari yang lalu mereka sudah kembali bekerja di sini sebagai cleaning service."


Amara terkejut tak percaya mendengarnya. "Bagaimana bisa Sisil dan Ane kembali bekerja namun tidak sesuai dengan pekerjaan mereka yang dulu?" Gumamnya dalam hati. Sudah beberapa hari belakangan ini ia memang tidak masuk bekerja sebab mempersiapkan acara lamarannya dan Aga. Namun siapa sangka, di hari liburnya itu ternyata banyak hal yang sudah terjadi tanpa sepengetahuan dirinya.


Tak ingin bertanya-tanya seorang diri, Amara memilih beranjak pergi menghampiri Sisil yang saat ini tengah tertunduk setelah salah satu dari rekan kerjanya yang dulu menertawakan posisi kerjanya saat ini.


"Sisil..." suara Amara terdengar memanggil namanya membuat kepala Sisil yang tertunduk akhirnya mendongak kembali.


"Amara?" Raut wajah sedih di wajah Sisil perlahan sirna berganti dengan senyuman menatap kedatangan Amara.

__ADS_1


Amara memperhatikan ke sekitarnya. Beberapa rekan kerjanya yang tadi menertawakan Sisil perlahan beranjak pergi melihat kedatangannya.


"Sisil, kenapa kau bisa bekerja di bagian ini?" Tanya Amara langsung pada intinya. Beberapa waktu lalu ia memang meminta dispensasi Aga agar memperkejakan Sisil dan Ane kembali. Namun tidak ia sangka jika Aga mengabulkannya namun dengan pekerjaan yang berbeda.


Sisil menarik kedua susut bibir. "Terima kasih Amara karena ketulusan dan kebaikan hatimu aku dan Ane sudah dipersilahkan kembali untuk bekerja di perusahaan ini." Ucap Sisil tanpa menjawab pertanyaan Amara.


"Tapi kenapa kau bekerja di bagian ini, Sisil?" Amara kembali bertanya sebab pertanyaannya belum terjawab oleh Sisil.


Kedua sudut bibir Sisil semakin tertarik. "Tidak apa-apa, Mara. Selagi aku masih bisa bekerja, maka aku akan menerimanya dengan lapang dada."


"Tuan Aga mempekerjakanmu dan Ane kembali tapi dengan pekerjaan yang berbeda. Ini sungguh tidak adil." Ucap Amara tak terima.


Sisil memegang lengan Amara. "Ini adil untuk kami, Amara. Setelah apa yang kami perbuat dan Tuan Aga masih berbaik hati mempekerjakan kami kembali, itu sudah cukup untuk kami." Jawab Sisil.

__ADS_1


Amara menghela napas dalam-dalam. Walau ia tahu gaji clening service di perusahaan Aga jauh lebih tinggi dari cleaning service di perusahaan lainnya, namun tetap saja Amara tak merasa tega dengan status pekerjaan Sisil dan Ane saat ini.


"Amara, sudahlah, tidak perlu terlalu memikirkan aku dan Ane. Kami sudah menerima pekerjaan ini dengan ikhlas dan bersyukur telah mendapatkan pekerjaan kembali."


Amara dapat melihat ketulusan Sisil saat mengatakannya. Dengan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca. Amara memeluk tubuh Sisil tanpa peduli jika Sisil baru saja membersihkan kamar mandi.


"Sisil, aku tahu sebenarnya kau dan Ane adalah wanita baik. Semoga saja kehidupan kalian setelah ini jauh lebih baik dibanding hari sebelumnya."


"Aamiin. Terima kasih atas doanya, Amara." Jawab Sisil sambil membalas pelukan Amara.


Di tengah rasa haru yang dirasakan oleh Amara melihat kelapangan hati Sisil menerima pekerjaan barunya, di tempat yang tak jauh dari Amara berada saat ini, Aga memperhatikan interaksi Amara dan Sisil. Ada rasa bangga yang Aga rasakan dalam hatinya melihat ketulusan hati calon istrinya itu.


"Kau memang wanita hebat, Mara." Gumam Aga dalam hati seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


***


__ADS_2