Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Mengikis Jarak Di Antara Kita


__ADS_3

Aga mengikuti arah pandangan Daniel yang menunjukkan dimana letak pespa antik Daniel berada. Pandangannya kemudian kembali pada Daniel. Menatap wajah adik sepupunya itu dengan ragu. Semenjak beralif profesi menjadi pemimpin perusahaan, Aga sangat jarang menggunakan motor. Jika pun iya, Aga hanya menggunakan motor besarnya bukan motor pespa seperti milik Daniel.


"Kakak pasti bisa memakainya. Sebelumnya Kakak kan pernah membawa pespa milikku bersama dengan Agatha." Ucap Daniel seolah dapat membaca isi pemikiran Aga.


Aga masih diam dan menimbang-nimbang.


"Untuk keadaan mesin dan sebagainya Kakak tenang saja, pespa antik milikku itu sangat terawat. Setiap bulan aku meminta salah satu anggotaku untuk mengeceknya." Lanjut Daniel.


Akhirnya ragu Aga hilang dengan perlahan. Pandangan Aga pun beralih pada Amara meminta persetujuan.


"Aku tak masalah, Kak. Jika Kakak ragu untuk membawa motornya, aku bisa menggantikan Kakak untuk menyetir." Tawar Amara. Karena ia cukup sering membawa pespa antik milik Daniel untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar komplek.


Aga tentu saja tak ingin merasa disepelekan oleh Amara. Terlebih hanya untuk membawa pespa saja. "Baiklah. Kalau begitu bersiaplah. Kita akan pergi sebentar lagi."


Amara menganggukkan kepalanya. Kemudian berpamitan masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.


"Selamat berjalan-jalan dan semangat berjuang, Kak." Daniel menepuk pelan pundak Aga. Kemudian berpamitan masuk ke dalam


rumah mencari keberadaan gadis kecilnya.

__ADS_1


"Mamah, ayo masuk." Ucap Ziko sambil menarik ujung baju yang Naina kenakan.


"Baiklah, ayo." Jawab Naina lalu mengajak Aga ikut masuk ke dalam rumah.


**


Dua puluh menit berlalu, Amara sudah selesai bersiap-siap. Wanita itu nampak tampil dengan gaya anak mudanya dengan menggunakan baju kaos putih dan celana jeans bewarna denim.


Aga yang melihat penampilan Amara saat ini dibuat terperangah. Wajah Amara terlihat semakin cantik dan muda walau hanya berpakaian sederhana.


"Mana jaketnya?" Tanya Aga melihat Amara hanya menggunakan kaos pendek saat ini. Kulit pujaan hatinya itu bisa saja tersengat cahaya matahari siang nanti.


Zeline yang melihat Aga dan Amara sudah bersiap untuk pergi pun segera menghampiri keduanya.


"Anty sama Om Aga sudah mau pergi?" Tanyanya yang mendapatkan anggukan kepala oleh Aga. "Baiklah, hati-hati Anty dan Om tuh. Jangan lupa belikan jajan untuk Zel, ya!" Kelakarnya.


Amara mengusap gemas rambut keponakannya itu. "Iya. Kalau Anty ingat, ya!" Jawabnya ikut berkelakar.


Setelah berbicara sejenak dengan Zeline kemudian berpamitan pada keluarganya, akhirnya Aga dan Amara pun keluar dari dalam rumah. Di luar rumah, Daniel nampak sedang menghangatkan motor pespa miliknya sambil menunggu Aga dan Amara keluar.

__ADS_1


"Motornya sudah bisa dipakai." Ucap Daniel pada Aga.


Aga mengangguk. Kemudian menaiki motor pespa tersebut.


Ngreng


Ngereng


Suara mesin motor pespa Daniel terdengar menggelegar saat Aga mengegasnya beberapa kali.


"Ayo naik," ajak Aga pada Amara setelah meyakini dirinya mampu membawa pespa antik tersebut.


Amara mengangguk. Kemudian menaiki pespa tersebut. Karena posisi kursi penumpang pespa terbilang cukup kecil, membuat tubuh Amara dan Aga akhirnya berjarak cukup rapat.


"Selamat bersenang-senang, hati-hati di jalan!" Ucap Daniel bersemangat. Zeline yang kini berada dekat dengan Daniel pun ikut menyerukan hal yang sama.


Aga dan Amara tersenyum saja. Kemudian Aga menatap wajah Amara yang kini cukup dekat dengan pundaknya. "Pegang pinggangku ya kalau takut jatuh." Ucapnya lembut pada Amara.


***

__ADS_1


Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴


__ADS_2