
Walau sudah memberikan pengertian pada Zeline tentang alasannya memilih pulang bersama dengan Rendra, namun Zeline tetap tak menerimanya. Menurutnya, sikap Amara tetap salah karena memilih pulang bersama rendra dan meninggalkan Aga pulang seorang diri.
"Sudahlah, kita bahas nanti saja. Sekarang lebih baik kita masuk ke dalam rumah." Ajak Amara. Ia sudah sangat pusing menjawab rentetan pertanyaan dari keponakan centilnya.
Zeline memasang wajah tak terima. Namun Amara tak memperdulikannya. Ia menggenggam sebelah tangan Zeline dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.
"Mara, Zeline, kenapa lama sekali masuk ke dalam rumah?" Naina bertanya seraya mendekat pada Amara dan Zeline. Kerutan halus nampak terbit di dahinya melihat wajah Zeline yang nampak masam saat ini.
"Itu, karena Zel ingin curhat dulu dengan Mara, Kak." Amara memberi alasan. Alasan Amara lantas saja membuat Zeline melebarkan kedua kelopak matanya pada Amara. "Benar begitu kan, Zel?" Amara bertanya seraya memberikan usapan di kepala Zeline.
Zeline diam tak menjawab karena tidak ingin masuk ke dalam drama yang Amara buat. Melihat putri kecilnya hanya diam saja membuat Naina merasa jika Amara sudah membohonginya.
"Sekarang lebih baik kalian duduk saja. Kakak akan membuatkan minum untukmu dan yang lainnya."
Amara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sementara Zeline masih saja diam dengan wajah cemberutnya.
__ADS_1
**
Setelah hampir satu jam menghabiskan waktu di rumah Amara, akhirnya Rendra pun berpamitan pulang ke rumahnya.
Amara pun memilih masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh setelah kepergian Rendra.
"Huh, rasanya lelah sekali." Gumam Amara setelah menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Tiga hari berada di luar kota cukup menguras energi dan pemikirannya. Rasanya saat ini Amara sangat ingin memejamkan mata untuk tidur hingga berjam-jam lamanya.
Namun belum juga memejamkan mata, Amara sudah dibuat kepikiran dengan perkataan Zeline tentang Aga. Amara seketika berpikir keras. Apakah dirinya salah membiarkan Aga pulang sendiri sementara dirinya pulang bersama dengan Rendra?
Tak ingin menduga-duga seorang diri, Amara memilih mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas lalu melakukan panggilan telefon dengan Aga.
Cukup lama Amara menunggu Aga mengangkat panggil telfonnya. Hingga akhirnya pada percobaan ketiga, panggilan telefon pun terhubung dengan Aga.
"Apa Kak Aga sudah sampai di rumah?" Sebuah pertanyaan Amara lontarkan saat Aga mempertanyakan tujuannya menelefon Aga.
__ADS_1
"Sudah. Aku sudah sampai setengah jam yang lalu." Jawab Aga.
"Setengah jam yang lalu?" Amara mengerutkan dahi. Jika benar Aga baru sampai setengah jam yang lalu, berarti ia dan Rendra lebih dulu sampai di ibu kota dibandingkan Aga.
"Ya." Aga menyahut singkat.
Keheningan sejenak menyelimuti Amara saat hatinya merasa ragu untuk meminta maaf pada Aga. Di seberang sana, Aga pun ikut diam menunggu Amara mengeluarkan suara.
"Kak Aga, apa Kak Aga marah karena aku pulang bersama Rendra?" Amara bertanya pelan dan hati-hati.
"Kenapa aku harus marah?" Suara Aga terdengar datar. Amara pun dapat membayangkan bagaimana ekspresi Aga saat ini.
"Karena aku pergi bersama Kak Aga dan pulang bersama Rendra. Aku jadi tidak enak membiarkan Kakak pulang sendiri." Cicit Amara.
"Jika kau merasa tidak enak, lantas kenapa tetap memilih pulang bersamanya?" Skak mat Aga.
__ADS_1
***