Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Siapa Yang Sudah Membantu?


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi dari cleaning service, Amara dan Agatha segera melangkah pergi menuju ruangan operasi berada. Setibanya di ruang tunggu operasi, Amara dan Agatha langsung saja menghampiri Sisil yang nampak duduk tertunduk di kursi tunggu.


"Sisil..." Amara menyebut nama Sisil pelan seraya melangkah mendekat pada Sisil.


Mendengar suara yang terdengar tidak asing di telinganya membuat Sisil mendongak menatap ke sumber suara.


"Amara!" Sisil terkesiap menatap calon istri dari bosnya berada di tempat yang sama dengannya. Sisil pun sontak bangkit dari duduknya dan menatap Amara intens. "Kalian sedang apa di sini?" Tanya Sisil penasaran.


"Aku datang untuk menjenguk ibumu. Tapi waktu aku masuk ke dalam ruangan perawatan ibumu, aku tidak menemukan siapa-siapa di sana. Dan saat cleaning service masuk ke dalam ruangan ibumu, dia mengatakan jika ibumu sedang dioperasi."


Sisil mengulas senyum mendengar perkataan Amara. "Iya, Amara. Ibuku sedang dioperasi." Jawabnya.


"Tapi..." Amara meragu untuk bertanya.


"Kemarin sore aku mendapatkan informasi dari pihak administrasi rumah sakit jika jaminan kesehatan Ibu sudah bisa digunakan karena biaya tunggakannya sudah dibayarkan oleh seseorang. Biaya lainnya yang tidak ditanggung oleh pihak rumah sakit pun sudah dibayarkan oleh orang tersebut. Dan setelah menjelaskan hal tersebut, pihak rumah sakit menawarkan kepadaku untuk segera melakukan tindakan untuk operasi ibu." Jelas Sisil panjang lebar.

__ADS_1


"Apa... siapa orang baik yang sudah membantumu itu, Sisil?" Tanya Amara penasaran.


Sisil mengangkat kedua bahunya. "Aku juga gak tau, Mara. Aku sudah bertanya tapi pihak rumah sakit dan pihak jaminan kesehatan Ibu seakan ingin menutupinya. Sampai sekarang aku tidak tahu siapa orang yang sudah berbaik hati membantu biaya rumah sakit Ibu."


Amara menghembuskan napas lega karena saat ini Ibu Sisil sudah bisa dioperasi walau bukan karena bantuan darinya.


"Syukurlah kalau begitu, Sil. Semakin cepat ibumu dioperasi maka semakin baik." Ucap Amara seraya mengulas senyum.


Sisil menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Amara. "Terima kasih, Amara. Aku sungguh bersyukur karena Tuhan memberikan sosok baik hati yang bisa membantuku keluar dari permasalahanku saat ini." Ucap Sisil lega.


Amara dan Agatha saling pandang kemudian tersenyum bersamaan.


Kerutan halus tercetak di dahi Sisil. "Apa itu, Mara?" Tanyanya penasaran.


Amara segera mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan menyerahkannya pada Sisil.

__ADS_1


"Ini, ada sedikit uang untukmu dan ibumu. Semoga saja uang ini bisa membantu biaya perawatan ibumu untuk ke depannya." Ucap Amara.


"Ma-mara..." Sisil tergugu. Menatap sebuah amplop berukuran tebal yang diberikan Amara untuknya.


"Terimalah, Sisil." Amara segera memindahkan amplop yang berada di tangannya ke tangan Sisil.


"Mara..." Sisil tak sanggup untuk berkata-kata. Ia akhirnya mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan memeluk tubuh Amara erat sambil menangis.


Mendengar Sisil menangis karena rasa harunya membuat Amara jadi ikut menangis karenanya.


"Terima kasih, Mara. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membalas segala kebaikanmu." Cicit Sisil terbata.


Amara mengangguk seraya mengusap punggung Sisil. "Sesama manusia kita sudah ditugaskan untuk saling membantu satu sama lain. Dan saat ini adalah tugasku untuk membantumu."


Sisil semakin tak sanggup untuk berkata-kata melihat dan mendengar segala kebaikan Amara kepadanya setelah apa yang dilakukannya pada Amara kemarin.

__ADS_1


"Amara memang sebaik itu. Jika aku yang menjadi Amara, mungkin saat ini aku tidak akan mau membantu Sisil karena rasa sakit hatiku telah dituduh habis-habisan oleh Sisil saat itu." Gumam Agatha dalam hati. Melihat sikap Amara saat ini, Agatha jadi mulai belajar untuk bisa berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.


***


__ADS_2