Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Mara, ini." Aga menyerahkan cone es krim yang ia pegang pada Amara.


Tanpa berniat bertanya, Amara menerimanya. Kemudian memakan cone tersebut hingga habis tak tersisa. "Tidak masalah bukan jika aku makan bekas Kak Aga. Eh, tapi itu kan awalnya cone milikku." Ucap Amara dalam hati.


Amara pun mengajak Aga duduk di kursi taman yang masih kosong berada dekat dengan bawah pohon. Dari arah mereka duduk saat ini, mereka dapat melihat banyaknya anak-anak yang sedang berlarian di taman dan bermain ayunan.


"Jadi teringat Zel waktu kecil dulu deh." Gumam Amara menatap ke arah gadis kecil yang nampak sedang bermain ayunan bersama dengan ibunya.


Mendengar gumaman Amara, Aga mengikuti arah pandangan Amara saat ini. Seulas senyum nampak terbit di wajah tampan Aga mengingat hal yang sama seperti yang Amara ingat saat ini.


"Sekarang Zel sudah besar. Di sudah jarang bermain ayunan seperti anak itu kalau bermain di taman." Komentar Aga.


Amara menarik sebelah sudut bibir ke samping. "Iya. Zel sekarang lebih suka mengalah pada anak-anak yang ingin bermain ayunan juga." Jawab Amara.


Keduanya pun tersenyum secara bersamaan.

__ADS_1


"Ini Kak Aga dimakan dulu." Amara menyerahkan plastik berisi jajanan yang tadi mereka beli pada Aga.


Aga menatap jajanan tersebut dengan dahi mengkerut. "Makanlah, aku tidak mau." Tolak Aga. Ia tidak berselera untuk memakan jajanan yang diberikan oleh Amara.


Amara mencebikkan bibir. Kemudian mengeluarkan satu tusuk otak-otak dan menyerahkannya pada Aga. Walau pun sedikit merasa canggung, namun Amara mencoba tetap bersikap tenang. "Ini, Kak. Ayo coba dimakan dulu. Mana tahu Kakak suka." Amara menawarkan dengan sedikit memaksa.


Aga tak kuasa untuk menolaknya. Terlebih Amara sudah seperti ingin menyuapkan otak-otak tersebut ke dalam mulutnya. Bukannya mengambil lidi dari tangan Amara, Aga justru membuka mulutnya seakan ingin Amara melanjutkan gerakan tangannya untuk menyuapinya.


Deg


Degeb jantung Amara terasa bekerja sangat Ā cepat setelah menyuapkan otak-otak tersebut ke dalam mulut Aga. Ada rasa hangat yang Amara rasakan di kedua pipinya setelah menarik lidi dari mulut Aga.


"Ternyata enak juga." Aga berkomentar setelah mencoba mengunyah otak-otak yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


Kedua sudut bibir Amara tertarik sempurna. "Memang enak, Kak. Makanya aku membelinya. Apa Kakak mau lagi?" Amara menyerahkan bungkus plastik pada Aga.

__ADS_1


Aga menatapnya sejenak kemudian mengambil satu lidi yang berisi chikua.


Amara kembali tersenyum melihat ekspresi Aga yang datar sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya. Tak ingin terlalu lama memperhatikan Aga, Amara pun segera mengambil satu tusuk chikua dari dalam plastik kemudian memakannya.


Rasa canggung yang awalnya Amara rasakan karena berada sangat dekat dengan Aga akhirnya menghilang dengan berjalannya waktu. Tanpa keduanya sadari, kini plastik berisi jajanan yang tadi mereka beli sudah habis tak tersisa.


"Apa Kak Aga mau lagi?" Amara menawari karena melihat Aga seperti ketagihan memakan jajanan tersebut.


Aga menggeleng. "Tidak. Sudah cukup." Jawabnya.


Amara mengangguk saja kemudian menatap kembali ke arah anak-anak yang sedang berlarian di depannya.


Saat Amara sedang asik mengarahkan pandangan ke sekitar taman, tanpa diduga Amara tiba-tiba saja melihat seorang sosok yang sangat dikenalinya kini sedang berjalan tidak jauh darinya bersama seorang wanita yang terlihat asing di mata Amara.


"Rendra?" Gumam Amara sambil menatap pria yang ia sebutkan namanya.

__ADS_1


***


Teman-teman boleh bantu rate bintang 5nya dulu ya sebelum lanjut🄰


__ADS_2