Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Amarah Daniel


__ADS_3

Apa yang sudah terjadi pada Amara di perusahaan sore itu akhirnya sampai di telinga Daniel yang sedang berkunjung bersama anak dan istrinya malam itu ke kediaman mertuanya.


Mendengar cerita dari ayah mertuanya tentang Amara hingga membuat Amara menjadi demam malam ini membuat darah Daniel terasa mendidih.


"Keparat! Berani sekali mereka mengatai istri dan adikku seperti itu!" Daniel mengepalkan kedua tangannya. Jika tidak mengingat ada ayah mertuanya di sampingnya saat ini, rasanya Daniel tak akan segan meninju dinding untuk melampiaskan kekesalannya.


Ayah Arif menghela napas melihat kemarahan di wajah Daniel saat ini. Bukannya berniat ingin mengadu, hanya saja Ayah Arif merasa apa yang terjadi pada Amara tadi sore sepertinya harus diberi tahu pada Daniel agar menantunya itu dapat bergerak untuk memperbaiki keadaan yang sedang memburuk.


"Ayah tenang saja. Besok aku akan menyelesaikan masalah ini!" Ucap Daniel dengan wajah merah padam. Bukan hanya marah karena karyawan Aga menghina Amara, namun Daniel juga naik darah karena istrinya yang tidak tahu apa-apa juga ikut dibawa. Pantas saja Amara sampai melakukan perlawanan sebab adik iparnya itu sangat menyayangi istrinya dan tak akan mau kakaknya dihina oleh orang lain.


"Ayah harap kau bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin." Pesan Ayah Arif. Selama mengenal Daniel, Ayah Arif cukup tahu bagaimana menantunya itu dalam membasmi para hama yang sudah bermain-main dengan keluarganya.


Daniel tak memberikan tanggapan karena ia tak bisa berjanji untuk itu.

__ADS_1


Di dalam kamar, Naina nampak tengah mengompres kepala Amara yang masih terasa hangat. Zeline yang duduk di samping Amara pun mengusap pipinya yang basah sebab menangisi Antynya yang sedang sakit.


"Anty jangan sakit. Zel kan jadi gak punya teman main kalau ke sini." Ucap Zeline.


Amara tersenyum seraya mengusap lemut paha Zeline yang duduk di sampingnya.


"Iya. Anty hanya demam biasa saja kok. Paling  besok juga sembuh." Ucap Amara menenangkan Zeline. 


Naina yang mendengarnya pun menghela napas. Karena terlalu banyak beban pikiran yang Amara rasakan akhir-akhir ini membuat imun adiknya itu menurun hingga jatuh sakit seperti ini.


Amara menggeleng lemah. "Mara tidak bisa, Kak. Mara sangat sakit hati karena mereka menghina Kakak juga. Mara tidak terima, Kak." Ungkap Amara.


Kedua bola mata Naina pun berkaca-kaca. Karena masa lalunya buruk, kini adiknya jadi terkena imbasnya.

__ADS_1


Malam itu Naina memilih menginap di rumah kedua orang tuanya untuk merawat Amara yang tiba-tiba jatuh sakit. Zeline pun ikut merawat Amara. Keduanya jadi tidak bisa tidur sebab panas di tubuh Amara semakin tinggi saat malam semakin larut.


Merasa cemas dengan keadaan Amara, Daniel pun memilih membawa adiknya itu ke rumah sakit malam itu juga tanpa peduli jika waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


**


Keesokan harinya.


Suasana di dalam ruangan lobby perusahaan Aga pagi itu terasa dingin dan mencekam saat Daniel tiba-tiba datang dan menatap dingin pada orang-orang yang kini sedang berkumpul di lobby perusahaan karena melihat kedatangannya.


"Marko, cepat bawa dua orang wanita yang sudah menghina keluargaku ke sini!" Perintah Daniel pada asistennya yang ikut ia bawa datang ke perusahaan Aga.


Marko mengangguk paham. Kemudian pandangannya tertuju pada dua sosok wanita yang nampak gemetar setelah mendengar perintah Daniel kepadanya.

__ADS_1


***


__ADS_2