Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Kenapa Tidak Memberitahu?


__ADS_3

Aga melangkah. Membelah kerumunan karyawan yang sedang berkumpul di lobby. Hingga akhirnya kini ia sudah berada tepat di hadapan Daniel. 


"Ada apa ini, Daniel?" Tanya Aga pada adik sepupunya itu. Melihat wajah Daniel yang nampak tak bersahabat membuat Aga menyimpulkan jika sudah terjadi sesuatu di perusahaannya sehingga membuat Daniel menjadi murka.


"Tanyakan saja pada kedua karyawan Kakak ini apa yang sudah mereka lakukan!" Pandangan Daniel terhunus pada dua orang wanita yang berada dekat dengannya.


Ane dan Sisil semakin bergetar. Harap-harap cemas setelah melihat kedatangan Aga.


Aga yang cukup mengenal dua orang wanita di depannya saat ini pun menatap keduanya dengan tatapan menuntut meminta jawaban.


"Ayo jelaskan apa yang sudah kalian perbuat!" Tekan Daniel. 


Sisil menyenggol lengan Ane meminta Ane untuk menjawab. Bukannya menjawab, Ane justru menyenggol lengan Sisil balik.


Melihat sikap keduanya lantas saja membuat Marko geram hingga mengambil alih tugas mereka dengan memutar kembali rekaman cctv yang ada di ponselnya.


Pandangan Aga pun kini berpusat pada ponsel di tangan Marko. Ia menonton video berdurasi sepuluh menit itu dengan kedua tangan terkepal.

__ADS_1


"Apa-apaan ini!" Suara Aga terdengar keras dan menggelegar.


Ane dan Sisil dibuat terkejut hingga mengusap dada. 


"Maafkan kamu, Tuan. Kami khilaf sehingga berbuat seperti itu." Sisil dan Ane saling mengatupkan kedua tangan di dada. Berharap permohonan mereka dapat diampuni oleh Aga.


"Kalian bilang khilaf!" Darah Aga terasa mendidih. Sakit hati sekali ia melihat wanita pujaan hatinya dicecar perkataan menyakitkan yang keluar dari mulut Ane dan Sisil.


"Kalian bukan hanya menghina Amara saja tapi adik ipar saya juga!" Sentak Aga. Rasa sakitnya menjadi bertambah karena bagian dari keluarganya yang lain juga ikut dihina.


Ane dan Sisil yang menyadari suasana semakin mencekam pun bersujud dihadapan Aga. Melihat pergerakan keduanya lantas saja membuat Aga memundurkan langkah. Ia tak ingin melihat orang bersujud di hadapannya.


Ane dan Sisil menggeleng. Mereka sangat takut dengan kondisi mereka yang terancam.


Melihat itu membuat Aga semakin menjauh dan akhirnya memilih berdiri tepat di sebelah Daniel.


"Apa kalian tidak sadar jika tugas kalian di sini adalah untuk bekerja bukan untuk menggibah!" Ucap Aga keras.

__ADS_1


"Kami salah, Tuan. Kami mohon maafkan kami." Ane dan Sisil kembali memohon. Tidak tahu hal apa lagi yang harus mereka lakukan selain memohon pada Aga.


Suasana di dalam lobby pun semakin ramai dengan kerumunan karyawan yang baru saja datang dan baru saja turun dari lantai tempat mereka bekerja untuk melihat kejadian di lobby saat ini.


"Sungguh memalukan. Sayang sekali Kak Aga menggaji orang-orang seperti mereka hanya untuk menggibah di perusahaan ini! Mereka bahkan tidak segan menjelekkan salah satu anggota keluarga dari pemilik perusahaan ini!" Geram Daniel.


Aga menatap datar wajah adik sepupunya yang masih terlihat tak bersahabat. Kemudian mengalihkan pandangan pada asistennya, Cakra.


"Kenapa kau tidak memberitahukan hal ini kepada saya sejak kemarin!" Sentak Aga. Sungguh Aga yakin jika Cakra sudah mengetahui kejadian itu sejak kemarin.


"Karena aku yang memintanya. Aku tidak ingin urusan Kakak dan Paman Andrew tidak selesai karena memikirkan Amara." Sahut Daniel.


Ya, alasan terbesar Cakra tak memberitahu Aga tentang apa yang terjadi di perusahaannya kemarin karena perintah dari Daniel. Sepupu Aga itu tak ingin Aga yang sedang dipusingkan dengan permasalahan perusahaan cabang mereka di luar negeri buyar karena permasalahan Amara.


Aga terasa sulit mengontrol emosi dan rasa bersalahnya saat ini. Untuk menyelesaikan permasalahan yang ada secara lebih cepat, Aga mengalihkan pandangannya pada Cakra.


"Cakra, kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan pada orang yang sudah berani menghina keluarga saya?" Tanya Aga dengan tatapan dingin hingga membuat para karyawan yang melihatnya bergedik ngeri.

__ADS_1


***


__ADS_2