Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Hanya Amara


__ADS_3

Agatha terdiam tak dapat menyahut perkataan Amara. Dan kali ini ia tidak bisa memberikan semangat lagi untuk Amara yang sepertinya sudah lelah.


"Mara, sampai kapan pun itu aku selalu menginginkan kau lah yang akan menjadi kakak iparku dan aku berdoa untuk itu. Tapi aku juga tidak memaksa agar kau bisa terus berjuang. Berhenti lah jika kau memang lelah." Ucap Amara kemudian sambil mengusap lengan Amara.


Amara tersenyum tipis mendengarnya. "Aku akan berhenti jika sudah tiba saatnya." Jawab Amara.


Agatha mengangguk saja. "Jangan bersedih lagi ya. Lebih baik sekarang kita menonton film saja." Ajak Agatha.


"Aku ingin mandi dulu. Rasanya kepalaku sudah panas dan membutuhkan air untuk mendinginkannya."


"Baiklah. Kalau begitu aku menonton sendiri saja."


Amara mengangguk saja. Ia membiarkan sahabatnya itu menghidupkan televisi di dalam kamarnya sementara dirinya bersiap untuk mandi.


"Mara, Kak Aga, aku hanya bisa berdoa tapi aku tidak bisa menentukan takdir siapa yang akan menjadi jodoh kalian masing-masing." Gumam Agatha sambil menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup dari dalam.


*


Kesedihan yang Amara rasakan saat itu sedikitnya hilang karena kehadiran Agatha di rumahnya. Agatha memang sangat pandai merubah suasana hatinya yang gundah menjadi ceria kembali dengan berbagai cara. Agatha yang melihat sahabatnya tak lagi bersedih setelah ia menceritakan keseruan di dalam butiknya hari ini pun merasa senang dalam hati.

__ADS_1


Tepat pukul delapan malam, kebersamaan keduanya pun terhenti karena Ibu Fatma dan Ayah Arif sudah kembali ke rumah dan Agatha memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


"Hati-hati di jalan. Kabari aku kalau sudah sampai." Pesan Amara.


Agatha mengiyakannya lalu masuk ke dalam mobil miliknya. Amara pun segera masuk ke dalam rumahnya setelah mobil milik Agatha menjauh dari pandangannya.


"Terima kasih Gatha karena kau sudah membuat kesedihanku sedikit berkurang." Gumam Amara sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


*


Agatha kini sudah tiba di rumahnya. Kakinya melangkah dengan lebar masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah dimana Papa Andrew dan Aga kini berada.


"Sudah, Pah." Agatha segera mengulurkan tangan menyalimi Papa Andrew lalu beralih pada Agatha.


"Apa sudah makan malam?" Tanya Papa Andrew.


"Sudah, Pah. Gatha sudah makan di rumah Mara tadi."


Papa Andrew mengangguk saja.

__ADS_1


Pandangan Agatha pun beralih pada sang kakak yang nampak menatapnya dengan datar.


"Kak Aga, teman Kakak yang bernama Kak Anjani itu sudah kembali ke sini ya?" Tanya Agatha walau ia sudah mengetahui jawabannya.


"Sudah. Kau tahu dari mana?" Tanya Aga.


"Dari storynya. Aku lihat dia sudah bekerja di perusahaan keluarganya."


Aga menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Agatha. Ia pikir Agatha mengetahui Anjani sudah kembali ke tanah air dari cerita Amara mengingat keduanya baru saja bertemu.


"Apa Kak Anjani sudah menikah saat ini, Kak?" Tanya Agatha. Informasi tersebut sangat ia butuhkan saat ini.


"Belum." Jawab Aga singkat tanpa penjelasan.


Agatha menahan sebal dalam hati mendengar jawaban Aga. Bagaimana tidak, jika Anjani belum menikah maka akan besar peluang untuk Aga dan Anjani untuk dekat.


"Oh begitu." Agatha mengangguk-anggukkan kepalanya lalu berpamitan masuk ke dalam kamarnya sambil bergumam dalam hati.


"Kak Anjani, Kakak memang wanita yang baik tapi maaf aku hanya menginginkan Amara yang menjadi iparku."

__ADS_1


***


__ADS_2