
"Oh ya, Gatha. Apa Kak Anjani belum menjenguk Kak Aga di sini?" Tanya Amara.
Agatha memicingkan kedua matanya menatap wajah Amara. "Kenapa kau bertanya tentang Kak Anjani?" Selidiknya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja. Soalnya Kak Anjani terlihat begitu perhatian pada Kak Aga."
Agatha melipat bibir menahan senyum. "Begitu ya, Mara." Ucapnya sedikit menggoda.
Amara pun mengangguk mengiyakan perkataannya.
"Kalau untuk itu aku tidak tahu. Tapi beberapa hari yang lalu aku sempat melihat story Kak Anjani yang sedang berada dalam perjalanan menuju luar negeri."
"Apa, ke luar negeri?"
Agatha menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Mungkin Kak Anjani ingin menemui seseorang di sana."
"Oh..." Amara memilih mengangguk saja dan tak lagi banyak tanya.
Keheningan sejenak menyelimuti Amara dan Agatha. Keduanya mulai sibuk dengan pemikiran masing-masing. Jika Agatha memikirkan rencana apa lagi yang akan dilakukan Richard untuk membuat hidupnya menjadi susah, sementara Amara memikirkan tentan Rendra yang tidak kunjung ada kabar.
"Oh ya, Mara, bagaimana hubunganmu saat ini dengan Richard?" Tanya Agatha.
__ADS_1
Amara menghela napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan di udara. "Masih begini saja, Gatha. Sudah beberapa hari ini aku lost kontak dengannya."
"Apa, maksudnya bagaimana?" Agatha meminta penjelasan.
"Rendra sulit dihubungi akhir-akhir ini. Bahkan, whatsappnya tidak aktif sejak kemarin."
Agatha mengerutkan dahi. Merasa tidak percaya dengan perkataan Amara. Seingatnya, Rendra adalah orang yang paling menantikan balasan pesan dari Amara. Terlebih dari pada itu, Rendra juga tidak mungkin mengabaikan Amara mengingat ia sangat menginginkan Amara.
"Tapi kemarin Ibu sempat bercerita kepadaku.
Katanya Rendra membeli bahan bangunan di toko ayah dan ibu bersama dengan seorang wanita."
"Apa?" Kedua kelopak mata Agatha terbuka lebar. "Bersama seorang wanita, siapa wanita itu, Mara?" Tanya Agatha penasaran.
Agatha diam dan mengingat-ingat. "Setahuku Rendra tidak memiliki saudara perempuan. Apa mungkin saudara jauhnya, ya?"
Amara mengedikkan bahu. "Entahlah, aku tidak tahu."
"Jangan berpemikiran buruk dulu, Mara. Mungkin saja wanita itu adalah saudara Rendra yang tidak kita ketahui selama ini."
"Ya, aku mencoba untuk tetap berpemikiran positif. Tapi... kenapa Rendra sampai mematikan whatsappnya? Tidak biasanya sekali."
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu untuk itu. Aku akan mencoba menghubunginya nanti kalau sudah pulang."
Amara mengusap lengan Agatha. "Baiklah, terima kasih sudah membantu."
Agatha mengangguk seraya tersenyum.
"Oh ya, lalu bagaimana dengan pesanan Tuan Richard kemarin, apa kau sudah menyelesaikan pesanannya dengan baik?"
Agatha menganggukkan kepalanya. "Kalau tidak dia akan membuat hidupku menjadi tidak tenang. Jadi lah aku mengorbankan waktu istirahatku untuk mengerjakan pesanannya yang tidak masuk di akal."
Amara tertawa kecil melihat kekesalan di raut wajah Agatha saat ini.
Kedatangan Papa Andrew yang telah kembali dari ruangan dokter menghentikan percakapan antara Amara dan Agatha.
"Gatha, Papa ingin pulang dulu karena ada sesuatu yang ingin Papa ambil di rumah. Apa kau tidak masalah di sini dulu bersama dengan Amara?" Tanya Papa Andrew.
"Tidak masalah, Pa. Kita bisa bergantian untuk pulang."
Amara yang mendengarkannya pun menyahut. "Kau ingin pulang ke rumah juga, Gatha?"
"Iya. Aku ingin mandi dan mengambil beberapa pakaian gantiku di rumah untuk dibawa ke rumah sakit."
__ADS_1
Amara mengangguk paham. "Kalau begitu kau bisa sekalian pulang saja dengan Paman. Biar aku yang menemani Kak Aga di sini."
***