Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Tiba-tiba Datang


__ADS_3

Amara tak memperdulikan panggilan tak terjawab dari Aga. Ia memilih segera mandi dan bersiap-siap untuk pertemuan pagi ini di salah satu perusahaan rekan bisnis Aga.


Setelah waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Amara segera turun ke lantai satu dimana resto berada untuk menikmati sarapan pagi di sana. Masuk ke dalam resto, Amara dibuat bingung karena hanya melihat keberadaan Aga di sana tanpa Anjani.


"Dimana Kak Anjani, Kak?" Tanya Amara pada Aga sebelum mengambil sarapan paginya.


"Anjani dan asistennya sudah kembali ke ibu kota subuh tadi." Jawab Aga seadanya


"Apa?" Amara terperangah. "Kenapa cepat sekali? Bukannya pagi ini Kak Anjani ingin ikut bersama kita ke perusahaan Tuan Tarmizi?"


"Ya, tapi Anjani membatalkannya. Dia memiliki urusan penting di ibu kota yang mengharuskannya segera kembali."


Penjelasan dari Aga dapat dimengerti oleh Amara. Amara tak lagi banyak tanya setelah ia mengerti jika Anjani sudah tidak berada di hotel yang sama dengan mereka saat ini.


**


Setelah tiga hari menghabiskan waktu di kota B, akhirnya waktu kembali ke ibu kota pun tiba. Mengingat pagi ini mereka sudah harus kembali ke ibu kota, Amara memilih bersiap lebih awal dan membereskan barang-barangnya di dalam kamar hotel.

__ADS_1


Tepat pukul setengah tujuh pagi, Amara sudah berada di lobby sambil membawa koper dan tas sandangnya.


"Kau sudah membawa semua barangmu turun ke bawah?" Tanya Aga yang baru saja bergabung dengan Amara. Aga terlihat tidak membawa barang apa pun. Dan Amara dapat menebak jika Aga meninggalkan barang bawaannya di dalam kamar hotel.


"Sudah, Kak. Tinggal check out saja."


Aga mengangguk paham. "Lebih baik kita sarapan dulu sebelum check out." Ajak Aga.


Amara yang merasakan lapar pada perutnya pun mengangguk mengiyakannya. Sebelum pergi ke resto hotel, Amara memilih menitipkan barang bawaannya pada petugas hotel lebih dulu.


**


"Amara," suara seorang pria memanggil nama Amara mengalihkan pandangan Amara ke sumber suara.


"Rendra!" Kedua kelopak mata Amara terbuka lebar menatap Rendra yang berdiri tidak jauh darinya berada.


Rendra melangkah dengan lebar ke arah Amara berada tanpa menyurutkan senyuman di wajah tampannya.

__ADS_1


"Kau ada di sini, Rendra?" Tanya Amara tak menyangka.


"Ya, aku datang untuk menjemputmu."


"Apa!" Semakin terbelalak saja Amara mendengar jawaban dari Rendra.


Rendra tertawa kecil melihat keterkejutan di wajah Amara.


"Kenapa kau tidak mengabariku lebih dulu jika kau akan datang ke sini?" Tanya Amara.


"Karena kalau aku memberitahukannya kepadamu itu namanya bukan lagi kejutan."


Amara menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tak percaya jika Rendra jauh-jauh datang dari ibu kota hanya untuk menjemputnya ke kota B.


Aga yang dapat mendengarkan dengan jelas percakapan keduanya pun berjalan mendekat setelah meletakkan koper di pinggir mobil.


"Kak Aga," Rendra tersenyum ramah pada Aga yang kini sudah berada di depannya. Aga pun hanya mengangguk mengiyakan sapaan Rendra. "Tidak masalah bukan jika aku membawa Amara pulang bersamaku, Kak?" Tanya Rendra dengan wajah yang masih tersenyum.

__ADS_1


Aga tak langsung menjawab. Ia justru menatap wajah Rendra dengan ekspresi tak terbaca.


***


__ADS_2