Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Yang Terbaik Untukmu


__ADS_3

Amara tergugu. Sulit untuk menjawab pertanyaan Aga. Terlebih dengan posisi mereka saat ini membuatnya sulit untuk berkata-kata.


Melihat Amara yang hanya diam saja membuat Aga tersenyum kemudian melepaskan pelukannya di tubuh Amara.


Merasakan pelukan tangan Aga sudah terlepas dari tubuhnya, entah mengapa membuat Amara merasa tak rela. Ingin sekali rasanya ia protes pada Aga agar kembali memeluk tubuhhnya. Namun niat tersebut tentu saja hanya bisa dipendam oleh Amara sebab masih merasa malu jika meminta dipeluk lagi oleh Aga.


Sementara Aga yang sebenarnya tak rela melepas pelukannya hanya bisa menahan keinginan dirinya agar tak lagi memeluk tubuh Amara karena takut acara peluk-pelukannya akan berlanjut dengan hal yang lebih jauh.


"Sekarang kita pulang, ya." Ucap Aga lembut sambil menatap Amara yang masih nampak canggung menatap kepadanya.


Amara menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Aga.


Setelah mendapatkan jawaban dari Amara, mobil milik Aga pun mulai melaju meninggalkan pekarangan restoran menuju kediaman Amara berada.


Selama berada di dalam perjalanan menuju kediaman Amara, Aga dan Amara lebih banyak diam seakan canggung untuk berbicara satu sama lain.

__ADS_1


"Amara..." suara lembut Aga menyebut namanya membuat pandangan Amara beralih pada Aga yang nampak juga sedang menatap kepadanya.


"Iya Kak Aga. Ada apa?" Tanya Amara. Mencoha bersikap tenang walau rasa canggung masih menyelimutinya.


"Kalau kita sudah menikah nanti, apa kau bersedia untuk tinggal hanya berdua denganku?" Tanya Aga.


"Kenapa Kakak bertanya seperti itu? Apa Kakak sudah berniat membawa Amara tinggal hanya berdua dengan Kakak setelah kita menikah nanti?"


Aga menganggukkan kepala. Mengiyakan perkataan Amara. "Menurutku tinggal terpisah dari orang tua setelah menikah adalah keputusan yang tepat. Selain bisa mendekatkan diri satu sama lain, kita juga bisa bebas melakukan apa pun tanpa ada rasa sungkan."


"Apa kau yakin?" Tanya Aga meyakinkan dirinya sebab ia tahu bagaimana dekat dan manjanya Amara sebagai anak bungsu pada ayah dan ibunya.


Amara mengangguk. "Mara yakin, Kak. Tidak ada alasan bagi Mara untuk menolak keinginan Kakak."


Aga mengulas senyum. Merasa lega sebab Amara begitu mudah menyetujui keinginannya untuk tinggal terpisah dari orang tua.

__ADS_1


"Oh ya, apa Kak Aga mau mengajak Mara tinggal di rumah Kakak yang dulu?" Tanya Amara.


Aga mengangguk membenarkannya. "Iya. Setelah menikah nanti, aku ingin membawamu tinggal di rumahku sendiri, Mara. Saat ini aku sedang melakukan renovasi pada rumah itu agar setelah kita menikah nanti, kau bisa tinggal dengan nyaman bersamaku di sana."


Kedua bola mata Amara berkaca-kaca mendengar perkataan sederhana Aga yang mampu membuatnya merasa haru setelah mendengarnya.


"Terima kasih Kak Aga karena sudah mau memberikan yang terbaik untuk Mara."


"Sama-sama. Sudah menjadi kewajibanku juga nantinya memberikan yang terbaik untuk istriku. Apa pun akan aku lakukan agar istriku bisa nyaman hidup bersamaku."


Amara semakin merasa haru mendengarnya. Ditatapnya wajah tampan Aga dengan penuh cinta.


"Jangan menatap wajahku seperti itu. Nanti aku bisa khilaf." Gumam Aga setelah mengalihkan pandangan dari wajah Amara yang membuatnya selalu candu untuk menatapnya.


"Khilaf kenapa, Kak?" Tanya Amara dengan wajah polosnya tak mengerti dengan maksud khilaf yang Aga maksud.

__ADS_1


***


__ADS_2