
Setelah menormalkan ekspresi wajahnya kembali, akhirnya Sisil pun melanjutkan niatnya untuk mengetuk pintu ruangan direktur hingga membuat percakapan dua orang di dalam sana terhenti.
Melihat ekspresi direktur dan divisi keuangan yang berada di dalam ruangan tersebut saat melihat kehadirannya membuat Sisil jadi tersenyum.
"Permisi.... saya mau membersihkan ruangannya, Bu..." ucap Sisil ramah.
Sang direktur baru mengiyakan perkataan Sisil dan meminta anggotanya untuk keluar dari dalam ruangan.
Melihat mantan rekan kerjanya keluar begitu saja tanpa berniat menyapa dirinya tak membuat Sisil menjadi sedih. Ia justru tersenyum seakan tidak mempermasalahkan sikap orang tersebut kepada dirinya.
"Fokus pada pekerjaanmu saja Sisil. Jangan pedulikan orang-orang yang tidak menyukaimu." Gumamnya menyemangati diri.
**
Setelah selesai membersihkan seluruh ruangan di lantai delapan, Sisil segera meletakkan kembali alat kebersihannya di ruangan khusus peralatan kebersihan. Setelah siap, ia segera melangkah ke arah ruangan khusus OB berada untuk menikmati sarapan pagi sejenak sebelum melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Hai Sisil." Suara Ane terdengar menyapa saat Sisil baru saja masuk ke dalam ruangan OB.
"Hai Ane..." Sisil mengulas senyum kemudian mendekati teman baiknya itu.
__ADS_1
"Sisil, pagi ini aku terlalu semangat memasak hingga memasak makanan cukup banyak." Beri tahu Ane.
"Oh ya?" Sisil mengembangkan senyum. "Tumben sekali kau rajin begini, Ane." Kelakarnya.
Ane jadi tertawa. "Maklum saja. Kita kan harus berhemat karena gaji yang sekarang jauh berbeda dari gaji kita dulu."
Sisil mengangguk membenarkan perkataan Ane.
"Sisil, karena aku masak cukup banyak pagi ini, jadi aku membawa bekal sarapan dan makan siang lebih untukmu." Ucap Ane kemudian mengeluarkan dua buah kotak bekal untuk Sisil.
"Ane... kenapa repot-repot begini," Sisil merasa sungkan.
Sisil menatap wajah Ane dengan kedua bola mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Ane. Kau sudah terlalu baik kepadaku."
"Sama-sama. Sekarang ayo makan." Ajak Ane lagi tak ingin memperpanjang percakapan di antara mereka. Kemudian ia membantu membuka kotak bekal sarapan berisi nasi goreng untuk Sisil.
Sisil menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menatap pada sebuah roti yang tadi sempat ia beli di kantin rumah sakit untuk sarapannya pagi ini. Karena roti tersebut tidak jadi ia makan pagi ini, Sisil berniat untuk menjadikannya bekal untuk makan malam nanti. Hitung-hitung mengirit biaya makan malam.
"Oh ya, Sisil, kemarin sore kau tidak terjebak hujan kan saat pulang? Aku mencemaskan dirimu kemarin. Terlebih kau tidak membalas pesan yang aku kirim." Ucap Ane sebelum menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Sisil terdiam. Bingung apakah harus menjawab jujur atau tidak pada Sisil. Merasa jika berbohong hanya akan membuatnya jadi berdosa, Sisil pun akhirnya jujur jika dirinya terkurung hujan saat menunggu di halte bus.
"Jadi bagaimana kau pulang Sisil?" Tanya Ane. Wajahnya nampak cemas memikirkan nasib Sisil.
"Emh... itu..." Sisil kembali bingung harus menjawab apa.
Melihat kebingungan Sisil lantas saja membuat Ane mengerutkan dahi. "Kenapa diam saja, Sisil? Ayo jawab pertanyaanku." Pintanya.
Sisil menatap ke sekitarnya. Memastikan rekan kerjanya yang lain yang juga berada di dalam ruangan tersebut tidak mendengarkan perkataannya.
Ane yang merasa penasaran sampai tidak jadi menyuapkan kembali nasi ke dalam mulutnya.
Melihat wajah Ane yang sangat penasaran lantas saja membuat Sisil segera menjawab pertanyaan Ane.
"Aku pulang dengan Tuan Cakra. Tapi jangan bilang-bilang yang lain, ya." Ucap Sisil pelan nyaris berbisik.
"Apa?!"
***
__ADS_1