Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Perdebatan Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Cakra hanya bisa menghela napas mendengar Aga membandingkan dirinya dengan Amara. Ingin sekali rasanya Cakra mencibir atasannya itu sebab sikapnya saat ini tak berbeda jauh dengan sikap Aga. Namun, niat tersebut Cakra urungkan karena tidak ingin memperpanjang percakapan di antara mereka.


Setelah hari itu, Cakra mulai memikirkan saran Aga untuk cepat mengungkapkan cintanya pada Sisil. Namun setelah beberapa kali mencoba mengungkapkannya pada Sisil, Cakra selalu gagal. Bahkan Sisil dibuat bingung dengan maksud Cakra yang senang sekali datang ke rumahnya secara tiba-tiba tanpa maksud dan tujuan yang jelas.


Seperti saat ini, Sisil yang baru saja keluar dari dalam kamarnya berniat mengajak ibunya untuk makan malam dibuat terkejut melihat Cakra yang sudah berada di dalam ruang depan rumahnya dan sedang berbicara dengan ibunya.


"Tuan Cakra?" Ucap Sisil sambil melangkah mendekati Cakra.


Cakra yang disebut namanya mendongak. Menatap wajah Sisil yang tengah menatapnya dengan wajah bingung.


"Ada apa Tuan datang ke sini?" Tanya Sisil penasaran.

__ADS_1


"Kebetulan aku ada urusan di dekat sini dan ingin mampir sebentar sebelum pulang ke apartemen." Jawab Cakra.


Dahi Sisil mengkerut. Lagi-lagi ada saja alasan Cakra yang terbilang kurang masuk akal. Ingin sekali Sisil bertanya, kenapa Cakra ingin mampir ke rumahnya yang jauh dari kata layak dan mungkin tidak membuat Cakra nyaman?


"Oh ya, katanya Nak Cakra belum makan malam. Jika berkenan, bagaimana kalau Nak Cakra makan malam di sini saja. Kebetulan tadi sore Sisil udah masak makanan yang enak untuk malam ini." Ajak Bu Linda.


"Wah, kalau tidak merepotkan tidak masalah, Bu." Jawab Cakra semangat. Jika kemarin ia hanya sekedar mampir saja, kini sudah ada kemajuan dengan makan malam bersama juga. Cakra jadi senang karena sedikitnya ada kemajuan di antara hubungannya dengan Sisil.


Mendengar jawaban Cakra lantas saja membuat Sisil terperangah. Bagaimana bisa orang berpengaruh seperti Cakra mau menikmati makanan sederhana yang dibuat olehnya? Sungguh, sikap Cakra saat ini membuat Sisil semakin bingung.


**

__ADS_1


Di tengah persiapan itu, sesekali Amara dan beradu argumen karena berbeda pendapat. Dan pada akhirnya keduanya saling mengalah menyerahkan semua keputusan pada pihak WO dan keluarga mereka saja.


"Kenapa semakin dekat pernikahan justru aku dan Kak Aga sering berdebat, ya?" Gumam Amara setelah membalas pesan dari Aga yang membahas tentang konsep pernikahan mereka yang rencananya akan diubah.


Amara jadi bingung, karena semakin dekat hari pernikahannya dan Aga, semakin ada saja masalah yang datang kepadanya dan Aga.


"Itu namanya ujian menjelang pernikahan, Amara." Ucap Naina yang baru saja masuk ke dalam kamar Amara.


Amara mengalihkan pandangan ke sumber suara. "Kak Naina," ia tersenyum menatap wajah kakaknya itu.


Naina membalas senyuman di wajah Amara kemudian duduk di sisi ranjang yang bersebelahan dengan Amara. "Mara, Kakak harap kau lebih bisa bersikap bijak menanggapi masalah yang datang sebelum hari pernikahanmu tiba." Pesan Naina sambil mengusap lengan Amara. Sebagai anak bungsu di keluarganya, Naina tahu betul bagaimana keras kepalanya Amara. Walau sudah menyadari jika dirinya salah, terkadang Amara masih saja bersikap kekanakan untuk mengikuti egonya sendiri.

__ADS_1


***


Wah, sebentar lagi ada yang mau tamat nih🤭


__ADS_2