Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Masih Istri Orang


__ADS_3

Aga tak langsung bersuara. Ia memilih menatap dalam kedua bola mata Anjani. Tatapan mata Aga lantas saja membuat Anjani salah tingkah dan merasa berbunga ditatap demikian oleh Aga. Aga tak memutus tatapan di antara mereka walau dapat melihat gerak-gerik salah tingkah Anjani.


"Anjani, sejak dulu aku dan kau berteman dengan baik. Aku juga mengharapkan hal yang sama sampai saat ini. Aku harap tidak ada rasa lain di dalam hatimu untukku selain menganggapku sebagai seorang teman." Ucap Aga pelan namun terdengar tegas.


Jantung Anjani sejenak berhenti berdetak mendengarkan kalimat yang Aga lontarkan. "Hanya menganggapmu sebagai seorang teman?" Lirih Anjani.


"Ya. Sama seperti aku hanya menganggapmu sebagai seorang teman. Sejak dulu aku cukup nyaman berteman denganmu dan teman-teman kita yang lainnya. Aku tidak ingin kita melibatkan perasaan di dalam hubungan pertemanan kita."


"Kenapa kau berkata seperti itu, Aga?" Bibir Anjani bergetar saat bersuara.


"Aku merasakan hal aneh akhir-akhir ini. Perubahan sikapmu yang sangat terlihat. Seperti tadi, kau menelefon Amara mempertanyakan keberadaanku dan mempertanyakan hal yang sebenarnya tidak perlu kau tanyakan kepadanya."

__ADS_1


"Apa dia mengadu kepadamu?" Anjani langsung menyahut. Geram sekali ia pada Amara si pengadu saat ini.


"Tidak. Amara tidak mengadu apa-apa. Aku yang bertanya kepadanya kepada kau menelefonnya."


Anjani mengepalkan sebelah tangan di bawah meja. Tetap saja ia menganggap Amara sebagai wanita pengadu saat ini. Kedatangan seorang pelayan membawa pesanan minuman mereka sejenak menghentikan percakapan keduanya. 


"Terima kasih," ucap Aga setelah pelayan menghidangkan minuman untuknya.


Pelayan mengangguk lalu berpamitan untuk pergi. 


Anjani tak mengeluarkan suara. Ia hanya mengangguk mengiyakan perkataan Aga. Anjani segera menyeruput kopi yang terasa hangat di lidahnya. Pun dengan Aga yang ikut menyeruput minumannya.

__ADS_1


"Mungkin perkataanku ini terdengar tidak menyenangkan di telingamu, namun aku harap setelah ini kau tidak lagi melibatkan Amara jika kau sedang mencariku. Aku tidak ingin Amara dan kau saling tidak nyaman jika sedang bertemu karena sikapmu itu." Tutur Aga.


Dada Anjani kembali bergemuruh. Perkataan Aga saat ini seakan menekankan kepadanya untuk bisa menjaga kenyamanan seorang Amara. "Apa aku salah jika bertanya kepadanya? Aku hanya ingin tahu kenapa kalian pergi tanpa mengajakku." 


Aga menghela napas dalam. Dapat ia lihat kekesalan di wajah Anjani saat ini. "Salah, seharusnya kau bertanya langsung kepadaku saja karena aku yang mengajak Amara ikut denganku."


"Baiklah. Aku mengerti kau sangat menjaga perasaannya." Jawaban Anjani terdengar sedikit sinis saat ini.


Aga tak memperdulikannya. Ia lantas saja melanjutkan perkataannya. "Anjani, aku juga menjaga perasaan seorang pria yang masih berstatus sebagai suamimu saat ini. Aku tidak ingin jika dia menjadi salah paham jika kau selalu ikut pergi denganku."


"Stop, Aga! Jangan membahas tentangnya. Dia bukan lagi suamiku dan kau tahu itu!" Anjani merasa tak suka Aga membahas masa lalunya bersama pria yang sama sekali tidak diharapkannya.

__ADS_1


"Dia masih suamimu. Belum ada kata talak yang keluar dari dalam mulutnya." Aga berucap lembut dan penuh penekanan. Ia tidak ingin karena rasa kecewa Anjani yang sangat besar pada suaminya membuat Anjani membohongi statusnya yang masih sah menjadi istri orang.


***


__ADS_2