Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Sesal Aga


__ADS_3

Daniel dan Aga kini sudah berada di rumah sakit tempat Amara di rawat. Sejak memasuki rumah sakit, Aga melangkah dengan tergesa-gesa hingga membuat Daniel harus mengimbangi langkahnya.


"Tenanglah, Amara hanya sakit biasa." Ucap Daniel setelah ia dan Aga masuk ke dalam lift.


Aga tak memberikan tanggapan. Walau Amara hanya terkena sakit biasa, namun ia tetap saja merasa cemas.


Daniel menghela napas melihat sepupunya yang tengah cemas berlebihan seperti saat ini.


Hingga akhirnya, pintu lift terbuka di lantai tempat Amara menginap. Dan lagi, Aga melangkah tergesa-gesa keluar dari dalam lift menuju ruangan rawat Amara.


"Aga, Daniel." Dara yang baru saja keluar dari dalam ruangan perawatan Amara terkejut melihat kedatangan adik dan sepupunya itu di jam bekerja seperti ini.


"Kak Dara," Aga menatap Dara dengan datar. "Apa Amara sudah baik-baik saja?" Tanya Aga. Walau bukan Dara yang menangani Amara saat ini, namun tetap saja Aga ingin bertanya.


"Sudah lumayan membaik. Panas di tubuhnya juga sudah mulai menurun." Jawab Dara seadanya. "Oh ya, kau ingin melihat keadaan Amara. Kalau begitu masuklah." Ucap Dara.


Aga mengangguk tanpa suara. Kemudian ia membuka pintu ruangan dan masuk ke dalamnya.

__ADS_1


"Sepertinya Aga cemas sekali dengan keadaan Amara saat ini." Ucap Dara pada Daniel yang belum ikut masuk ke dalam ruangan.


"Begitulah, Kak. Maklum saja sedang jatuh cinta."


Dara jadi tersenyum. "Oh ya, bagaimana permasalahan di perusahaan Aga. Apa kau sudah mengatasinya?"


Daniel menganggukkan kepala. "Mereka sudah dipecat oleh Kak Aga."


Dara menghela napas dalam. "Sebenarnya kasihan sekali mereka harus kehilangan pekerjaan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, etika mereka sangat kurang. Masa berani menggunjing dan melabrak saudara dari bosnya sendiri."


Dara mengangguk. "Kau ingin masuk juga? Kalau iya maka masuklah. Kakak ingin ke bawah dulu."


"Ya, aku ingin masuk." Setelah menjawab pertanyaan Dara, Daniel pun melangkah masuk ke dalam ruangan perawatan Amara. Dara pun pergi meninggalkan depan ruangan perawatan Amara.


Kedatangan Aga ke dalam ruangan perawatannya pagi itu membuat Amara yang sedang berbicara dengan Agatha terkejut melihatnya.


"Kak Aga..." Amara berucap lirih.

__ADS_1


Aga tak menyahut. Ia melangkah semakin lebar mendekati Amara.


Agatha yang melihat pergerakan Aga pun memilih menjauh. Memberikan ruang pada Aga untuk berbicara dengan Amara.


"Bagaimana keadaanmu saat ini?" Tanya Aga dengan raut wajah bersalah.


Amara mencoba tersenyum meskipun sulit. "Sudah lumayan membaik dari tadi malam. Oh ya, bagaimana Kakak bisa tahu aku dirawat di sini?" Tanya Amara dan pertanyaannya itu langsung terjawab saat melihat Daniel masuk ke dalam ruangannya.


Aga melihat ke arah Daniel sejenak kemudian kembali menatap pada Amara. "Kenapa tidak bilang jika sudah terjadi sesuatu kemarin sore di perusahaan? Kenapa diam saja. Kau membuatku cemas." Ungkap Aga.


Amara terkesiap. Ternyata Aga sudah mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi kepadanya kemarin sore. Jika Amara tidak salah menebak, sepertinya Aga mendapatkan informasi tersebut dari Daniel.


"Bukan masalah besar dan tidak harus dibesar-besarkan, Kak." Ucap Amara. Walau masih merasa sakit hati dengan kedua wanita yang sudah menuduhnya yang bukan-bukan kemarin, namun tetap saja Amara tak ingin mengadu.


"Bukan masalah besar tapi bisa membuatmu sakit seperti ini!" Wajah Aga nampak geram. Rasa bersalah di dalam hatinya pun semakin besar. "Maafkan aku, seharusnya aku tidak membuatmu berada dalam masalah seperti ini." Sesal Aga.


***

__ADS_1


__ADS_2