
"Penyakit musiman," Amara menggeleng tak mengerti dengan jawaban yang Cakra berikan.
"Iya, Nona. Dari pada penyakit saya kambuh lagi, lebih baik saya kembali masuk ke dalam ruangan saya saja." Sahut Cakra.
Kedua kelopak mata Amara semakin memicing mendengar perkataan Cakra.
"Tuan Aga, kalau sudah selesai berbicara dengan Nona Amara silahkan hubungi saya kembali," ucap Cakra pada Aga.
Aga menganggukkan kepala kemudian memberikan kode mengusir Cakra masuk ke dalam ruangan kerjanya lewat tatapan matanya.
"Asisten Kakak itu semakin hari semakin menyebalkan saja, ya." Gerutu Amara.
Aga tersenyum. "Biarkan saja dia. Selagi tidak mengganggu tidak masalah."
Amara menghela napas. Sepertinya mulai saat ini ia harus menyetok kesabaran sebanyak-banyaknya sebab Cakra senang sekali mencari gara-gara dengannya.
Melihat jam sudah menunjukkan waktu untuk mulai bekerja, Aga pun memilih kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya. Tak lupa Aga meminta Amara membuatkan kopi rasa cinta untuknya.
Amara yang diminta demikian pun tersenyum malu-malu kemudian melakukan tugasnya dengan baik sebagai sekretaris Aga.
__ADS_1
**
"Hahaha." Suara tawa beberapa orang terdengar menggelegar di telinga Cakra saat ia baru saja menginjakkan kaki di lantai delapan dimana tempat ruangan divisi keuangan berada.
"Gimana Sisil. Enak gak rasanya jadi cleaning service? Dulu saja kau sok berkuasa karena menjadi maneger keuangan di sini." Ucap seorang wanita yang dulunya bekerja sebagai bawahan Sisil.
Sisil yang mendengarkan ejekan mantan rekan kerjanya pun hanya diam dengan kepala tertunduk. Ia tidak berani melawan sebab tak ingin membuat masalah.
"Kenapa diam? Kau pasti malu kan karena ternyata jabatanmu jauh berada di bawah kami!" Wanita itu kembali mencecar Sisil.
Sisil hanya diam tak berniat untuk menjawab. Hari ini adalah hari ketiga ia mendapatkan ejekan dan makian di perusahaan Aga namun ia masih memilih diam tak membalasnya.
"Maksudmu bisu begitu?" Tanya wanita itu tersenyum miring.
"Ya," wanita yang ditanya pun mengangguk-angguk sambil tersenyum sinis.
"Permisi, saya mau melanjutkan pekerjaan saya." Sisil yang tidak ingin meladeni kedua wanita itu memilih untuk pergi.
Jelas saja melihat pergerakannya itu membuat dua wanita yang tadi mencibirnya tak terima dan menghadang langkah Sisil dengan mengayunkan kaki ke depan hingga membuat Sisil terjatuh karenanya.
__ADS_1
"Aw..." Sisil meringis merasakan sakit pada lututnya akibat terjatuh. Namun bukannya merasa iba, kedua wanita itu justru tertawa.
"Rasakan itu!" Ucap keduanya nyaris bersamaan.
Cakra yang sejak tadi memperhatikan tindakan mereka pun melangkah mendekati ketiganya.
"Apa-apaan ini!" Ucap Cakra keras hingga membuat kedua wanita itu dan Sisil terkejut melihat kehadiran Cakra.
"Tu-tuan Cakra." Kedua wanita itu terbata. Sementara Sisil memejamkan kedua kelopak matanya berharap masalah yang baru saja ia hadapi tak membuatnya kehilangan pekerjaan lagi.
"Apa yang sudah kalian lakukan di sini?!" Tanya Cakra pada dua orang wanita yang sudah membuli Sisil.
"Kami baru saja selesai membuang air kecil, Tuan." Jawab salah satu wanita itu dengan terbata.
Cakra mematap keduanya dengan tatapan mengintimidasi. Kemudian mengalihkan pandangan pada Sisil yang sedang berusaha untuk bangkit dari posisi duduk.
"Kalau begitu sekarang kembali ke ruangan kalian dan lanjutkan pekerjaan kalian!" Titah Cakra seakan ingin melepaskan kedua wanita itu begitu saja tanpa berniat membela Sisil yang sudah jelas dibuli oleh mereka.
Kedua wanita itu pun mengangguk kemudian berpamitan untuk pergi. Di dalam hati keduanya merasa lega sebab Cakra tak memperpanjang masalah di antara mereka.
__ADS_1
***