Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Sangat Manis


__ADS_3

"Kak Aga," Rendra yang cukup mengenali Kakak dari Agatha pun menyapa dan tersenyum pada Aga.


Aga hanya membalas sapaan Rendra dengan anggukan di kepalanya.


"Mara, kau tidak mau menyapa Kak Aga?" Tanya Rendra pelan.


"Emh, ya." Amara ikut menyapa Aga seraya tersenyum.


"Rendra, bagaimana kalau kita mengantri tiket di tempat lain saja. Antrian di sini sangat panjang. Aku ingin naik wahana lain saja." Ucap Amara.


"Baiklah, kalau begitu ayo." Rendra tanpa sadar mengajak seraya memegang tangan Amara.


Dan kali ini Amara membiarkan Rendra memegang tangannya lalu melangkah bersamaan menuju stand tiket wahana yang lain.


Aga yang masih diam di posisinya berdiri menatap kepergian Amara dan Rendra yang saling berjalan dengan bergandengan tangan dengan tatapan datar tak terbaca.


"Aga, tadi itu Amara kan sekretarismu di kantor?" Tanya Anjani yang sudah berada di sebelah Aga.


Aga hanya menjawab dengan anggukan di kepalanya.


"Sepertinya dia datang ke sini bersama kekasih barunya ya."


"Mungkin saja." Jawab Aga singkat.

__ADS_1


Anjani menatap lekat wajah Aga yang kembali tertuju pada Amara dan Rendra yang tengah berjalan menjauh dari mereka.


"Kenapa tatapan mata Aga nampak berbeda saat melihat Amara?" Tanya Anjani dalam hati.


*


Walau pertemuan tak terduganya dengan Aga tadi cukup membuat hati Amara merasa tak nyaman, namun Amara dengan cepat mengontrol suasana hatinya kembali dengan menikmati wahana bersama dengan Rendra.


Setelah menaiki beberapa wahana bersama Rendra, Amara dapat merasakan kenyamanan dan kebahagiaan bisa berduaan dengan Rendra yang sangat baik dan perhatian kepadanya.


"Kita beli minum, ya. Kau terlihat haus." Ucap Rendra lembut pada Amara.


Amara mengangguk mengiyakan perkataan Rendra lalu melangkah ke arah penjual minuman.


"Mau air mineral atau minuman yang lain?" Tanya Rendra setelah keduanya sampai di tempat penjual minuman.


Rendra mengangguk lalu mengambil dua botol air mineral dan membayarnya.


"Ayo." Ajak Rendra setelah memberikan satu botol air mineral pada Amara.


Amara mengiyakannya lalu keduanya pun melangkah ke arah tempat yang lebih sepi.


"Apa kau senang bermain di sini, Mara?" Tanya Rendra setelah melihat Amara meneguk minumannya.

__ADS_1


"Sangat senang. Lain kali kita main ke sini lagi, ya." Pinta Amara.


"Baiklah. Kalau kau ingin kita setiap hari datang ke sini juga tidak masalah. Aku akan menemanimu ke sini setiap malam."


Amara tersenyum mendengarnya. "Kau ini berlebihan sekali. Tidak setiap malam juga kita bermain ke sininya."


"Jika kau mau apa salahnya. Aku ingin melakukan hal yang membuat kau merasa senang."


Amara tersenyum saja mendengarnya.


Beberapa saat berlalu, pandangan Amara pun tertuju pada stand makanan ringan yang nampak ramai dengan antrian pengunjung yang ingin membeli. Rendra yang melihat kemana arah pandangan Amara pun lantas saja menawarkan apakah Amara menginginkan jajanan tersebut atau tidak.


"Aku menginginkannya tapi antrian di sana ramai sekali." Ucap Amara ragu.


"Tidak perlu mencemaskannya. Biar aku saja yang mengantri di sana. Kau tunggu saja di sini." Ucap Rendra.


"Apa tak masalah?" Amara nampak sungkan.


"Tidak masalah." Tangan Rendra pun terangkat mengusap kepala Amara hingga membuat hati Amara terasa hangat.


"Tunggu di sini, ya. Jangan kemana-mana." Pesan Rendra seakan takut kehilangan jejak Amara.


"Baiklah. Terima kasih, Rendra." Ucap Amara.

__ADS_1


"Sama-sama pujaan hatiku." Jawab Rendra lembut dengan tersenyum manis hingga menggetarkan hati Amara.


***


__ADS_2