
Aga tak memperdulikan kepalanya yang terasa sakit akibat terkena batu-batu. Ia justru menatap cemas pada Amara yang kini berjalan menghampirinya. "Apa kau tak apa?" Tanya Aga.
"Aku tidak apa-apa tapi Kakak yang kenapa-napa." Sahut Amara dengan wajah yang nampak lebih cemas dari Aga.
Aga tak menyahut setelah memastikan Amara baik-baik saja. Ia justru melayangkan tatapan tajam pada ketua proyek yang tengah menatap takut kepadanya.
"Maafkan kesalahan bawahan saya, Tuan. Dia pasti tidak sengaja." Ucap ketua proyek.
Aga belum menyahut. Namun suara seorang pria muda yang sudah turun dari lantai atas dan menjadi pelaku utama terjadinya kecelakaan kecil pada Aga terdengar meminta maaf pada Aga.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja. Saya tidak melihat jika Tuan dan Nona berada di bawah." Ucapnya dengan mengatupkan kedua tangan di dada. Melihat wajahnya yang pucat pasih membuat Aga bisa menebak jika pria tersebut sangat ketakutan saat ini.
"Lanjutkan pekerjaanmu." Ucap Aga tanpa menjawab permintaan maaf pria muda tersebut.
Wajah pria itu semakin takut karena tak mendapatkan jawaban maaf dari Aga. Namun setelah mendengar perintah dari ketua proyek untuk mengikuti perkataan Aga, pria tersebut pun pergi melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Kak Aga kepala Kakak berdarah." Amara yang merasa cemas kembali mengingatkan Aga tentang kondisi kepalanya saat ini.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang, Aga?" Ajak Anjani yang ikut mencemaskan Aga karena darah yang keluar dari kulit kepala Aga semakin banyak.
"Kita bawa ke klinik di dekat sini saja, Nona." Tawar ketua proyek.
Tanpa sanggahan, Anjani mengiyakannya. Amara yang merasa sangat bersalah pun hanya bisa mengikuti langkah Aga dari belakang tanpa berani mengeluarkan suara.
"Kak Aga, pakai ini untuk menutupi luka Kak Aga." Amara memberikan sebuah tisu yang baru saja ia ambil dari saku tasnya pada Aga.
"Terima kasih," jawab Aga setelah mengambil tisu tersebut.
Jarak klinik dengan lokasi proyek yang sangat dekat membuat perjalanan mereka cukup singkat untuk sampai di klinik tersebut.
"Biar aku saja yang menemani Aga ke dalam!" Ucap Anjani saat Amara berniat ikut masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
__ADS_1
Amara mengalah dan mengangguk. Kedua kakinya pun melangkah ke arah kursi tunggu dan menjatuhkan bokong di sana.
"Semoga kepala Kak Aga tidak mengalami luka serius." Harap Amara merasa sangat cemas dengan kondisi Aga saat ini.
Ketua proyek yang tak kalah cemas dengan kondisi Aga pun berdoa dalam hati agar Aga tak mempermasalahkan apa yang sudah terjadi pada pekerjaannya.
Hampir satu jam menunggu, akhirnya Aga dan Anjani pun keluar dari dalam ruangan pemeriksaan dengan kondisi kepala Aga yang sudah diperban.
"Luka di kepala Aga cukup dalam dan mendapatkan tiga jahitan." Beri tahu Anjani setelah Amara mempertanyakan keadaan Aga.
"Maafkan aku, Kak. Harusnya aku saja yang terkena batu bukan Kakak." Ucap Amara merasa bersalah.
"Jangan menyalahkan dirimu." Ucap Aga singkat dan penuh penekanan.
Amara tetap saja merasa bersalah. Ketua proyek yang merasa ikut bersalah pun mengucapkan kata maaf pada Aga.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah dan perlu disalahkan. Anggotamu tidak sengaja dan saya memakluminya. Jangan memecatnya karena saya tahu dia sangat membutuhkan pekerjaannya saat ini." Ucap Aga pada ketua proyek.
***