Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Pergilah Rendra


__ADS_3

Rendra meraih sebelah tangan Amara dan menggenggamnya erat. "Maafkan aku, Amara. Aku sangat bersalah kepadamu." Tak berbeda dengan Amara, Rendra pun ikut berkaca-kaca mengatakan kenyataan pahit untuk hubungan mereka.


"Aku tidak membutuhkan kata maaf darimu, Rendra. Yang aku butuhkan saat ini adalah penjelasan darimu." Amara melepaskan genggaman tangan Rendra dan menatap wajah Rendra dengan tatapan menuntut.


Rendra menghela napas dalam-dalam kemudian menjelaskan permasalahan yang terjadi kepadanya saat ini. Apa yang Rendra katakan saat ini pada Amara sama persis dengan apa yang Rendra katakan tadi pagi pada Agatha.


Tak berbeda dengan Agatha yang tadi nampak sangat terkejut mendengar penjelasan Rendra, Amara pun demikian. Amara bahkan tak sanggup untuk berkata-kata. Hanya air mata yang mengalir di kedua pipinya yang bisa menggambarkan kesedihannya saat ini.


"Kau akan menikah..." Amara menggeleng tak percaya. Situasi rumit yang terjadi di keluarga Rendra membuat Rendra menjadi korbannya.


"Maafkan aku, Amara. Aku tak kuasa menolak permintaan Mama. Aku juga tidak ingin Mama depresi karena rasa bersalahanya yang teramat besar dengan Ibu dari Okta.

__ADS_1


Kedua sudut mata Amara semakin laju mengalirkan cairan bening. Melihat cairan bening yang mengalir di kedua pipi Amara membuat hati Rendra terasa sakit. Ia yang awalnya berjanji akan memberikan kebahagiaan pada Amara kini berbalik memberikan luka pada Amara.


"Mara..." Rendra kembali berusaha menjangkau tangan Amara namun Amara dengan cepat menjauhkan tangannya dari Rendra.


"Jangan meminta maaf kepadaku, Rendra. Aku mengerti apa yang kau rasakan saat ini dan aku dapat menerima semua keputusanmu."


Bukannya merasa tenang mendengar jawaban dari Amara, hati Rendra justru terasa semakin sakit.


Cairan bening semakin mengalir membasahi kedua pipi Amara tanpa dapat Amara tahan. Amara mengalihkan pandangan ke arah lain karena tak kuasa menatap wajah Rendra yang kini tengah menatap wajahnya.


"Amara..." hati Rendra semakin sakit melihat Amara yang terus menangis. Ia merasa menjadi pria yang sangat jahat karena telah melukai hati wanita yang sangat dicintainya.

__ADS_1


"Aku hanya kecewa kepadamu, Rendra. Kenapa kau tidak jujur dari awal jika kau akan menikah. Kenapa kau justru bersikap seperti pecundang yang menghilang tanpa kabar. Apa kau tahu, setiap hari aku menunggu kabar darimu. Aku bahkan selalu berpikir positif jika kau tidak mungkin berbuat hal buruk di belakangku. Namun ternyata apa yang aku pikirkan salah. Hatiku sangat salah berharap hal baik kepadamu."


Tanpa bisa ditahan, Rendra membawa tubuh Amara ke dalam pelukannya. Keduanya menangis tersedu-sedu menyalurkan rasa sedih dan kecewa di hati masing-masing.


Amara membiarkan saja Rendra memeluknya untuk waktu beberapa saat. Setelah merasa cukup, ia memberontak agar Rendra melepaskan pelukan di antara mereka. "Aku harap pelukanmu ini adalah pelukan terakhir di antara kita. Jangan sampai karena pelukan di antara kita ini membuat calon istrimu menjadi terluka. Anggap saja pelukan kita tadi adalah pelukan terakhir untuk sebuah perpisahan yang manis."


"Mara..." Rendra menggelengkan kepalanya. Tak berbeda dengan Amara, ia juga terluka saat ini. Namun ia tidak bisa melawan takdir yang sudah ditetapkan untuknya saat ini.


"Pergilah Rendra... berbahagialah dengan calon istrimu. Walau kita tak lagi bisa sedekat dulu namun aku akan tetap memanjatkan doa yang terbaik untukmu."


***

__ADS_1


__ADS_2