Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Bersilat Lidah


__ADS_3

Cakra meneguk salivanya susah payah. Sebisa mungkin ia bersikap tenang di hadapan Aga yang tengah menatapnya penuh selidik.


"Kenapa Tuan tidak percaya? Saya benar kok datang ke sana untuk mengunjungi orang tua dari teman saya yang sedang sakit." Jawab Cakra akhirnya.


Dahi Aga mengkerut mendengar jawaban Cakra. "Temanmu yang mana? Setahuku tidak ada orang tua temanmu yang sedang sakit." Ucap Aga mengingat dirinya cukup mengetahui lingkup pertemanan Cakra.


Ehem


Cakra berdehem. Menormalkan degub jantungnya yang tidak stabil karena dicecar pertanyaan oleh Aga.


"Teman saya saat kuliah dulu, Tuan. Tuan mungkin tidak kenal karena saya tidak pernah mengenalkannya pada Tuan."


"Begitu, ya?" Aga menarik sebelah alis tebalnya ke atas.


Pertanyaan Aga pun dijawab oleh Cakra dengan anggukan kepalanya.


"Oh ya, ibunya Sisil dirawat di rumah sakit tempat Kak Dara bekerja juga loh!" Timpal Amara ingin masuk ke dalam percakapan Aga dan Cakra.

__ADS_1


Glek


Cakra meneguk salivanya susah payah saat nama Sisil disebut oleh Amara.


"Apa Tuan Cakra bertemu dengan ibunya Sisil juga di rumah sakit itu?" Tanya Amara kemudian sebab Cakra hanya diam saja.


"Tidak. Untuk apa saya bertemu dengan ibunya Nona?" Cakra menjawab dengan cepat diikuti wajah yang nampak semakin tegang.


Ekspresi yang ditunjukkan Cakra saat ini lantas saja membuat Aga dan Amara saling pandang dengan wajah bingung.


Tak ingin kedua calon pasangan pasutri itu semakin mengintrogasi dirinya, Cakra memilih berpamitan untuk pergi.


Aga menganggukkan kepalanya. "Iya. Dia terlihat aneh. Menjawab pertanyaan kita saja jadi tegang dan gugup begitu."


Amara ikut menganggukkan kepalanya seperti Aga. "Sepertinya ada yang tidak beres. Tuan Cakra seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari kita."


Aga mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. "Sudahlah, tidak perlu memikirkannya. Selagi dia masih berada di jalan yang benar maka kita tidak perlu mengurusinya."

__ADS_1


Amara mencebikkan bibir. Malas sekali dirinya mengajak Aga bergosip karena Aga selalu memutus percakapan mereka di saat belum mencapai puncak.


"Terserah Kakak saja deh. Sekarang lebih baik Kakak bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan Dharma." Ucap Amara.


Aga membelai pucuk kepala calon istrinya itu kemudian mengangguk. "Iya. Selama aku pergi jaga dirimu baik-baik di sini, ya." Pesan Aga.


Amara hampir saja meledakkan tawa mendengar perkataan Aga yang terdengar lucu di telinganya. "Aku pasti baik-baik saja kok, Kak. Memangnya aku mau melakukan apa saat Kakak pergi nanti." Jawabnya menahan tawa.


"Mana aku tahu. Bisa saja kau bersikap nakal saat aku pergi nanti." Jawabnya asal.


Amara jadi tak dapat menahan tawa. "Kakak ini lucu sekali sih. Ada-ada saja perkataannya." Ia menggeleng hingga membuat Aga jadi tersenyum kaku mendengarnya.


"Baiklah, kalau begitu aku masuk ke dalam dulu." Pamit Aga tak ingin semakin asal bicara jika terus berada dekat dengan Amara.


"Iya, Kak. Jaga diri Kakak baik-baik juga ya saat pergi nanti." Ucap Amara.


Aga tersenyum saja. Kemudian melangkahkan kaki meninggalkan meja kerja Amara.

__ADS_1


"Semakin hari sikap Kak Aga semakin lucu saja. Jika mengingat sikapnya yang datar dan dingin dulu kepadaku, rasanya aku ingin berteriak karena sosok Kak Aga saat ini sudah jauh berbeda. Bukan seperti Kak Aga yang dulu. Lebih manis dan lucu." Gumamnya seraya tersenyum.


***


__ADS_2