Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Tak Akan Meninggalkanmu


__ADS_3

Suara yang terdengar tidak asing dan sangat dirindukan oleh Amara itu membuat Amara menoleh ke arah belakang dengan gerakan perlahan.


"Kak Aga!" Kedua kelopak mata Amara terbuka lebar menatap pria sang pemilik suara itu.


"Hai cantikku, aku sudah pulang." Ucap Aga seraya tersenyum manis pada Amara.


"Kak Aga..." suara Amara tertahan. Pun dengan kedua bola matanya yang sudah berkaca-kaca.


Aga menatap Amara yang nampak tertegun melihat kedatangannya dengan kedua sudut bibir tertarik sempurna. "Katanya merindukan aku. Kalau rindu, ayo ke sini." Aga merentangkan kedua tangannya.


Ditengah ketertegunannya, Amara bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke arah Aga yang sedang menanti kedatangannya seraya merentangkan kedua tangan.


"Om Aga!" Seru Zeline dan Ziko secara bersamaan. Kedua anak Naina itu nampak tersenyum melihat om mereka telah kembali.


Amara yang kini sudah berada di hadapan Aga menatap wajah Aga dengan air mata mengalir di kedua pipinya.


"Tidak rindu ya?" Goda Aga sebab Amara tak kunjung masuk ke dalam pelukannya padahal ia sudah merentangkan kedua tangan sejak tadi.

__ADS_1


"Sangat," tanpa berucap panjang lebar, Amara segera masuk ke dalam pelukan Aga. Menumpahkan rasa rindunya dengan memeluk tubuh Aga erat-erat.


Aga membelai rambut Amara kemudian mengecup keningnya. "Aku juga sangat merindukanmu cantik." Ucapnya lembut.


Bulir air mata semakin semakin mengalir di kedua pipi Amara. Rasa rindu yang ia rasakan beberapa waktu belakangan ini hilang sudah berganti dengan kebahagiaan karena sang pujaan hati telah kembali ke dalam pelukannya.


Naina yang berada tidak terlalu jauh di belakang tubuh Aga mengembangkan senyum sambil memeluk pinggang suaminya.


"Manis sekali ya pasangan baru itu." Ucap Daniel pada Naina.


Daniel mengecup bibir manis istrinya tanpa memperdulikan Aga dan Amara mungkin melihat apa yang ia lakukan.


"Papah, Mamah!" Zeline dan Ziko yang merasa diabaikan oleh duo bucin memilih berlari ke arah kedua orang tua mereka dan meminta digendong.


"Aduh, anak Papah ini sudah besar masih saja mau digendong." Daniel menggelengkan kepala lalu mengangkat tubuh Zeline yang sudah tak lagi ringan.


Amara dan Aga yang masih dimabuk cinta tak memperdulikan keberadaan Daniel dan Naina di dekat mereka. Keduanya masih saja melepas rindu dengan saling berpelukan satu sama lain.

__ADS_1


"Lama tidak bertemu wanitaku ini semakin cantik saja." Aga mengusap pipi Amara setelah pelukan keduanya terlepas.


Kedua pipi Amara merona mendengar pujian Aga. "Kakak bisa saja." Jawabnya pelan.


Aga mengusap rambut Amara dengan sayang. "Maafkan aku pulang terlalu lama karena banyak hal yang harus benar-benar aku selesaikan di sana lebih dulu." Ucap Aga lembut.


Amara menganggukkan kepala. "Aku mengerti, Kak. Tak masalah jika aku harus memupuk rindu asal urusan Kakak di sana benar-benar selesai."


Aga merasa gemas mendengarnya. Daniel dan Naina yang ikut mendengarnya pun terbatuk-batuk.


"Ciew, Anty Mara bisa aja ya, Pah!" Ucap Zeline sambil tersenyum malu-malu.


Daniel menganggukkan kepala seraya mengusap kepala putri kecilnya.


"Terima kasih karena sudah mau bersabar menungguku kembali. Setelah ini aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi karena kemana pun aku pergi aku akan membawamu ikut bersamaku." Ucap Aga bersungguh-sungguh sebab ia tak akan sanggup lagi menahan rindu jika berjauhan dari Amara.


***

__ADS_1


__ADS_2