Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Penyakit Menular


__ADS_3

"Maafkan Mara, Kak. Sejak dulu lidah Mara ini sulit sekali dikondisikan untuk tidak memuji pria tampan." Cicit Amara dengan kepala tertunduk.


Mendengar jawaban polos Amara lantas saja membuat Aga menggelengkan kepala. "Dasar nakal." Ucapnya dengan tangan yang sudah terangkat di udara seakan ingin menjewer telinga Amara.


Namun di luar dugaan, bukannya menjewer telinga Amara, Aga justru mengusap rambut Amara lembut. "Mulai sekarang jangan lagi mencoba memuji pria lain di belakangku atau aku akan menghukummu." Ucap Aga lembut.


Amara mendongak. Menatap calon suaminya itu dengan mata berkedip-kedip. Ia pikir Aga akan marah kepada dirinya, namun ternyata dugaannya salah.


"Kali ini aku memaafkan sikap nakalmu ini tapi tidak untuk ke depannya." Ucap Aga.


Amara tersenyum kaku kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak. Lain kali Mara coba mengontrol lidah ini agar tidak mudah memuji pria tampan lagi kecuali Kak Aga."


Aga menahan senyum mendengarnya. Ia juga merasa ingin tertawa melihat ketakutan di wajah Amara saat menatap wajahnya.


Uhuk


Suara batuk yang berasal dari arah pantry mengalihkan pandangan Amara dan Aga ke sumber suara.


"Boby." Amara menyebut nama pria yang baru saja terbatuk saat keluar dari dalam pantry. Ia pikir jika yang terbatuk tadi adalah Cakra mengingat pria itu suka sekali terbatuk saat melihatnya bermesraan dengan Aga.


"Nona Amara, Tuan Aga." Boby menyapa keduanya ramah. Kemudian berpamitan untuk melanjutkan pekerjaanya mengepel lantai.

__ADS_1


Setelah kepergian Boby, Amara dan Aga saling pandang kemudian tersenyum secara bersamaan.


"Sepertinya pemikiran kita sama ya, Kak." Ucap Amara.


Aga mengangguk membenarkannya kemudian mengusap kepala Amara kembali.


Uhuk


Terdengar suara batuk yang lebih keras. Amara dan Aga yang berpikir jika yang terbatuk adalah Boby lagi pun melanjutkan aksi romantis mereka. Namun hal itu tak berlangsung lama saat keduanya menyadari jika Boby sudah pergi masuk ke dalam ruangan Aga dan tidak mungkin Boby lah yang terbatuk kembali.


Keduanya pun akhirnya kembali saling pandang kemudian menoleh ke arah belakang kembali untuk melihat siapakah yang terbatuk di belakang mereka.


"Paman Andrew!"


Ucap Aga dan Amara nyaris bersamaan menatap sosok Papa Andrew yang nampaknya baru saja keluar dari dalam lift.


**


Suasana canggung menyelimuti Amara setelah mereka masuk ke dalam ruangan Aga bersama dengan Papa Andrew.


Aga yang nampak bersikap biasa saja pun menatap pada sang papa yang kini menatap wajahnya dengan intens.

__ADS_1


"Ada apa Papa datang ke sini? Tumben sekali?" Tanya Aga.


"Kenapa? Apa Papa tidak boleh datang ke perusahaan Papa sendiri? Atau... Papa datang di waktu yang tidak tepat karena mengganggu keromantisanmu dan Amara?" Tanya Papa Andrew.


Uhuk


Kali ini Amara yang terbatuk mendengar perkataan Papa Andrew yang terdengar tengah menyindirnya dan Aga.


"Bukan begitu. Aku pikir ada hal penting yang ingin Papa sampaikan kepadaku." Sangkal Aga.


Papa Andrew menahan senyum melihat reaksi putra dan calon menantunya setelah mendengarkan sindiran halusnya.


"Ya, sebenarnya ada hal penting yang ingin Papa beritahukan kepadamu saat ini." Jawab Papa Andrew dalam mode serius.


"Apa itu, Pah?" Aga nampak penasaran. Pun dengan Amara. Keduanya saling menebak dalam hati hal penting apa yang ingin Papa Andrew sampaikan.


"Sepertinya kau harus ikut dengan Papa ke London untuk pelantikan pemimpin baru perusahaan kita di sana sekaligus mengikuti sidang terakhir keputusan hakim untuk hukuman yang akan diberikan pada koruptor di perusahaan kita." Jawab Papa Andrew.


"Apa?" Amara berucap lirih dalam hati. Ia mengingat dengan jelas kapan waktu yang dimaksud oleh Papa Andrew yang tak lain adalah dua minggu sebelum hari pernikahannya dan Aga.


***

__ADS_1


__ADS_2