Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Semua Sudah Terlambat


__ADS_3

Pertanyaan yang diberikan oleh Aga berhasil membuat Amara terkesiap hingga terdiam untuk waktu beberapa saat. Aga yang menantikan jawaban dari Amara pun menatap intens wajah cantik Amara.


"Semuanya sudah terlambat, Kak. Jika pun saat ini Kakak sudah menganggapku sebagai seorang wanita namun aku sudah mulai belajar menganggap Kakak sebagai seorang Kakak bukan lagi seorang pria."


Deg


Jawaban yang diberikan Amara terasa mencubit jantung Aga.


"Seperti perkataanku tadi, perasaanku pada Kakak saat ini sudah pudar seiring berjalannya waktu. Aku sudah mulai belajar membuka hati untuk pria lain yang tulus mencintaiku tanpa harus aku minta lebih dulu." Lanjut Amara.


Aga dibuat bungkam. Ia hanya bisa mematap wajah Amara dengan tatapan yang sulit diartikan.


Diamnya Aga hanya dibalas dengan senyuman oleh Amara. Menurutnya, jawaban yang ia berikan pada Aga saat ini sudah cukup mewakilkan isi hatinya saat ini.


"Apa maksudmu semuanya sudah terlambat?" Tanya Aga.

__ADS_1


"Terlambat? Maksud Kakak?" Amara terlihat kurang paham.


"Ya, sudah terlambat untuk aku menyatakan perasaanku kepadamu."


Amara terkesiap. Ia sampai menatap intens wajah Aga untuk memastikan apakah Aga salah bicara atau tidak.


"Ma-maksud Kakak bagaimana? Apa saat ini Kakak mulai menganggapku sebagai seorang wanita?" Tanya Amara terbata.


Aga memilih diam dan menjawab pertanyaan Amara lewat sorotan matanya.


Amara mencoba menetralisir ekspresi wajahnya menjadi tenang kembali. Ia menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan di udara. "Semuanya sudah terlambat, Kak. Aku sudah belajar membuka hati untuk pria lain dan aku tidak ingin menyakiti pria yang sudah berjuang untukku sejauh ini." Lirih Amara.


Aga mengangguk pelan. Ia dapat mengerti keputusan Amara saat ini. Salahnya juga yang sudah terlambat mengartikan perasaannya selama ini. Akibat terlalu menutup diri dari yang namanya cinta membuat Aga sulit untuk mengartikan perasaannya sendiri. Terlebih pada Amara, sejak awal ia hanya menganggap wanita itu sebagai adiknya sendiri. Namun dengan berjalannya waktu tanpa ia duga perasaan itu berubah menjadi perasaan cinta.


Suasana di dalam ruangan perawatan Aga akhirnya hening karena baik Aga atau Amara saling diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Aga diam dengan rasa penyesalannya dan Amara diam tak percaya jika Aga mulai menaruh hati kepadanya.

__ADS_1


Kedatangan pramusaji ke dalam ruangan perawatan Aga memecahkan keheningan Aga dan Amara.


"Sudah saatnya makan malam Tuan Aga." Ucapnya ramah seraya menghidangkan makanan di atas overbed table di dekat ranjang Aga.


"Terima kasih," jawab Aga pelan sementara Amara hanya tersenyum menatap pramusaji tersebut.


Pramusaji pun berpamitan keluar setelah melakukan tugasnya dengan baik. Amara yang merasa terdorong untuk membantu Aga makan segera beranjak dari posisi duduk dan mengambil makanan Aga dari overbed table.


"Aku bantu suapkan ya, Kak." Tawarnya.


Aga yang menyadari jika ia masih sulit untuk makan sendiri pun mengangguk mengiyakannya.


Amara yang sudah terbiasa menyuapkan makanan untuk Zeline di rumahnya pun akhirnya mempraktekkannya dengan menyuapkan makanan ke dalam mulut Aga dengan rasa sedikit canggung.


"Sedikit saja, aku tidak berselera." Ucap Aga setelah mengunyah makanan yang disuapkan oleh Amara. Walau hatinya kini merasa senang disuapkan oleh Amara namun tetap saja tak membuat napsu makan Aga menjadi bertambah. Terlebih rasa kecewanya kini tengah mendominasi.

__ADS_1


***


__ADS_2