
Kedatangan Anjani ke perusahaan pagi itu benar-benar membuat mood Amara menjadi buruk. Seharian bekerja di perusahaan, Amara terlihat tidak bersemangat seperti biasanya bahkan tidak menunjukkan wajah tersenyum ceria pada OB yang biasa membersihkan ruangan di lantai tempat ia bekerja.
Buruknya mood Amara hari itu pun berhasil membuat Amara bersikap tidak seperti biasanya pada Aga. Saat waktu pulang telah tiba, Amara tak lagi menunggu Aga keluar dari dalam ruangan kerjanya. Ia memilih langsung pulang begitu saja. Lagi pula sebelumnya Aga sudah menitipkan pesan kepadanya untuk langsung pulang saja jika dirinya belum keluar dari dalam ruangan kerjanya jika waktu pulang telah tiba.
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Amara pun teringat dengan pesan sang ibu yang mengatakan jika hari ini akan pulang sedikit malam ke rumah mereka. "Aku harus kemana? Apa langsung pulang saja?" Gumam Amara.
Pergi ke rumah Naina lebih dulu seperti saran yang diberikan ibunya pun rasanya Amara tak mau karena tidak mau memperlihatkan ekspresi murungnya pada Naina. Amara tidak ingin membuat kakak kesayangannya itu jadi mencemaskan dirinya.
Pilihan Amara pun akhirnya jatuh untuk langsung pulang ke rumahnya saja. Sepertinya tidak terlalu menakutkan jika hanya berada seorang diri di dalam rumah dalam waktu beberapa jam saja.
Baru saja hendak melajukan mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya, Amara sudah dikejutkan dengan suara deringan telefon dari ponselnya. Amara segera mengeluarkan ponsel dari saku tasnya dan mengusap ikon hijau setelah melihat nama pemanggil telefon.
"Hallo, Agatha." Ucap Amara setelah panggilan terhubung.
__ADS_1
"Hallo, Mara. Kau sedang dimana sekarang?" Tanya Agatha.
"Masih di perusahaan. Ini aku sudah mau pulang."
"Pulang ke rumahmu?" Tanya Agatha dan Amara pun mengiyakannya. Tak lupa Amara pun memberitahu Agatha jika ayah dan ibunya akan pulang malam hari ini.
"Kenapa kau tidak pergi ke rumah Kak Nai saja sambil menunggu ibu dan ayah pulang?" Tanya Agatha.
Keheningan menyelimuti Agatha di seberang sana. Amara pun memilih diam menunggu Agatha untuk bersuara. "Bagaimana kalau aku menemanimu di rumah sampai Paman dan Bibi pulang?" Tawar Agatha pada akhirnya.
Senyuman merekah pun terbit di wajah Amara walau Agatha tak dapat melihatnya.
Amara langsung saja mengiyakannya. Setelah panggilan terputus. Amara langsung saja melajukan mobilnya menuju kediamannya. Menurutnya saat ini kehadiran Agatha sangat bagus untuk menceriakan kembali suasana hatinya yang sejak tadi terasa buruk.
__ADS_1
Di saat Amara sudah pergi melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan, di lantai teratas perusahaan, Aga yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerjanya dibuat bingung melihat meja kerja Amara yang sudah nampak kosong tak berpenghuni.
"Apa dia sudah pulang?" Gumam Aga. Tidak biasanya sekali Amara pulang tanpa menunggu dirinya lebih dulu. "Apa dia benar melakukan apa yang aku perintahkan saat itu." Aga pun teringat jika dirinya meminta Amara untuk langsung pulang saja jika waktu jam pulang bekerja telah tiba.
"Tuan Aga." Cakra yang baru saja keluar dari dalam ruangan kerjanya berjalan menghampiri Aga.
"Apa Amara sudah pulang?" Tanya Aga.
"Sudah, Tuan. Tadi Amara sempat berpamitan pada saya untuk pulang lebih dulu. Apa Amara tidak berpamitan pada Tuan juga?" Tanya Cakra.
Aga hanya diam. Wajahnya yang datar membuat Cakra tidak bisa menebak apa yang sedang Aga pikirkan saat ini.
***
__ADS_1