Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Senyumanmu


__ADS_3

Senyum di wajah Amara seketika luntur setelah mendengar pertanyaan Naina. Amara menatap dalam kedua bola mata Naina. Dari tatapan matanya itu, Naina dapat melihat dan merasakan kesedihan di wajah Amara.


"Aku masih mencoba menata hatiku yang sedang berantakan, Kak. Tidak mudah bagiku bisa menatanya dengan rapi dalam waktu singkat."


"Kakak mengerti perasaanmu saat ini, Mara. Namun hidup ini terus berjalan. Kau tidak boleh berlarut-larut dalam menyimpan luka. Apa yang terjadi padamu kemarin adalah takdir yang harus kau terima dengan baik."


Amara menganggukkan kepalanya. Mengerti maksud perkataan Naina saat ini. "Ya, Mara sudah belajar untuk menerimanya, Kak. Hanya saja Mara masih takut dengan yang namanya cinta. Mara takut terluka lagi." Amara tertunduk dengan kesepuluh jemari yang saling bertaut.


Naina memeluk tubuh adiknya yang rapuh itu erat-erat. "Kakak yakin kau bisa melewati semuanya dengan baik. Namun Kakak tak ingin kau terlalu larut dalam kesedihan. Sekarang, sudah ada Kak Aga yang tulus mengharapkan cintamu."


Amara melepaskan pelukannya. "Kak, Rendra juga bersikap yang sama sebelum dia menikah dengan Okta. Dia sangat mengharapkan cinta dari Amara. Namun pada akhirnya, dia tetap menjadi milik wanita lain." Amara mengungkapkan ketakutan yang ia pendam.


Hati Naina terasa teriris mendengar pernyataan Amara. Dapat Naina lihat luka yang Amara tunjukkan lewat tatapan matanya saat berbicara kepadanya.

__ADS_1


"Tapi pada saat itu kau tidak sepenuhnya bisa mencintai Rendra bukan?" Naina memberikan pertanyaan yang membuat Amara menjadi bungkam. Naina mengulas senyum tipis melihat adiknya yang nampak sulit untuk berkata-kata menjawab pertanyaannya. "Kenapa diam saja, Mara? Ayo jawab pertanyaan Kakak?"


"Kita bahas masalah ini lain waktu saja, Kak. Kita harus segera kembali ke meja karena Mara dan Kak Aga harus kembali ke kantor sebentar lagi."


Naina kembali mengulas senyum. "Kakak tahu sampai saat ini kau masih menyimpan cinta yang besar untuk Kak Aga. Perasaanmu pada Rendra saat itu hanya pelampiasan saja karena hatimu sedang terluka." Ucap Naina tanpa menjawab ajakan Amara.


Amara kembali dibuat bungkam. Entah mengapa ia merasa Naina kini sudah menjelma sebagai peramal yang dapat menebak isi hatinya saat ini.


Kedatangan Amara dan Naina kembali ke meja disambut dengan rengekan Ziko yang nampak sudah ingin pergi meninggalkan restoran.


"Anak Mamah kenapa nangis?" Naina mengambil alih tubuh Ziko dari pangkuan Daniel. Walau tubuh Ziko sudah semakin besar, namun Naina masih suka menggendongnya.


"Mau pulang. Ziko mau bobo." Jawabnya sambil mengucek kedua matanya.

__ADS_1


Naina tersenyum mendengarnya. "Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang." Ajak Naina. Jika keinginan Ziko untuk tidur tidak dituruti segera, maka anak bungsunya itu bisa rewel seharian.


Naina dan Daniel pun akhirnya berpamitan pergi meninggalkan restoran sambil membawa kedua anak mereka. Sebelum pergi meninggalkan restoran, Zeline menyempatkan waktu untuk berbicara pada Amara meminta Amara untuk bermain ke rumahnya nanti malam bersama Nenek dan Kakeknya.


"Ayo kita balik ke perusahaan." Ajak Aga tersenyum lembut.


Jantung Amara kembali dibuat berdetak tak karuan melihat senyuman di wajah Aga itu. Semakin hari, Aga semakin sering tersenyum saja kepadanya. Amara mulai merasa awas jika terlalu sering melihat Aga tersenyum membuat pertahanannya menjadi runtuh.


"Kau hanya tersenyum. Namun kenapa senyumanmu itu bisa membuatku kembali jatuh cinta?"


***


Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴

__ADS_1


__ADS_2