
Agatha melototkan kedua matanya pada Amara yang sudah asal bicara. "Sampai kapan pun itu tidak akan pernah terjadi!" Pungkas Agatha yakin.
"Begitu, ya?" Amara memasang wajah meledek hingga membuat Agatha semakin sebal melihatnya.
"Mara, kau..." Agatha mengepalkan kedua tangannya di udara memperlihatkan jika dirinya benar-benar sebal saat ini.
Amara jadi tertawa-tawa melihat ekspresi teman baiknya itu. "Iya, iya. Aku bercanda, kok. Jangan jadi tegang begitu." Kelakarnya.
Agatha mendengus. Menatap sebal wajah Amara.
Amara pun tak memperdulikan lagi rasa sebal yang Agatha rasakan kepadanya. Ia memilih segera beranjak dari posisi duduk dan berpamitan kembali ke perusahaan Aga sebab waktu istirahatnya sudah hampir habis.
"Amara, kau ini benar-benar, ya. Bisa-bisanya kau mengharapkan aku bisa mencintai bule tengil itu suatu saat ini!" Gerutu Agatha setelah kepergian Amara. Tidak dapat Agatha bayangkan bagaimana hidupnya nanti jika mencintai sosok menyebalkan seperti Richard yang bisanya hanya membuatnya naik darah setiap mereka bertemu.
"Sungguh di luar nurul, tidak masuk akmal!"
**
__ADS_1
Amara telah kembali ke perusahaan sambil tersenyum sendiri mengingat wajah sebal Agatha saat dirinya membahas tentang Richard. Selama ia mengenal Agatha, sepertinya baru kali ini Agatha sepertinya sangat sebal pada seorang pria.
"Padahal Kak Richard itu tampan, loh. Masa Agatha sebal terus sih setiap bertemu dengannya. Harusnya 'kan Agatha itu senang bertemu dengan pria tampan seperti Kak Richard. Bule lagi." Kelakarnya setelah keluar dari dalam lift.
"Siapa yang tampan?" Suara bariton yang berasal dari belakang tubuhnya membuat Amara terkejut hingga menghentikan langkahnya. Amara memutar kepala ke arah belakang dimana saat ini Aga terlihat tengah berada di belakang tubuhnya sambil bersedekap dada.
"Kak Aga..." cicit Amara.
"Jadi siapa pria tampan yang tadi calon istriku sebutkan, hem?" Tanya Aga sambil mendekatkan langkah pada Amara.
Aga menaikkan sebelah alis tebalnya menunggu jawaban dari Amara. Ditatap demikian oleh Aga, lantas saja membuat Amara jadi gugup.
"Ehm... itu..." Amara tergugu.
"Itu apa? Tadi sepertinya calon istriku ini semangat sekali memuji pria lain di belakangku." Tekan Aga.
Amara tersenyum kaku pada Aga. "Tidak memuji, Kak." Sangkal Amara. Tak ingin Aga jadi salah paham dan marah.
__ADS_1
"Lalu apa? Dan siapa pria tampan yang kau maksud?" Tanya Aga. Kini ia sudah menatap wajah Amara intens.
Amara mengumpulkan keberanian untuk menjawab. "Kak Richard. Pria yang sekarang menjadi pelanggan tetap di butik Agatha." Jawab Amara pelan.
"Richard?" Aga mengulang menyebut nama pria tersebut dengan kerutan di dahi. Entah mengapa ia seperti tidak asing dengan nama yang Amara sebutkan baru saja.
"Iya, Kak Richard. Kakak kenal?" Tanya Amara."
Agatha mengangkat kedua bahunya. "Tidak. Terlalu banyak nama Richard di kota ini dan mungkin Richard yang kau maksud berbeda dengan Richard yang aku kenal."
Amara mengangguk saja seakan tidak berniat bertanya lebih lanjut.
"Sekarang ayo jawab, kenapa kau bisa memujinya seperti itu di belakangku, hem?" Kali ini Aga menatap datar wajah calon istrinya itu.
Ditatap demikian oleh Aga lantas saja membuat Amara jadi merinding. "Matilah kau Amara... lagian kenapa lidahmu ini lancar sekali sih memuji pria tampan padahal sudah memiliki calon suami!" Rutuk Amara dalam hati.
***
__ADS_1