
Suasana di perusahaan pagi itu terdengar heboh dengan kedatangan Aga yang datang menggunakan motor. Bisik-bisik karyawan wanita pun terdengar cukup jelas saat Aga berjalan masuk ke dalam lobby perusahaan.
"Tuan Aga keren sekali pakai motor seperti itu!" Puji salah satu karyawan wanita pada rekan kerjanya yang tengah berdiri di sebelahnya.
"Ya. Selama Tuan Aga bekerja di sini, tak sekali pun aku melihatnya datang menggunakan motor." Timpal yang lainnya.
"Kenapa aku merasa Tuan Aga terlihat semakin tampan jika menggunakan motor, ya?" Karyawan yang lainnya pun ikut menyahut.
Bisik-bisikan mereka yang terdengar cukup jelas di telinga Aga tak membuat Aga menghentikan langkah. Aga terus saja melangkah ke arah pintu lift khusus petinggi perusahaan.
"Astaga, aku jadi penasaran siapakah wanita beruntung yang bisa mendapatkan hati Tuan Aga." Lanjut mereka berbisik setelah Aga masuk ke dalam lift.
"Semoga saja wanita beruntung itu adalah aku." Sahut wanita yang berdiri di sebelahnya.
"Enak saja, harusnya aku yang menjadi wanita beruntung itu." Karyawan wanita yang sedang berkumpul menggosipkan Aga pun saling mencalonkan diri untuk menjadi wanita beruntung yang bisa dicintai oleh Aga.
Ulva yang baru saja masuk ke dalam perusahaan setelah tadi sempat mencuri pandang pada Aga yang datang menggunakan motor pun berjalan mendekati kerumunan wanita yang sedang bergosip.
"Kalian tidak akan bisa menjadi wanita beruntung itu karena sudah ada seorang wanita yang kini mengisi hati Tuan Aga." Ucap Ulva.
__ADS_1
"Apa? Siapa wanita itu? Katakan padaku, Ulva!" Rekan kerja Ulva bertanya dengan sedikit menuntut.
"Kalau mau tahu jawabannya, maka cari tahu saja sendiri." Ucap Ulva di akhiri menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.
"Ulva, ayo katakan pada kami siapa wanita beruntung itu?" Karyawan yang lain jadi ikut penasaran. Namun Ulva tak menjawab pertanyaan mereka. Ulva memilih melanjutkan langkah menuju lift meninggalkan mereka dengan rasa penasarannya.
**
Ting
Ting
"Ada apa sih pagi-pagi begini sudah ribut di dalam grup." Gumam Amara merasa penasaran.
Baru saja ia membuka isi pesan di dalam grup, Amara sudah terbelalak melihat beberap foto paparazi yang memperlihatkan Aga datang ke kantor menggunakan motor besarnya. Amara terkesiap, ia jadi de javu membayangkan Aga saat pertama kali datang ke rumahnya menggunakan sebuah motor.
"Kak Aga datang menggunakan motor. Bagaimana bisa?" Gumam Amara.
Amara yang masih asik melihat foto paparazi Aga yang sedang naik di atas motor hingga memarkirkan motornya pun dibuat terkejut saat mendengar suara deheman yang cukup keras di depan meja kerjanya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Amara." Sapa Aga dengan tersenyum tipis.
"Kak, emh Tuan Aga." Sapa Amara kembali sedikit terbata. Amara yang refleks meletakkan ponselnya di atas meja tak menyadari jika layar ponselnya masih menyala dan memperlihatkan wajah Aga di sana.
"Sepertinya ada yang diam-diam suka memperhatikan wajah saya, ya." Ucap Aga dengan nada mengejek.
"Maksud Tuan Aga?" Amara tak mengerti. Melihat kebingungan di wajah Amara membuat Aga mengarahkan pandangan ke arah ponsel Amara berada.
Glek
Amara meneguk salivanya susah payah menyadari jika ponselnya masih memperlihatkan wajah Aga yang sempat ia zoom. "Agh, maaf." Amara berucap lirih sambil mematikan layar ponselnya.
"Kau tidak perlu repot-repot begini jika ingin melihat wajahku dari dekat, Amara. Jika kau menginginkannya, kau bisa memintaku datang menemuimu dan mendekatkan wajah kepadamu seperti ini." Aga mempraktekkan perkataannya dengan mendekatkan wajahnya dengan wajah Amara.
Dan lagi, Amara refleks memejamkan kedua kelopak matanya hingga membuat Aga tersenyum gemas melihatnya.
***
Sebelum lanjut, jangan lupa like, komen, gift dan votenya dulu ya. Dan jangan lupa follow instagram @shy1210 untuk seputar info karya shy. Terima kasih🪴
__ADS_1