Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Harus Berpisah


__ADS_3

"Amara?" Harapan di wajah Agatha perlahan luntur melihat Amara yang hanya diam dan membuatnya menebak jika apa yang ia harapkan tidak terwujud. "Kau belum menerima lamaran kakakku?"


Amara mengangguk lemah. "Aku meminta waktu untuk itu. Aku ingin meyakinkan hatiku lebih dulu."


Agatha menghembuskan napas bebas di udara. Jujur saja ia cukup kecewa dengan sikap Amara saat ini yang belum bisa percaya dengan cinta Aga. "Baiklah, aku tidak bisa memaksamu untuk menerima cinta kakakku. Tapi aku harap kau bisa mempertimbangkannya dalam waktu yang cepat. Karena aku yakin saat ini di dalam hatimu masih mencintai kakakku."


Amara mengangguk saja. Sebenarnya ia merasa tak enak hati pada Agatha karena sudah mengecewakan Agatha. Namun mau bagaimana lagi, sampai saat ini hatinya masih saja meragu dengan kata cinta.


**


Tak berselang lama setelah kedatangan Agatha, dokter nampak masuk ke dalam ruangan perawatan Amara untuk mengecek kondisi Amara. Melihat hasil pemeriksaan kondisi tubuh Amara sudah semakin membaik dan suhu tubuhnya sudah berangsur normal, Amara pun sudah diperbolehkan pulang di sore hari.


Di saat waktu sudah beranjak sore dan Amara sudah siap untuk pulang, namun keberadaan Aga tak kunjung terlihat. Di dalam ruangan perawatan Amara hanya ada Ayah, Ibu, Naina, Zeline, Ziko dan Agatha saja.


"Ayo kita pulang, Mara." Ajak Naina setelah Amara duduk di kursi roda yang diberikan oleh perawat.

__ADS_1


Amara menganggukkan kepalanya. Sesekali ia menatap ke arah pintu ruangan yang terbuka seakan sedang menunggu kedatangan seseorang di sana.


Perawat yang bertugas mengantarkan Amara sampai ke lantai bawah pun mendorong kursi roda Amara keluar dari dalam ruangan perawatan. Anggota keluarga Amara termasuk Agatha pun mengikuti perawat dari belakang keluar dari dalam ruangan perawatan.


"Kak Aga sepertinya masih sibuk di kantor ya, Gatha." Ucap Naina sedikit berbisik pada Agatha.


"Iya, Kak. Kak Aga sedang sibuk memecahkan masalah yang terjadi saat ini."


Naina mengangguk paham. Bukan hanya Aga saja yang tengah sibuk saat ini. Tapi suaminya juga. Daniel ikut berperan membantu menyelesaikan permasalahan perusahaan Aga saat ini.


"Aku tidak bisa membiarkan Amara begini terus. Semakin lama dibiarkan, maka masalahnya akan semakin berlarut-larut." Gumam Agatha setelah masuk ke dalam mobil.


Sambil menunggu mobil Ayah Arif melaju lebih dulu dari mobilnya, Agatha memikirkan cara agar Amara bisa dengan cepat menerima lamaran kakaknya. "Mara, jika kau merasa sulit untuk menentukan pilihan saat ini, maka biarkan aku yang membantumu untuk bisa cepat dalam memilih."


**

__ADS_1


Dua hari sudah Amara keluar dari rumah sakit. Namun sampai saat ini sosok Aga tak kunjung menampakkan batang hidungnya di depan Amara. Bukan hanya tak menampakkan diri saja, Aga juga tak pernah menghubungi Amara hingga membuat Amara tanpa sadar meridukan pria itu.


"Kemana perginya Kak Aga. Kenapa dia tak kunjung datang ke sini?" Gumam Amara yang sedang beristirahat di dalam kamarnya malam itu.


Ting


Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya mengalihkan pandangan Amara ke layar ponselnya. Amara segera membuka pesan yang baru saja masuk dari Agatha.


"Amara, besok pagi kakakku akan berangkat ke luar negeri untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di perusahaan cabang. Dan sepertinya, Kak Aga akan menetap di sana dan entah kapan akan kembali ke negara ini karena Kak Aga sudah memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pemimpin perusahaan di sana." Gumam Amara dalam hati membaca pesan dari Agatha.


Deg


Jantung Amara seakan berhenti berdetak setelah membacanya. Ponselnya di tangannya pun terlepas begitu saja.


"A-apa... Kak Aga akan menetap di luar negeri?" Lirihnya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


***


__ADS_2