
"Apa? Siapa wanita itu? Apa wanita itu lebih baik dari pada Natasha?" Tanya Mama Tyas cepat.
"Tentu saja. Dia lebih baik dan bisa membuatku bahagia." Jawab Cakra.
"Benarkan begitu? Memangnya siapa wanita yang mau kau jadikan istri itu? Siapa keluarganya dan apa pekerjaannya?"
Cakra menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan sang mama. Kenapa ia merasa mamanya saat ini sangatlah memandang kasta calon wanita yang akan menjadi calon istrinya?
"Untuk saat ini Mama tidak perlu tahu siapa dia. Namun di saat waktunya sudah tepat nanti, aku akan membawanya datang ke hadapan Mama."
Mama Tyas mengepalkan kedua tangannya. Merasa tidak terima jika putranya sudah mendapatkan wanita yang akan menjadi calon istrinya. Ingin sekali ia mengatakan jika tidak ada satu pun wanita yang pantas untuk Cakra selain Natasha. Namun niat tersebut ia urungkan karena tidak ingin membuat Cakra jadi semakin melawan kepadanya.
"Sudahlah, Ma. Jika niat Mama meminta aku datang ke sini hanya karena untuk menjodohkan aku, lebih baik Mama batalkan saja niat Mama itu karena sampai kapan pun aku tidak akan menerima perjodohan dalam bentuk apa pun. Zaman sekarang sudah maju. Sudah tidak zamannya lagi perjodohan. Sebagai anak, kami berhak menentukan pilihan kami sendiri."
__ADS_1
"Berani sekali kau berkata seperti itu pada Mama!" Mama Tyas nampak sebal. Namun Cakra tak memperdulikannya.
Tidak ingin berdebat semakin lama, Cakra memilih pergi meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Syukur perutnya sudah diisi lebih dulu sebelum berdebat dengan sang mama sehingga ia memiliki energi untuk menjawab perkataan mamanya tadi.
**
"Ehem." Deheman Aga yang terdengar cukup kerasa membuyarkan lamunan Cakra tentang permintaan sang mama.
"Tuan Aga." Cakra menegakkan punggungnya. Menatap wajah datar Aga dengan tersenyum tipis. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanyanya.
"Ada. Tapi sebelum itu jawab dulu pertanyaan saya. Ada apa denganmu. Tumben sekali kau melamun di saat sedang bekerja seperti ini?"
Cakra jadi tidak enak pada Aga karena Aga mengetahui dirinya yang sedang melamun di saat bekerja. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sedang memikirkan apa-apa." Dustahya.
__ADS_1
Aga tentu tak percaya begitu saja. Ia kemudian mendesak Cakra untuk jujur.
Merasa tak bisa mengelak dari pertanyaan Aga, akhirnya Cakra menceritakan pada Aga tentang permintaan sang mama tadi malam.
"Oh, begitu masalahnya." Aga menganggukkan kepalanya. "Jika kau benar sudah memiliki wanita pilihanmu, maka segeralah perkenalkan dia pada Tante Tyas. Apa pun yang terjadi nantinya, kau harus bisa melewatinya. Jangan sampai karena keinginan orang lain, kau jadi tidak bahagia." Pesan Aga.
Cakra menganggukkan kepalanya. Ia juga sudah bertekad dalam hati jika ia akan memperjuangkan pilihannya saat ini walau wanita pilihannya sangat jauh dari kriteria sang mama.
"Kalau boleh saya tahu, siapa wanita pilihanmu itu. Apakah wanita itu adalah wanita yang bekerja di perusahaan ini juga?" Tanya Aga. Menaikkan sebelah alis tebalnya menunggu jawaban Cakra.
Cakra tertegun mendengarnya. Kenapa tuduhan Aga tepat sekali. Dan kenapa Aga bersikap layaknya orang kepo saat ini. Cakra jadi mengingat sikap Amara yang terkadang suka kepo juga.
"Hm?" Aga berdehem seakan tak sabar menunggu jawaban dari Cakra.
__ADS_1
"Ehem..." Cakra jadi ikut berdehem. Ia mulai merasa didesak saat ini.
***