
"Yang lain yang mana lagi?" Aga menatap Amara sambil menahan senyum.
Ditanya demikian oleh Aga, lantas saja membuat kepala Amara tertunduk menahan malu.
"Yang mana lagi, hem?" Kini ia mendekatkan wajahnya dengan Amara.
"Hehe, gak ada, Kak." Cicit Amara semakin malu.
Aga semakin mendekatkan wajahnya dengan Amara hingga membuat kedua kelopak mata Amara jadi terpejam.
"Kalau mau yang lainnya, nanti dulu setelah halal." Bisik Aga di telinga Amara.
Glek
Kedua kelopak mata Amara yang awalnya tertutup akhirnya terbuka kembali setelah mendengar bisikan Aga. Pipinya yang tadinya memerah kini semakin merona menahan rasa malu yang semakin bertambah.
Melihat ekspresi calon istrinya itu lantas saja membuat Aga tak dapat lagi menahan senyum.
"Kak Aga..." Amara berucap lirih. Sungguh malu sekali dirinya sudah meminta hal seperti itu pada Aga.
Sebelah tangan Aga terulur mengusap kepala Amara dengan sayang. "Aku ingin menjagamu sampai kita menikah nanti." Ungkap Aga.
__ADS_1
Amara jadi merasa haru mendengarnya. Untuk menghilangkan rasa malunya tadi, Amara pun memeluk tubuh Aga.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama. Memang sudah tugasku menjaga calon istriku dengan baik."
Tidak ada lagi sahutan dari Amara. Ia memilih memeluk erat tubuh Aga hingga akhirnya berpamitan keluar dari dalam ruangan kerja Aga untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Sungguh menggemaskan sekali calon istriku itu." Gumam Aga sambil menatap kepergian Amara.
**
Kedatangan Daniel dan keluarganya itu lantas saja disambut dengan senyuman merekah di wajah cantik Amara.
"Ada apa ini, kenapa sepertinya adik Kakak senang sekali?" Tanya Naina sambil mengusap lengan sang adik.
Amara tersenyum kaku. "Apa sangat terlihat ya, Kak?" Tanyanya dan diangguki Naina sebagai jawaban.
"Kenapa Anty, tuh? Seneng ya karena sebentar lagi mau nikah sama Om Aga?" Sahut Zeline.
"Tentunya dong centil." Jawab Amara cepat.
__ADS_1
"Ye... dasar Anty tuh gak sabaran mau jadi istri Om Aga." Ledek Zeline.
Amara menjulurkan lidah pada keponakan centilnya itu. "Biarin."
Naina yang melihat anak dan adiknya saling menjulurkan lidah saat ini pun dibuat menggelengkan kepala. "Kau ini, Mara. Sudah mau jadi istri orang tapi masih bersikap seperti anak-anak saja." Ucap Naina.
Amara jadi tertawa mendengarnya. "Habisnya anak Kakak sih ngeselin." Ucapnya membela diri.
"Enak aja bilang Zel ngeselin!" Si centil Zeline kini berkacak pinggang sambil menatap wajah Amara dengan sebal.
"Sudah, sudah. Kalian ini selalu saja." Naina memilih melerai adik dan anaknya sebelum perdebatan di antara mereka semakin berlanjut.
Kali ini Amara memilih mengalah kemudian mengajak Naina untuk masuk ke dalam kamarnya karena ada hal yang ingin ia bicarakan dengan kakaknya itu.
"Apa? Kau ingin meminta Daniel untuk membantu biaya operasi ibunya Sisil?" Tanya Naina setelah Amara mengatakan niatnya pada Naina.
"Iya, Kak. Menurut Kakak bagaimana? Apa mungkin Kak Daniel mau membantu?"
Naina menghela napas dalam-dalam. "Untuk itu Kakak tidak tahu pasti, Amara. Tapi Kakak rasa Daniel tidak akan mau karena sampai saat ini dia masih menaruh rasa tidak suka pada Sisil dan Ane. Dari pada mencari masalah nantinya, lebih baik kau urungkan saja niatmu meminta tolong pada Daniel. Sebagai gantinya, biar Kakak saja yang menyumbangkan dana untuk membantu Sisil."
***
__ADS_1