Jadikan Aku Pengganti Dirinya

Jadikan Aku Pengganti Dirinya
Kenapa Berhenti?


__ADS_3

Uhuk


Terdengar suara batuk untuk yang kedua kalinya.


Aga dan Amara lantas saja menoleh ke arah suara batuk itu berasal. Dan sesaat kemudian keduanya menghela napas setelah mengetahui siapakah orang yang terbatuk di belakang tubuh Aga.


"Cakra," Aga menatap datar wajah asistennya itu.


Cakra tersenyum menatap wajah Aga. "Maaf, sudah mengganggu Tuan." Jawab Cakra tanpa rasa bersalah.


Aga membuang napas kasar di udara. Sementara Amara menatap Cakra dengan tatapan penuh selidik.


"Apa penyakit musimanmu kambung lagi Tuan Cakra?" Tanyanya.


Cakra mengangguk cepat. "Suka kambuh tanpa diminta ini, Nona."


Jawaban Cakra lantas saja membuat kepala Amara menggeleng.


"Ada apa, kenapa kau keluar dari dalam ruangan kerjamu?" Tanya Aga sambil menahan rasa sebal sebab Cakra keluar di waktu yang tidak tepat.

__ADS_1


"Bukannya Tuan yang meminta saya datang ke ruangan Tuan?" Tanya Cakra.


Aga menghela napas dalam. Merutuki dirinya yang meminta Cakra datang ke ruangan kerjanya di saat Amara belum pulang.


"Kalau begit pergilah ke ruanga saya. Saya akan menyusul sebentar lagi." Ucap Aga.


"Baik, Tuan." Cakra segera beranjak meninggalkan Aga dan Amara. Sambil melangkah menuju ruangan Aga berada, Cakra menyempatkan tersenyum pada Amara.


"Kenapa makin hari Tuan Cakra semakin menyebalkan, ya." Rutuk Amara dalam hati.


Melihat kondisi di sekitarnya sudah aman, Aga pun melanjutkan niatnya yang ingin mengusap pipi Amara.


"Hati-hati pulangnya. Kabari aku kalau sudah sampai." Ucapnya lembut.


Aga menganggukkan kepalanya setelah melepaskan tangannya dari pipi Amara. Setelahnya ia meminta Amara untuk melanjutkan kegiatannya membereskan barang-barangnya.


"Aku pulang dulu, Kak." Pamit Amara setelah menyampirkan tas di bahu.


"Baiklah." Jawab Aga.

__ADS_1


Amara tersenyum kemudian melangkahkan kaki meninggalkan meja kerjanya.


Aga memilih tak langsung pergi ke arah ruangan kerjanya. Ia memilih menatap kepergian sang calon istri hingga akhirnya bayangan Amara lenyap oleh kotak besi yang akan membawa Amara menuju lobby perusahaan.


**


Suasana di dalam perusahaan nampak sudah sepi saat Aga dan Cakra baru saja selesai membahas rencana projek baru perusahaan.


Aga yang memiliki janji untuk menyusul Amara dan keluarganya ke sebuah mall pun memilih pergi meninggalkan perusahaan lebih dulu. Sementara Cakra, pria itu memilih membereskan barang-barangnya lebih dulu sebelum pergi meninggalkan perusahaan.


Keluar dari dalam perusahaan, Cakra melihat langit nampak hitam diikuti angin yang bertiup cukup kencang. Kalau prediksinya tidak salah, sepertinya akan turun hujan sebentar lagi.


Tak ingin tubuhnya terkena air hujan, Cakra segera berlari ke arah besement dimana mobilnya terparkir. Dan baru saja masuk ke dalam besement, Cakra sudah mendengar hujan turun dengan deras.


Tak ingin membuang waktu lama berada di dalam besement, Cakra segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya keluar dari dalam perusahaan.


Saat mobil baru saja melaju setelah keluar dari dalam perusahaan, pandangan Cakra tertuju pada halte bus yang berada di sisi kiri mobilnya dan memperlihatkan seorang wanita yang sedang berdiri sambil memeluk tubuhnya.


"Itu seperti Sisil." Gumam Cakra. Ia melambatkan laju mobilnya untuk memastikan jika pandangannya tidak salah. Dan setelah memastikan jika sosok itu benar adalah Sisil, Cakra pun memberhentikan mobilnya tepat di depan halte bus.

__ADS_1


"Kenapa aku memberhentikan mobilku di sini?" Gumam Cakra seakan tidak mengerti dengan jalan pemikirannya yang tiba-tiba saja ingin memberhentikan mobilnya tepat di depan halte bus.


**


__ADS_2