
Dari balik dinding kaca sebuah kamar hotel, Irma begitu menikmati pemandangan indah di depan matanya. Daun nyiur yang melambai-lambai seakan-akan memintanya tuk mendekat. Seburat jingga dengan sang surya yang perlahan mulai turun hendak menyembunyikan wajahnya di balik laut lepas, membuat suasana di tempat itu begitu indah. Para penikmat sunset pun tampak sedang berjalan di bibir pantai, menikmati sore mereka dengan menyatu dengan alam.
"Sedang apa?" Tiba-tiba sebuah suara dengan tangan yang melingkar di perut mengagetkan Irma, memeluknya dari belakang.
"Lihat sunset. Indah, ya!" Irma menunjuk ke arah matahari yang sudah berwarna jingga lalu melirik wajah sang suami yang bertengger di bahunya,
"Tidak lebih indah dari wanita yang sedang kupeluk," jawab Andre sembari menelengkan wajahnya, menatap wanita yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Gombal." Irma menepuk tangan yang masih melingkar di oerut dengan mata yang sudah menatap kembali bibir pantai.
"Kita ke sana, yuk!" Tiba-tiba Andre menarik lengan Irma, membawa wanita keluar kamar hotel yang baru di tempati mereka beberapa jam yang lalu.
"Mau ke mana?"
"Menikmati sunset," jawab Andre dengan rentetan gigi yang sengaja ia pamerkan.
Senyum lebar Irma mengembang begitu saja saat mendengar ucapan sang suami. Memang sudah sejak tadi ia ingin menikmati hamparan pasir dan deburan ombak langsung mengenai kaki telanjangnya. Namun, melihat Andre yang tertidur pulas setelah berkendara cukup lama dan berpacu dengan deburan ombak yang bergejolak dari tubuh mereka hingga keduanya kembali menikmati indahnya surga dunia, membuat Irma tidak berani membangunkan Andre dan keluar sendiri dari kamar hotel pun tak mungkin. Sehingga Irma hanya menikmati sunset dari balik kaca hotel yang menghadap langsung ke pantai.
Dengan saling bergandeng tangan dan kaki mereka yang dibiarkan telanjang, Irma dan Andre berjalan di tepi pantai dan disambut air asin serta embusan angin yang menyapa keduanya dengan sentuhan yang diberikan. Sepasang pengantin baru itu berbaur dengan orang-orang menikmati pesona pantai di sore hari dengan segala keindahan yang Tuhan ciptakan.
Rona kebahagian terpancar nyata, senyum pun terus tertampil dari dua sejoli yang sedang bermain kejar-kejaran di atas hamparan pasir putih itu.
"Dapat kau!" ujar Andre begitu berhasil mengejar Irma dan langsung mengangkat tubuh sang istri dan memabawanya memutar.
"Pusing, Mas. Turunin malu." Irma yang masih berada di atas pangkuan Andre, meminta lelaki itu untuk menurunkan tubuhnya.
"Kenapa mesti malu? Kita udah resmi juga. Yang masih berstatus pacaran aja gak ada malu-malunya," jawab Andre santai, sembari menurunkan tubuh sang istri secara perlahan.
__ADS_1
"Beda orang beda kepribadian, Sayang. Kita duduk di sana, yuk!" Irma menunjuk ke sebuah kursi panjang di bawah pohon yang sukup rindang. Dengan tangan yang sudah menggandeng mesra Andre, ia menarik lelaki itu untuk mengikuti langkahnya.
"Mbak, barusan ngomong apa?" tanya Andre, memastikan kalau ia tak salah mendengar.
Sayang? Lelaki itu terasa melayang. Dadanya tiba-tiba menjadi taman bunga yang bermekaran dipenuhi berjuta kupu-kupu. Bahagia sekali saat seorang yang dicintainya memanggilnya dengan kata 'Sayang'.
"Kita duduk di sana, Mas." Irma mengulangi ucapannya sambil menunjuk kursi yang ada beberapa meter di depan mereka.
"Sebelum itu," desak Andre.
"Beda orang beda kepribadian. Apa ada yang salah dengan ucapanku?" Irma memicingkan sebelah matanya ke arah Andre.
"Bukan itu yang kumaksud." Andre malah dibuat gemas sendiri oleh kelakuan sang istri yang seolah-olah tidak mengerti dengan maksud dan tujuan ucapannya.
"Sampai," ujar Irma begitu mereka tiba di kursi yang dituju. "Lalu?" tanyanya kepada sang suami sambil menarik lelaki itu untuk duduk di sampingnya.
Irma hanya tersenyum kecil. Lelaki di sampingnya pasti sangat kesal, sampai-sampai ia menyebut nama kepanjangan Irma. Bukannya mengucapkan apa yang ingin Andre dengar, Irma malah menyenderkan kepalanya di bahu kiri Andre. Memandang ke arah laut lepas yang nampak sangat indah dengan seburat jingga dan matahari yang sudah tenggelam setengahnya.
Akan tetapi, Andre yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya hanya bisa mendengus kesal. Tangan kanan lelaki itu pun langsung mendorong kepala sang istri, lantas berdiri.
"Mau ke mana?"
"Cari orang yang mau panggil aku 'sayang'," ujar Andre seraya membuang muka dan meninggalkan Irma.
"Ih, ngambeknya gitu amat. Awas entar pulang-pulang telurnya pecah lho!"
Andre tak menjawab, ia terus berjalan meninggalkan Irma sendirian yang masih betah menikmati acara matahari tenggelam. Ia yakin lelaki itu tidak akan meninggalkannya.
__ADS_1
Tidak selang berapa lama, Andre kembali dengan makanan di tangan. Dua cup mie panas, dua biji sosis bakar ukuran besar dan air mineral dan beberapa cemilan yang cukup membuatnya kesusahan.
"Mbak, ini, suami ngambek bukannya disusul dibaik-baikin malah dikecengin," ujar Andre sambil meletakkan makanan yang dibawanya di atas kursi. "Mau yang mana?" tanyanya lagi menenteng dua cup mi.
"Tanpa disusul pun balik lagi, kan," jawab Irma sambil mengambil satu cup mi dari tangan kanan Andre.
"Kalau aku gak balik?"
"Pasti balik." Irma memamerkan senyum termanisnya, lalu menikmati mi yang dibawa Andre.
Keduanya pun menikmati sunset sambil menyantap makanan yang dibeli Andre.
"Menikmati sunset dengan seseorang yang menjadi imam adalah suatu impianku. Terima kasih, sudah mau menemaniku. Aku sangat-sangat mencintaimu, Imamku tersayang."
"Untuk yang ini aku tak berbuat banyak, semuanya berkat Naura," ujar Andre seraya merangkul Irma dan mengecup pucuk kepala sang istri.
"Tapi kalau tidak ada kamu semua ini juga tidak akan terwujud," ujar Irma lagi sembari menyodorkan satu tusuk sosis ke mulut Andre.
Tiba-tiba senyum Andre mengembang lebar, melihat sosis yang sudah dibaluri saus dan mayones itu. Pikirannya seketika melayang ke masa-masa saat ia suka mengolok-olok adik iparnya dengan makanan yang ada di depan mata.
Irma mendongak, mendapati sosis yang disodorkannya masih utuh. "Aaa .... bukannya di makan malah senyum-senyum gak jelas." Ia memasukkan sosis itu ke mulut yang sedang pamer gigi. Andre pun langsung menggigit makanan olahan daging tersebut.
"Aku hanya teringat adik iparku, kira-kira dia sedang apa, ya? Tadi pas kita berangkat bendungannya udah mau jebol," ujarnya dengan tangan yang masih merangkul sang istri.
"Iya, dia sedang apa, ya? Mungkinkah ia akan berhasil membujuk Dimas?" timpal Irma.
Keduanya ingat betul saat sarapan bersama, Naura merajuk kepada Dimas untuk ikut bersama Andre dan Irma.
__ADS_1