
"Aku menyukainya, bahkan lebih dari itu. Aku mencintai Andre, De." Irma mengakui perasaannya. "Tapi ... lihatlah! Apa pantas wanita sepertiku untuk dia? Bahkan statusku pun sudah menjadi tembok besar, ditambah lagi laporan dokter yang mengatakan aku tak bisa memiliki anak. Apa dia mau menerima wanita tak sempurna sepertiku?" Tangisnya kembali pecah, mengingat cinta yang tumbuh semakin dalam, tetapi tembok penghalang itu selalu menjadi momok yang sangat mengerikan.
Naura menarik kembali Irma ke dalam pelukannya, membiarkan sang kakak menumpahkan tangis dibahunya. Sebenarnya, ia bingung harus menjawab apa, karena keterkejutannya menerima kenyataan yang disembunyikan Irma. Ibu hamil itu hanya bisa mendengarkan curahan hati Irma yang selama ini dipendam sendirian, hingga air matanya pun tak bisa untuk tidak menetes.
'Kenapa nasibmu seperti ini, Kak? Aku juga bingung harus apa? Karena semuanya kembali kepada pasangan kita masing-masing.'
"Aku mencintainya, De. Aku tak suka saat dia mendiamkanku. Aku juga tak suka saat dia memeluk orang lain. Tapi, aku juga tak mungkin membawa dia ke dalam duniaku yang tak memiliki masa depan. Apa yang harus aku lakukan?"
Naura mengusap air matanya, tak mau membuat Irma semakin sedih, lalu mengurai pelukannya. Ditatapnya Irma yang sudah berderai air mata, "Jangan menangis lagi! Ada adikmu di sini yang akan selalu mendukungmu. Kita selesaikan semua ini sama-sama." Naura mengusap air mata Irma yang terus mengalir di pipi putih yang sudah kemerahan karena menangis itu. "Tuhan tidak akan memberi kita ujian dibatas kemampuan kita. Kita pasti bisa melewati ini," ucapnya seraya menampilkan seulas senyum, meskipun hatinya juga terasa sangat sakit.
"Jodoh dan maut kita sudah ditentukan sejak kita masih dalam kandungan. Jodoh yang Tuhan kasih, pasti akan menerima kekurangan dan kelebihan kita. Jadi, Kakak gak perlu takut, kita hanya perlu berikhtiar dan selebihnya kita berikan kepada Sang Pemberi Jodoh. Percayalah, rencana Tuhan itu pasti lebih indah!"
Irma mengangguk, mengiakan ucapan Naura, lalu memeluk adiknya kembali. "Terima kasih."
__ADS_1
"Terima kasih untuk apa?"
"Kamu telah menjadi adik yang selalu ada untuk kakak."
Anggukan kepala terasa di bahu Irma. "Jangan ada yang dirahasiakan lagi dari aku, ya! Kita saudara, kita lahir dari rahim yang sama sudah seharusnya kita hidup saling berbagi suka dan duka." Irma pun juga mengangguk. "Asal jangan berbagi suami. Aku gak rela, sampai mati pun suamiku tak akan aku bagi dengan siapa pun," seloroh Naura yang langsung mendapat jitakkan dari Irma.
"Emang siapa juga yang mau sama suamimu?"
"Banyak, tapi gak akan aku biarkan mereka mendapatkannya."
"Bukanlah, orang dirimu sudah kecantol sama yang ada di balik pintu."
"Siapa di balik pintu?" Irma langsung berbalik badan, melihat ke arah pintu yang terbuka sedikit dan tak tampak siapa pun.
__ADS_1
"Entahlah, liat saja sendiri!" jawab Naura.
Penasaran, Irma pun beranjak dari tempat tidur untuk melihat siapa di balik pintu.
"Sebaiknya bicarakan baik-baik dengan dia, sebuah hubungan yang diawali saling keterbukaan biasanya akan lebih mudah mendapatkan solusi. Jika dia tulus mencintai Kakak, dia pasti menerimamu tanpa syarat." Naura yang tahu orang di balik pintu itu kembali berujar, bahkan ia sengaja mengeraskan suaranya supaya lelaki yang berdiri di balik pintu—semenjak Irma mengakui perasaannya—bisa mendengar ucapannya.
"Apa dia ada di sini?" selidik Irma.
Naura hanya menggerakkan bahunya, tanpa menjawab ya atau tidak, "Lihat saja sendiri!"
"Tak mungkin kan dia ada di sini? Ara pasti hanya mengerjaiku," gumam Irma pada dirinya sendiri, sembari mempercepat langkahnya untuk membuktikan kebenaran ucapan Naura. "Kau!" Betapa terkejutnya Irma saat dirinya membuka pintu dan di hadapannya berdiri Andre sembari tersenyum kikuk kepadanya karena ketahuan menguping pembicaraan mereka.
"Hai! Apa aku mengganggu, ya?" tanya Andre dengan begitu polos.
__ADS_1
"Enggak. Dari tadi peluk-pelukkan mulu kayak teletubis, buat aku butuh pelukan yang lain. Kasihan kakakku tidak ada teman, jadi mumpung belum terlalu malam-malam banget, ajaklah kakakku ini menghirup udara malam," ujar Naura sembari mendorong Irma untuk keluar dari ambang pintu, "Ini tempat terlarang buat kalian. Bicaranya di luar saja!" lanjutnya, lalu menutup pintu kamar.