
Dengan menggunakan jubah mandi serta handuk yang melilit rambut basahnya, Irma keluar dari kamar mandi. Lalu, bergegas menuju lemari jati berwarna cokelat, tempat pakaian Andre bersemayam.
"Mas, ponselmu bunyi," ujar Irma yang semenjak keluar kamar mandi mendengar ponsel suaminya terus berdering, tetapi tak kunjung diambil.
"Mamah yang nelpon," jawab Andre, tanpa ada niatan menjawab panggilan itu.
"Angkat, dong!"
"Nanti saja, pasti yang dibahas tidak jauh dari kapan bawa menantu kesayangan pulang."
Satu lagi yang membuat hidup Andre terasa begitu sempurna, yakni luluhnya hati Rita dan menerima Irma kembali tanpa syarat. Semua itu berawal sejak dua hari kepulangan Andre dan Irma dari bulan madu. Waktu itu, Rita sedikit luluh dengan seabreg oleh-oleh yang Irma berikan untuk seluruh keluarga Andre. Rita terenyuh dengan kebaikan Irma yang mengingat seluruh keluarga termasuk dirinya, meskipun Rita tidak pernah bersikap baik kepada Irma. Hati wanita paruh baya itu pun semakin luluh saat melihat pengorbanan Irma yang tanpa ragu menyelamatkannya dari sebuah kecelakaan yang hampir saja melukainya. Sang menantu dengan suka rela menjadi tameng, tanpa berpikir dua kali.
Saat itu Irma dan Andre sedang mengantar Rita dan Friska membeli keperluan yang akan dibawa pulang kampung. Rita yang membuka usaha toko pakaian di rumahnya, berniat membeli bahan jualan dari sana karena harganya terbilang sangat miring daripada harga di tempat Rita. Di tengah kesibukan mereka mencari pakaian dari berbagai toko, tiba-tiba sebuah insiden hampir mencelakai Rita.
"Mamah, awas!" teriak Irma sembari mendorong Rita untuk menjauh saat melihat sebuah papan iklan runtuh.
Rita selamat. Namun, nahas Irma kurang cepat, kakinya pun tertimpa papan itu. Irma yang terluka terpaksa harus di bawa ke rumah sakit dan beberapa hari kakinya harus istirahat total karena tulangnya bergeser.
"Kenapa kamu nyelamatin mamah?" Kala itu Rita terus menangis, melihat keadaan Irma karena menolongnya.
"Karena Mamah adalah mamahku. Sudah seharusnya aku melindungi Mamah. Namun, jika pun orang lain pasti aku juga melakukan hal yang sama."
"Tapi untuk apa menolong orang jahat seperti mamah? Mamah sudah sangat jahat sama kamu? Mamah telah menjadi orang tua yang gagal, tidak bisa memberi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Mamah orang paling egois di dunia ini. Seharusnya kamu itu senang kalau mamah celaka, bukan malah menolong mamah. " Air mata Rita tak bisa lagi terbendung, pertahanannya jebol, mereka keluar seiring penyesalan Rita yang sudah memperlakukan Irma tidak adil hanya karena tidak bisa punya anak.
"Mamah bukan orang jahat dan tidak pernah berbuat jahat. Mamah adalah orang yang baik yang menyayangi anak-anaknya. Aku tahu, Mamah seperti itu karena Mamah sangat sayang kepada anak-anak mamah."
"Maafkan, mamah. Mamah berdosa sama kamu. Mamah menyesal." Dengan berlinang air mata, Rita menangkup kedua tangan Irma, memohon ampun. Keduanya pun saling memaafkan dan berpelukkan, tidak ada lagi benteng kokoh yang menghalangi hubungan antara mertua dan menantu.
__ADS_1
Semenjak saat itu, hubungan Irma dan Rita membaik seperti dulu lagi. Bahkan,
Irma telah menjadi menantu kesayangannya.
"Mas, angkat teleponnya!" perintah Irma lagi kepada Andre, melihat ponsel terus berdering tanpa henti. Sementara, Irma membuka lebar pintu lemari hendak mengambil pakaian yang diminta si suami.
Namun, tiba-tiba tubuh Irma mematung dengan mata yang seolah-olah akan loncat saat lemari dengan ukiran-ukiran indah itu berhasil ia buka lebar, sedangkan lelaki yang masih setia berdiri di belakangnya sudah dalam sikap waspada. Kedua tangan Andre sudah menempel rapat di kedua telinga.
Tersentak dengan pemandangan di depan mata, spontan, Irma memutar langsung tubuh dan menatap tajam sang suami.
Seperti dugaan Andre, suara Irma pun melengking memenuhi kamar mereka. "Mas!" teriak Irma. "Mas, ini isi lemari diapakan?" Wanita itu menunjuk isi lemari yang sudah tidak beraturan.
"Nyari seragam, Sayang," jawab Andre sambil nyengir kuda. "Kan, aku gak tahu kalau bajunya udah di atas kasur. Tadinya aku gak mau ganggu kamu yang masih berendam, jadi nyari sendiri," jelasnya.
'Ya, Tuhan. Kenapa hari ini dia doyan banget bikin kekacauan?'
"Mas, Sayang, Cintaku, Suamiku, Imamku, kalau mau ngambil baju, angkat dulu yang atas baru ambil yang dipakai. Jangan langsung tarik aja! Semeberawut kan jadinya?" ucap Irma dengan senyum yang terkesan dipaksakan, sembari mengambil pakaian dalam milik Andre.
"Baik, Sayang. Maafkan aku, ya!" Andre mengangguk dan sejurus kemudian menangkupkan kedua tangan di depan dada, meminta maaf, dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin.
Irma tak menanggapi, ia lebih memilih menyodorkan pakaian yang diambil. "Ini pakaian dalamnya!"
"Kalau yang ini dari tadi aku udah nemu, yang aku cari pakaian dalam yang warna cokelat, Cintaku, Istriku, Makmumku," jawab Andre dengan menyebut berbagi nama kepemilikannya juga.
"Pakai yang ada aja, yang cokelat masih di keranjang kotor." Irma meraih tangan kanan Andre, lalu meletakkan pakaian dalam berwarna hitam dan putih di tangan si suami. Perintah ibu negara tidak mau dibantah. "Tapi, kalau mau pakai baju kotor, tak masalah. Biar aku ambilkan," lanjutnya.
"Enggak ini aja." Andre langsung menolak mentah-mentah.
__ADS_1
"Bagus!" Irma mengacungkan kedua jempolnya, lalu membereskan baju yang sudah tidak karuan itu. Sementara itu, Andre pun bergegas memakai pakaian yang diberikan si istri.
Irma menata kembali pakaian, hingga tumpukkan pakaian itu rapi kembali seperti sedia kala. Namun, di rak tengah sepertinya pakaiannya itu habis dilanda angin ribut, membuat Irma harus melipat ulang. Ia pun mengeluarkan pakaian itu, lalu melemparkannya ke atas kasur.
"Sebaiknya yang ini nanti saja dibereskan nanti saja," ujar Irma. "Eh, ini apaan?" Setelah rak itu bersih, Irma melihat sebuah amplop coklat tergeletak di sana dengan sebuah kotak beludru di sampingnya. "Mas," panggil Irma, pelan, tanpa melepaskan pandangan dari dua benda di depannya. Ia pun lantas meraih dua barang tersebut.
Tiba-tiba tangan Andre melingkar di perut si Irma, membuatnya yang sedang tersentak semakin tersentak saja. "Selamat ulang bulan pernikahan, Humairahku!" ujarnya sambil menelengkan wajah dengan sebuah kecupan mendarat di pipi Irma.
"Ini hadiah ulang bulan pernikahan untukku?" Irma memutar tubuh, menunjukkan dua benda yang ada di tangannya.
"Yang ini doang." Andre mengambil kotak bludru di tangan Irma, lalu membuka dan memakaikan benda yang ada di dalamnya. "Kalau yang coklat, jatah sebulan. Gimana suka?" tanya Andre, melihat sebuah gelang baru melingkar di tangan si istri.
"Suka. Makasih." Wajah Irma berbinar mendapati gelang cantik melingkar di tangannya. "Tapi, gak suka dengan cara ngasihnya. Masa iya, aku harus beresin baju yang menggunung itu." Irma menunjuk pakaian Andre di atas kasur.
"Kan biar ada perjuangannya." Andre berseringai lebar. "Jangan lupa aku juga nunggu hadiahnya!" lanjutnya dengan alis yang sudah dimainkan naik-turun.
"Mudah-mudahan gak berjuang lagi sampai minggu depan juga," imbuh Irma sambil mengancingkan baju Andre, tahu ke mana maksud perkataan si suami.
"Ya, jangan, dong!"
"Kan biar ada perjuangannya juga." Irma mengulang pembicaraan Andre sembari memeletkan lidahnya, mengejek.
"Kalau gitu sekarang aja, kalau nanti takutnya verboden datang lagi." Andre menarik pinggang si istri, membuat Irma yang sedang mengancingkan kancing terakhir tersentak saat tubuh mereka saling menempel. "Bagaimana?" tanyanya lagi.
'Bisa-bisa aku jantungan kalau dibikin kaget terus,' rutuk Irma dalam hati.
"Jangan aneh-aneh! Sebentar lagi berangkat kerja, ditambah lagi belum sarapan." Irma memukul pelan dada sang suami.
__ADS_1
"Kalau gitu bilangin sama tamunya jangan dulu datang!" imbuh Andre sembari menoel hidung sang istri.